LOGINMelihat seseorang dari kejauhan dan rasanya tidak asing. Akhirnya memutuskan untuk berhenti.Isaac berlari saat tendakan itu akan segera tiba. Akhirnya ia yang terkena tendangan dari perempuan aneh yang memaki Ava.“Akh!” keluh Isaac mundur sembari memegangi kakinya.“Kau baik-baik saja?” tanya Ava menarik Isaac mundur.“Aku baik-baik saja.” Isaa mengangguk pelan kemudian menatap wanita di hadapannya.“Berhenti mengganggunya! Urusi kasusmu, aku yakin kau tidak akan lolos dengan mudah!” ucap Isaac dengan lantang pada Dina.Akhirnya ia mengingat siapa wanita di hadapannya ini. “Bantu saja orang tuamu dan jangan mengusik Ava.”“Kau!” Dina memandang Isaac. “Kau bocah, kau tidak tahu apapun. Pantas saja kau menjadi angkuh, orang tuamu terlalu memanjakan bocah sepertimu.”Isaac memutar bola matanya malas. “Tidak usah banyak bicara, pergilah!” usirnya.Isaac memberi kode pada satu orang yang bertugas sebagai sopir sekaligus bodyguardnya.Dina menatap kesal pada Ava dan akhirnya memilih pergi
“Salah satu pendiri sekaligus pemegang saham tertinggi di firma hukum BAP, menjadi tersangka atas laporan pelecehan pada beberapa pegawai kasar di kantor.”“Tidak hanya itu, dia juga bersalah atas kasus dulu yang melibatkan dua perusahaan besar. Gunawan menerima suap atas kasus tersebut dan mundur dari persidangan yang tengah berjalan.”Serena menggeleng. “Dasar bajingan gila, menyebarkan gosip putrinya yang berhianat lalu menumbalkanku. Sementara dirinya ada dibalik kekacauan itu. picik sekali!”Presenter kembali berbicara “Sehingga membuat perusahaan D rugi sangat banyak. Sekarang, kasus masih berjalan dan ditangani oleh kejaksaan pusat.”Pembawa berita harian di televisi itu berpindah tempat, kemudian layar menampilkan profil seorang perempuan.“Dari mana kasus ini berasal? Dari seorang perempuan yang bernama Serena Jane, yang merupakan istri dari pengusaha besar, Martin Raxter Benson.”“Serena Jane bekerja di GAP dan mendapatkan banyak diskriminasi, bahkan perundungan kerja dan fi
Martin mendekat lalu mengambil duduk di samping istrinya dan mencium pipi istrinya pelan.Kemudian menoleh karena mendapatkan tatapan yang aneh.“Kenapa kau?” tanya Martin.Miko tersenyum, kemudian menggeleng. “Pertama kali bertemu dengan kalian, kalian sangat sopan tapi sekarang—”Miko berhenti menyadari siapa Martin dan Serena, hampir saja menganggap dua orang penting itu teman mainnya.“Sekarang apa?” tanya Serena berdecak.“Tidak,” balas Miko sembari menampilkan senyumnya. “Sekarang sangat romantis.”Martin memeluk pinggang Serena dari samping, lalu menatap Ava dan Miko bergantian.“Kalian baik-baik saja?” tanya Martin.Ava mengangguk pelan dengan wajah yang sembab. “Saya baik-baik saja,” jawabnya dengan mengusap wajahnya sendiri.Lalu Martin menatap Miko. “Saya—” jawaban Miko terpotong.“Tidak perlu aku pastikan, kau pasti baik-baik saja. Penjagaan di rumahmu bahkan lebih ketat dari mansionku.”Miko menyipitkan mata, kemudian menggeleng. “Tidak,” balasnya masih mengelak.Lalu mel
*1 bulan yang lalu.“Bu..” rengek Miko setelah 20 menit berlalu.“Bu Serena..” panggilnya lagi seperti memanggil ibunya sendiri.Serena melirik Miko, lalu berdiri dari duduknya. “Ayo cari dia,” ucapnya lalu mengambil jasnya.“Eh!” Miko buru-buru mendekat. “Cari siapa?”“Cari Ava,” balas Serena kemudian keluar dari kantornya.“Tutup kantornya sekarang, dan kunci semuanya dengan rapat!” perintah Serena pada Miko.Semenjak Serena hamil, pak Asep stand by di dekatnya. Pak Asep menunggu sampai Serena pulang.Karena terkadang, Serena ingin makan sesuatu dan pergi ke tempatnya langsung. Karena Martin khawatir Serena terlalu lelah berjalan atau naik transportasi umum, jadi menugaskan pak Asep di kantor Serena.Meski membayar biaya parkir lebih mahal daripada membayar sewa kantor Serena.“Pak, Asep tadi lihat Ava?” tanya Serena.“Lihat nyoya, dia berjalan sembari menangis ke arah sana. Tadi saya tanya kenapa dia hanya menggeleng.”“Kejar ya, pak. Ada salah paham tentang dia dan saya,” jelas Se
“Dia di usir, dia sekarang sedang berjalan sembari menangis,” ucapan seseorang dari telepon.Gunawan tersenyum puas. “Bagus, aku yakin mereka tidak akan bisa menututku,” ucapnya.Kemudian memainkan rokok yang berada di sela jarinya. “Berani-beraninya si bajiingan itu mengumpulkan bukti,” lirihnya. “Cari bajingan itu dan serahkan padaku.”“Baik, pak!” ucap seseorang di balik telepon.Gunawan tersenyum dengan penuh kemenangan. Lantas ia menyalakan televisi yang menampilkan seorang perempuan bergumul dengan pria.“Aku butuh perempuan cantik,” ucapnya kemudian berdiri.Lantas keluar dari ruangannya.Menatap sekitar dan melihat satu seorang petugas kebersihan yang sibuk mematikan lampu.Bibirnya yang keriput itu mulai tersenyum dengan senang.Wanita yang tidak terlalu tua, sangat pas, dengan tubuh yang masih bagus. Seketika, air liur Gunawan terasa semakin penuh di dalam mulutnya.Lantas ia buru-buru mendekat.“Permisi, kamu bisa ke ruangan saya? Di sana sedikit berantakan,” ucapnya pada p
“Untuk apa memanggil saya?” tanya seorang perempuan pada seorang pria paruh baya di hadapannya.“Ava, kamu juga anakku. Sudah sepantasnya aku memanggilmu. Bagaimana kabar ibumu?” tanya Gunawan, pemilik dari Firma hukum GAP (Gunawan and Pantners).Ava mengepalkan tangannya di sisi kanan dan kiri. “Sekian lama anda baru menyadari saya anak anda?”Gunawan tersenyum, kemudian bangkit dari bangku kerjanya.Lalu mendekati putrinya yang ternyata sudah tumbuh menjadi perempuan yang cantik.“Kau persis seperti ibumu,” ucap Gunawan.Ava berdecih pelan, kemudian memandang ruang kerja Gunawan yang benar-benar mewah.Apa gunanya menjadi anak Gunawan dari pemilik firma hukum besar yang menaungi banyak kasus. Karena dirinya hanyalah anak haram yang tidak diakui.Sepintar apapun dan sebaik apapun tidak akan dianggap. Karena Gunawan akan memprioritaskan kakaknya, Dina untuk bekerja dan akhirnya meneruskan firma hukum ini.“Kenapa berhenti kuliah? Uang yang aku berikan kurang?” tanya Gunawan dengan per
“1 jam.”“Hm?” Serena kebingungan. “Yang jelas-jelas saja, Martin. Jangan membuatku bingung, aku sudah lelah belajar dan kau membuatku semakin lelah.”Martin setengah menekuk lututnya untuk menyamakan tingginya dengan Serena. kemudian mendekatkan bibirnya tepat di belakang telinga Serena untuk mema
Serena meyakinkan dirinya sebelum berangkat ke tempat golf karena dia hanya akan menganggap bermain golf sebagai pengalaman. Pertama kali sampai, Serena berkenalan dengan tiga teman-teman Martin yang merupakan pengusaha.Sepertinya usia mereka tidak jauh berbeda dengannya dan Martin.“Serena.” Sere
Krik-krik.Diam, Bela hanya mengedipkan mata beberapa kali sembari menatap Miko. Sedangkan Serena menyipitkan mata dan otaknya berpikir keras untuk membuat alasan masuk akal untuk membantah ucapan Miko.“Kau bilang apa?” tanya Bela seperti baru bangun dari lamunan.“Saya bilang, Pak Martin dan Bu S
“Itu penyiksaan, Serena. Kau apakan kekasih barumu?” tanya Bela yang datang membawa dua bungkus makanan beserta minuman.Bela menatap Miko yang sedang mengusap telinga. Miko menatapnya dengan melas, seolah sedang meminta pertolongan.“Saya bukan kekasih, bu Serena, Tapi saya pegawai bu Serena.” Mik







