17++Bukan melampiaskan kemarahannya pada sebuah arguman yang akhirnya membuat hubungan mereka semakin memburuk.Martin menahannya, atau mungkin dirinya yang enggan mengulik lebih dalam tentang Serena dan Gideon.Tapi sudah ia pastikan, ia marah.Ciumannya semakin dalam dan tidak memberikan Serena jeda sedikitpun.Sampai ia berhenti karena Serena yang kehabisan napas.Di meja dapur dan dengan penerangan satu saja. Cahaya yang menyinari mereka tidak terlalu cerah.Namun justru penerangan yang terkesan remang itu menyulut api dari dalam tubuh mereka berdua, panas.“Kau tahu,” lirih Martin mengusap helaian rambut Serena ke belakang.“Aku tadi ingin sekali menghajar Gideon, namun aku masih menahannya,” lanjut Martin kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Serena.Serena terdiam lalu menahan napas saat bibir Martin menciumi bahunya.Lembut dan basah, kecupan yang singkat namun berkali-kali.“Lalu apa kau memikirkan perasaanku?” tanya Serena mendongak dengan mata yang terpejam.Tangannya pe
Baca selengkapnya