“Tidak, Mas,” bisik Anya berbohong. Sudah tidak sanggup lagi rasanya berdebat dengan suaminya.Permainan menyakitkan Gusti pun dimulai. Anya hanya bisa meringis tiap kali pria itu menggunakan tubuhnya hanya untuk memuaskan hasrat. Tidak ada hal lembut yang bisa Anya rasakan, tidak seperti apa kata wanita di dalam pesan itu. Bukannya kelembutan, Anya harus menahan sakit ketika Gusti mulai menggunakan benda-benda lain. Benda-benda yang sering melukai tubuhnya. Namun, semakin Anya meringis dan menangis, permainan Gusti pun semakin mengganas. Setelah puas, Gusti meninggalkan Anya begitu saja di atas kasur. Pria itu bergerak ke kamar mandi.Anya hanya bisa terkulai lemas dengan air mata yang turun perlahan. Sungguh egois, membersihkan istrinya saja enggan, pikir Anya. “Anya,” panggil Gusti setelah keluar dari kamar mandi. “Jangan lupa, besok ada undangan makan malam di rumah Kakek. Pakai baju yang benar, jangan memalukan aku di depan keluarga besar."“Besok, Mas?”"Iya! Kenapa? Kamu mau
Última actualización : 2026-02-10 Leer más