“Aku tidak dengar!” Martin menutup pintu kamar Serena, namun tidak lama kepala Martin menyembul di balik pintu. “Ingin aku bantu berganti pakaian?”“Tidak! Aku bisa sendiri!”Martin berhenti sejenak, kemudian menyunggingkan senyum khasnya yang bagi Serena begitu menyebalkan dan meledek. “Panggil aku jika butuh sesuatu.”“Tidak akan!” balas Serena semakin galak.Tetapi Martin tidak menanggapi ucapan pedas Serena dengan kemarahan, justru hanya tertawa kemudian menutup pintu kamar Serena dan pergi ke kamarnya sendiri.“Ada apa dengannya, kenapa marah-marah terus.” Martin menggeleng pelan karena ia tidak tahu alasan Serena marah.Keesokan harinya, Serena menolak dibawa ke rumah sakit oleh Martin. Karena katanya, Serena memiliki tempat yang lebih baik untuk menyembuhkan kaki yang terkilir.Karena Martin tidak yakin dengan Serena, akhirnya ia ikut untuk memastikan tempat yang dimaksud Serena benar-benar aman dan terjamin.“Aku bisa sendiri, kau bisa langsung ke kantor,” ucap Serena dibantu
Read more