LOGIN"Paman, dia keluar! Jas ini …!" Anya buru-buru melepas jas wol itu dengan tangan yang gemetar hebat.
Bagas menerima jasnya dengan gerakan sangat tenang. "Tenanglah, Anya. Atur napasmu."
"Paman harus pergi, cepat!" bisik Anya panik, matanya terus melirik ke arah pintu perpustakaan yang mulai terbuka.
"Aku pergi. Ingat pesanku," Bagas memberikan satu anggukan mantap sebelum menghilang ke taman belakang dengan langkah tanpa suara, meninggalkan aroma cendana yang masih melekat kuat di kulit Anya.
Anya berdiri mematung di posisi semula. Ia menghirup napas panjang, mencoba menetralkan degup jantungnya tepat saat Gusti melangkah keluar.
Pintu perpustakaan tertutup dengan dentuman yang bergema, terasa hingga ke ulu hati Anya.
"Anya? Masih di sini?" Gusti menghampirinya, matanya menyipit penuh selidik. Ia melangkah mendekat, memperpendek jarak hingga Anya bisa merasakan hawa dominasi yang selalu dibawa suaminya itu.
"Iya, Mas. Seperti perintahmu," jawab Anya berusaha setenang mungkin.
Gusti mendengus, lalu merangkul pinggang Anya dengan kasar, menyeretnya menuju mobil. "Ayo pulang. Papa setuju dengan ide ekspansi proyekku. Aku sedang dalam suasana hati yang baik. Jangan sampai kamu merusaknya di rumah nanti."
***
Di sepanjang perjalanan pulang yang sunyi, Anya menatap jendela mobil yang dibasahi rintik hujan. Pikirannya melayang kembali ke sebuah sore, tiga bulan yang lalu. Momen yang baru ia sadari adalah awal dari segalanya.
Saat itu, di sebuah acara lelang amal, Gusti meninggalkannya sendirian di meja pojok setelah mempermalukannya di depan kolega bisnis karena Anya salah mengenali jenis kain sebuah syal yang dilelang.
"Bodoh. Kamu hanya perlu diam kalau tidak tahu apa-apa!" bisik Gusti kala itu sebelum melenggang pergi.
Anya yang merasa rendah diri berniat meninggalkan aula. Namun di pintu keluar, Bagas sudah berdiri di sana, seolah-olah memang sedang menunggunya.
"Mau lari ke mana, Anya?" tanya Bagas tenang.
"Aku hanya ingin pulang, Paman. Aku tidak cocok di sini." Air mata Anya berlinang perlahan.
"Duduklah. Minum jus jeruk ini. Kamu tahu? Syal itu memang membingungkan bagi siapa pun yang tidak mengerti sutra murni. Gusti hanya ingin terlihat pintar dengan merendahkanmu." Bagas tidak membiarkannya pergi. Ia justru membimbing Anya kembali ke bar.
"Kenapa Paman membela aku? Aku memang mempermalukannya." Anya menatap Bagas dengan heran.
"Memalukan?" Bagas menggeleng, lalu menatapnya dengan intensitas yang membuat Anya salah tingkah. "Gusti tidak menghargai berlian karena dia terlalu sibuk mengumpulkan batu kali."
Ucapan itu cukup membekas di benak Anya. Sejak menikah dengan Gusti, ia benar-benar tidak pernah mendapatkan kehangatan selayaknya seorang istri.
Namun, kehadiran Bagas justru seolah menjadi secercah harapan bagi Anya. Meski ia masih tidak tahu bagaimana bentuk harapan itu nantinya.
Anya melamun selama perjalanan pulang sambil sesekali melirik suaminya dari ujung mata.
***
Sesampainya di rumah, Gusti melempar kunci mobilnya ke meja marmer dengan kasar. "Anya, kemari!"
Anya mendekat dengan ragu. Gusti merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan sutra berwarna hitam yang tampak mahal.
Sapu tangan itu terjatuh dari saku jas Bagas saat Anya terburu-buru melepas jas di koridor tadi, dan Gusti memungutnya tanpa tahu siapa pemilik sebenarnya.
"Ini milikmu?" tanya Gusti sambil menunjukkan sapu tangan itu. Tidak ada inisial yang terlihat jelas dalam remang cahaya, namun kainnya terasa sangat halus.
"Iya, Mas. Itu milikku. Mungkin jatuh saat aku menunggumu di koridor," jawab Anya, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu itu milik Bagas, tapi ia tidak boleh membiarkan Gusti tahu.
"Barang murahan. Lain kali, jangan pakai barang-barang yang mudah tercecer seperti ini. Kamu memalukan kalau Papa sampai melihat istrinya menjatuhkan kain sampah di koridor rumahnya." Gusti melemparkan sapu tangan itu ke wajah Anya.
Anya menangkap kain itu, meremasnya erat. Ia merasa lega sekaligus perih. Gusti bahkan tidak mengenali barang milik pamannya sendiri karena ia terlalu sibuk menghina Anya.
Anya pun tahu. Bagi Gusti, segala hal yang melekat pada Anya adalah murahan, sekalipun itu adalah sutra terbaik.
"Maaf, Mas. Aku akan lebih hati-hati," bisik Anya.
"Masuk ke kamar! Aku ada telepon bisnis yang harus diurus," perintah Gusti sambil melangkah ke ruang kerja.
Anya berlari menuju kamar dengan air mata yang tumpah. Ia mengunci pintu dan merosot di baliknya. Ia membuka lipatan sapu tangan itu. Anya menempelkan kain itu ke pipinya yang masih terasa panas karena hinaan Gusti.
Di tengah isaknya, ia menyadari satu hal. Bagas telah membangun jembatan perlindungan untuknya melalui bahasa-bahasa yang tidak pernah terucap. Setiap perhatian kecil, setiap tatapan dari seberang ruangan, dan sapu tangan ini, adalah cara Bagas mengatakan bahwa Anya tidak sendirian.
"Paman," bisik Anya dalam kegelapan kamar. "Kenapa Paman begitu baik padaku?"
Anya memeluk sapu tangan itu, menatap pantulan dirinya di cermin yang remang.
Baru saja hendak menyimpan sapu tangan itu ke dalam laci terdalamnya. Suara pintu kamar yang tidak terkunci tiba-tiba terbuka dengan bantingan keras. Jantungnya berdetak kencang. Anya refleks menyembunyikan sapu tangan itu di balik punggungnya.
Gusti berdiri di sana, tidak lagi memegang ponsel, melainkan memegang sebuah botol parfum miliknya yang baru setengah terpakai. Wajahnya gelap, dan sorot matanya tidak lagi sekadar menghina. Kali ini ada kecurigaan yang sangat nyata.
"Aku baru ingat sesuatu." Gusti melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan perlahan. Langkah sepatunya terdengar seperti lonceng kematian bagi Anya. "Parfumku aromanya tajam dan kuat."
Gusti menyudutkan Anya hingga punggung wanita itu menempel pada tiang tempat tidur. Ia merenggut dagu Anya. Memaksanya menengadah.
"Tapi kenapa sejak kita di mobil tadi, aku terus mencium aroma lain yang sangat lembut melekat di kulitmu?" tanya Gusti, menatap tajam.
Anya membeku. Oksigen di sekitarnya seolah mendadak hilang. Gusti mendekatkan wajahnya, menghirup aroma di ceruk leher Anya dengan napas yang memburu.
"Katakan padaku, Anya," bisik Gusti dengan suara yang bergetar karena amarah yang ditahan. "Siapa yang berani menyentuhmu saat acara keluargaku?"
Bagas benar-benar sudah berada di batas ketahanannya. Hasrat yang sedari tadi ditahan dan diulur kini berontak hebat, menuntut pelepasan yang sesungguhnya. Tanpa menunggu Anya kembali menurunkan kepalanya, Bagas mencengkeram pinggang ramping asisten cantiknya itu dengan kedua tangan kekarnya, lalu mengangkat tubuh Anya sedikit ke atas.Anya melenguh pelan, kedua tangannya refleks bertumpu pada dada bidang Bagas yang kokoh untuk menyeimbangkan tubuhnya. Dari posisi saling berhadapan di atas pangkuan, Anya bisa merasakan ujung kejantanan Bagas yang panas dan menegang sempurna kini kembali mengintip di depan gerbang keintimannya. Anya merasakan getaran dalam hatinya, bersama Bagas ia merasakan keindahan dalam kebersamaan."Mas Bagas, ahh," desah Anya parau, menatap langsung ke dalam manik mata elang Bagas yang berkilat beringas sekaligus penuh puja. "Masukkan, Mas, saya sudah tidak sanggup menahannya lagi. Mas, ayo Mas, Mas Bagas sayang, ayo!""Sesuai keinginanmu, permaisuriku," geram Ba
Setelah hantaman gairah yang begitu beringas di depan cermin mereda, Bagas tidak membiarkan penyatuan mereka terputus begitu saja. Dengan sisa-sisa tenaga kekarnya, ia menggendong tubuh polos Anya yang sudah lemas tak berdaya, membawanya melangkah menuju bathtub .Bagas menurunkan Anya dengan teramat perlahan, menuntun Anya untuk duduk bersandar di tepi bathtub yang masih kering. Anya melenguh tipis, menyandarkan kepalanya yang terasa pening akibat pelepasan dahsyat tadi, sementara sepasang matanya menatap Bagas dengan tatapan sayu yang sarat akan cinta."Mas, saya sudah lemas sekali," ucap Anya dengan suara parau yang terputus-putus, napasnya masih menyisakan sisa-sisa badai gairah yang baru saja berlalu.Bagas tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu justru ikut masuk dan berlutut di hadapan Anya. Tatapan matanya yang semula beringas kini berubah menjadi begitu hangat dan penuh puja. Bagas memajukan tubuhnya, menunduk untuk mengecup lembut kening Anya, menyalurkan rasa sayang yang
Anya refleks menutup wajahnya dengan kedua tangan. Merasa teramat malu sekaligus terangsang hebat melihat pemandangan vulgar nan erotis dari pantulan diri mereka sendiri. Cermin sebagai saksi kenikmatannya."Mas, jangan lihat, saya malu," bisik Anya dengan suara yang bergetar.Bagas memeluk tubuh Anya yang menggantung dari belakang, menumpukan dagunya di bahu ramping sang asisten sambil menatap tajam pantulan mata sayu Anya di cermin. Ia menurunkan paksa tangan Anya dari wajahnya, membiarkan jemari mereka saling bertautan erat tanpa mengendurkan sedikit pun penyatuan intim mereka."Buka matamu, Sayang. Lihat ke cermin! Lihat bagaimana cantiknya dirimu saat saya miliki seutuhnya seperti ini," bisik Bagas dengan nada yang terdengar begitu romantis namun teramat panas, membuat jantung Anya berdentum dua kali lebih cepat. "Kamu adalah milik saya, dan pantulan di depan sana adalah buktinya."Bagas sengaja tidak langsung bergerak cepat. Ia membiarkan Anya menatapi pantulan tubuh mereka seje
Bagas menyunggingkan seringai puas saat melihat kemejanya kini telah menyatu dengan pakaian Anya, berserakan tak berdaya di atas lantai marmer ruang kerja. Kulit polos mereka yang saling bersentuhan tanpa pembatas seolah menciptakan sengatan listrik yang kian membakar atmosfer ruangan.Dengan dominasi yang mutlak, Bagas meraih pinggang ramping Anya. Ia menuntun tubuh molek sekretarisnya itu untuk berbalik, membelakanginya dan menghadap langsung ke arah meja kerja jati yang kokoh."Mas... apa tidak terlalu berisiko?" bisik Anya parau dengan napas yang memburu, melirik gugup ke arah pintu ruang kerja lewat sudut matanya.Bagas hanya menyunggingkan seringai tipis. Ia menunduk, mengecup tengkuk Anya yang mulus dengan kehangatan yang intim sebelum berbisik seksi, "Risiko terbesar saya adalah kehilangan kendali atas diri kamu, Anya. Jadi diam dan nikmati ini," geram Bagas rendah.Bagas merapatkan dada bidangnya yang tegap pada punggung polos Anya, merasakan detak jantung wanita itu yang ber
"Tamu atas nama, Ibu Claudia." Jawaban itu, terdengar jelas oleh Anya.Mendengar nama itu disebut, Bagas langsung menjawab dengan nada tegas dan penuh penekanan."Sampaikan kepada dia, saya tidak datang ke kantor. Minta dia pulang," perintah Bagas.Begitu Bagas menutup gagang telepon dengan hentakan pelan, suasana ruangan mendadak diselimuti kecurigaan yang tipis. Anya langsung melangkah mendekat, menatap sang CEO dengan sepasang mata yang menuntut penjelasan."Siapa Mas, Claudia itu?" tanya Anya langsung, mencoba menahan getaran penasaran sekaligus cemburu di dalam suaranya.Bagas berbalik, menatap Anya. Ia melangkah maju, mengikis jarak di antara mereka hingga tubuh mereka kembali berdekatan. Ditangkupnya kedua pipi Anya dengan tangan hangatnya, memaksa sang sekretaris untuk menatap langsung ke dalam manik matanya demi memberikan keyakinan penuh."Bukan siapa-siapa, sayang. Dia hanya wanita yang memang terobsesi untuk menjadi istri Saya, tapi Saya sama sekali tidak tertarik," jawab
Melihat reaksi Anya, Bagas tidak terburu-buru untuk langsung menyatukan kembali tubuh mereka. Setelah membaringkan Anya dalam posisi miring, Bagas merendahkan tubuhnya, perlahan mengangkat satu paha mulus Anya untuk bersandar di atas bahu kekarnya, membuka akses penuh pada keindahan di bawah sana. Tanpa memberikan aba-aba, Bagas langsung menundukkan kepalanya dan mendaratkan bibir serta lidah hangatnya, menghisap bagian intim Anya dengan begitu lahap dan berirama."Mas Bagas, ahhh! Jangan dihisap lagi, Mas, emhh, geli sekali," jerit Anya tertahan, jemari tangannya meremas kuat bantal sofa kulit saat merasakan lidah Bagas bergerak kian piawai memanjakan pusat sensitivitasnya.Bagas terkekeh rendah di sela-sela kegiatannya, suaranya terdengar teredam namun sarat akan kepuasan mutlak. Ia mendongak sekilas, menatap wajah merona Anya dengan pandangan yang begitu dalam."Kamu tinggal menikmati bagaimana cara saya memujamu, Anya. Katakan, apa lidah saya terasa jauh lebih nikmat di bawah sana
"Ke apartemenku," jawab Bagas datar. "Kamu basah kuyup, Anya. Kamu butuh pakaian kering dan tempat untuk menenangkan diri."Anya mengerjap. Ia memang ingin menenangkan diri sebelum akan bertemu Gusti kembali. Bagas seolah tahu suasana hatinya yang sedang hancur. Namun, kata 'apartemen' itu membuat
"Tadi ... pelayan, Mas. Ada pelayan yang tidak sengaja menabrakku saat membawa nampan," dusta Anya dengan suara yang kecil. Gusti tertawa sinis. Bagi Anya, suara tawa itu terdengar seperti geraman predator yang mempermainkan mangsanya. Anya meringis ketika Gusti merenggut dagu Anya dengan keras,
Aroma parfum maskulin yang elegan, seketika memenuhi indranya. Ini bukan aroma Gusti yang tajam dan mendominasi. "Sstt ... ini aku, Anya. Jangan takut," bisik Bagas tepat di telinganya.Bagas perlahan melepaskan tangannya. Anya berbalik, menyandarkan punggungnya pada pilar marmer yang dingin, menc
[Puas sekali kemarin siang di hotel, Mas. Lembut banget kamu kalau lagi sama aku. Sampai ketemu di Surabaya minggu depan ya, Sayang.]Anya kesulitan napas setelah membaca pesan itu. Dadanya sesak luar biasa, jantungnya berdegup liar, dan pandangannya kabur tertutup air mata yang mulai menggenang.







