INICIAR SESIÓNAroma parfum maskulin yang elegan, seketika memenuhi indranya. Ini bukan aroma Gusti yang tajam dan mendominasi.
"Sstt ... ini aku, Anya. Jangan takut," bisik Bagas tepat di telinganya.
Bagas perlahan melepaskan tangannya. Anya berbalik, menyandarkan punggungnya pada pilar marmer yang dingin, mencoba mengatur napasnya yang memburu. Di koridor yang remang, Anya dapat melihat mata tajam Bagas yang kembali menatapnya.
"Paman Bagas ...," lirih Anya dengan suara serak. "Paman mengagetkanku. Kalau Gusti lihat kita?"
"Gusti sedang bersama ayahnya. Setidaknya mereka akan berdebat soal bisnis selama beberapa menit ke depan," potong Bagas dengan suara rendah. Ia berdiri cukup dekat namun tetap menjaga jarak yang memberikan Anya rasa nyaman.
Anya menunduk. Mencoba menyembunyikan getar tubuhnya. Tanpa diduga, Bagas melepas jas wolnya yang hangat dan menyampirkannya ke bahu Anya.
"Pakai ini. Kamu menggigil sampai ke tulang,” ujar Bagar, menatap lembut.
"Paman, tidak perlu. Nanti orang-orang di aula bertanya-tanya," jawab Anya, serba salah.
"Biarkan saja. Pakaianmu selalu begitu terbuka setiap kali kita bertemu di acara keluarga seperti ini.”
Anya meremas kain jas itu, mencari kehangatan yang tulus. "Terima kasih, Paman. Sejak awal aku masuk ke keluarga ini, Paman selalu baik padaku."
"Sudah sepantasnya kita berbuat baik, bukan?" Bagas menatap mata Anya dalam-dalam. “Lagipula, aku belum berbuat banyak.”
Anya menggeleng. “Paman telah membantu banyak.”
Bagas mengernyitkan dahi, seperti menunggu Anya berujar lagi.
"Seperti di hari pernikahanku," mulai Anya. Ia mengenang masa-masa lama. "Saat Gusti membentakku di belakang panggung karena aku salah menyebutkan gelar tamu kehormatan. Aku menangis sendirian di sana. Tiba-tiba Paman meninggalkan segelas air dan tisu di depan meja."
Bagas tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat menenangkan. "Aku hanya ingin kamu tahu bahwa tidak semua orang di sini setuju dengan cara Gusti bicara dan memperlakukanmu."
Anya tersenyum. "Lalu saat makan malam keluarga bulan lalu," lanjut Anya, suaranya mulai bergetar. "Gusti menumpahkan anggur ke bajuku dan memarahiku di depan semua orang. Aku lari ke taman belakang karena malu.”
"Aku ingat itu," ucap Bagas lembut.
"Yang meninggalkan sapu tangan bersih di kursi taman itu Paman bukan?”
Bagas hanya tersenyum kecil. Ia mengangguk.
“Paman sungguh baik padaku,” Anya menunduk, begitu merasa berterima kasih. Namun, wajah Anya cepat berubah. “Tapi, kalau Gusti tahu ini…”
"Aku tahu bagaimana Gusti," tegas Bagas, suaranya memberat. "Jika aku membelamu secara terang-terangan, dia pasti melampiaskannya di rumah bukan?”
Anya tersentak. Bagaimana pamannya itu bisa tahu?
“Tidak, Paman. Gusti itu…,” ucap Anya berbohong. Ia takut Gusti tambah menyiksanya nanti.
“Tenang, Anya,” ucap Bagas berusaha menenangkan ketika melihat Anya gemetar.
Anya terdiam, berusaha mencerna kata-kata Bagas. “Te..terima kasih, Paman.”
Bagas melangkah setapak lebih dekat. "Jadi, memar di pergelangan tanganmu itu betul perlakuan Gusti, bukan?"
Anya refleks menarik tangannya ke balik jas Bagas. "Tidak, Paman. Ini hanya karena aku kurang hati-hati saat menutup pintu mobil tadi pagi, Paman."
"Jangan berbohong lagi padaku. Pintu mobil tidak meninggalkan bekas cengkeraman lima jari," Bagas menggeleng perlahan. "Gusti yang melakukannya bukan?"
Anya terdiam sesaat, lalu mengangguk lemah.
"Setiap kali ada melihat luka baru padamu, rasanya aku gagal melindungimu.”
"Tidak ada yang gagal, Paman,” Anya menggeleng. “Minggu lalu, bahkan minyak esensial yang Paman berikan padaku minggu lalu bisa membuatku tidur tenang tanpa harus minum obat penenang dari Gusti.”
"Itu saja tidak cukup Anya. Kamu harus memiliki keberanian untuk keluar dari belenggu Gusti."
"Bagaimana caranya, Paman? Gusti punya segalanya. Punya kekuasaan, uang, dan dia punya pengaruh Papa di belakangnya," Anya menundukkan kepalanya.
Bagas menatap Anya dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Tenang saja, Anya. Semua ada jalan keluarnya," bisik Bagas.
Anya menelan ludah, menatap wajah Bagas. "Jalan keluar? Apa itu mungkin?"
"Sangat mungkin. Selama kamu percaya padaku," Bagas menyentuh bahu Anya dengan sangat hati-hati, sebuah sentuhan yang terasa seperti sebuah janji keselamatan. "Bertahanlah sedikit lagi. Jangan biarkan dia mematahkan semangatmu sepenuhnya. Bisakah kamu melakukannya untukku?"
Anya menatap mata Bagas, mencari kepastian di sana. "Aku akan mencoba, Paman."
"Aku akan selalu ada di belakangmu. Bahkan jika seluruh keluarga Mahendra membelakangi kamu, aku tetap di sini," ucap Bagas yakin.
Tiba-tiba, suara tawa Gusti terdengar menggema dari balik pintu perpustakaan yang mulai berderit terbuka.
Anya tersentak panik, rasa takut yang mendarah daging kembali menguasai dirinya.
"Ke apartemenku," jawab Bagas datar. "Kamu basah kuyup, Anya. Kamu butuh pakaian kering dan tempat untuk menenangkan diri."Anya mengerjap. Ia memang ingin menenangkan diri sebelum akan bertemu Gusti kembali. Bagas seolah tahu suasana hatinya yang sedang hancur. Namun, kata 'apartemen' itu membuat pertahanan Anya runtuh. Bayangan Gusti yang murka jika tahu dirinya pergi ke tempat pria lain membuat bulu-bulu di tubuh Anya berdiri. Isakan yang sejak tadi tertahan kini pecah menjadi tangisan pilu yang menyayat hati. Ia bisa membayangkan mata Gusti yang merah, cengkeraman tangannya yang menyakitkan, dan bagaimana pria itu akan menuduhnya dengan kata-kata paling kotor yang pernah ada. Anya merasa begitu ketakutan sekarang."Tidak, Paman. Tolong, jangan. Antar aku pulang sekarang!" rintih Anya di sela tangisnya. Ia menoleh ke arah Bagas dengan wajah yang bersimbah air mata. Anya berusaha meyakinkan pamannya itu dengan rautnya yang hancur.. "Kalau Mas Gusti tahu, dia akan membunuhku. Akan
"Tadi ... pelayan, Mas. Ada pelayan yang tidak sengaja menabrakku saat membawa nampan," dusta Anya dengan suara yang kecil. Gusti tertawa sinis. Bagi Anya, suara tawa itu terdengar seperti geraman predator yang mempermainkan mangsanya. Anya meringis ketika Gusti merenggut dagu Anya dengan keras, memaksa dirinya menatap tepat ke mata suaminya yang merah. "Pelayan? Kamu pikir aku bodoh, Anya? Pelayan di rumah Kakek tidak memakai parfum dengan aroma sekelas ini!” tuduh Gusti, matanya menatap milik Anya dengan tajam."Sungguh, Mas. Aku tidak bohong," isak Anya, tubuhnya bergetar hebat.Gusti mendorong Anya hingga tersungkur ke atas ranjang. Ia berdiri menjulang di atas Anya, menatapnya dengan tatapan jijik. "Jangan pernah coba-coba bersandiwara di depanku. Kamu itu milikku, Anya. Jika ada pria lain yang berani menyentuhmu, aku pastikan mereka tidak akan pernah bisa menyentuh apapun lagi selamanya!"Gusti mulai berjalan mondar-mandir di depan ranjang, langkah sepatunya yang berat berd
"Paman, dia keluar! Jas ini …!" Anya buru-buru melepas jas wol itu dengan tangan yang gemetar hebat.Bagas menerima jasnya dengan gerakan sangat tenang. "Tenanglah, Anya. Atur napasmu.""Paman harus pergi, cepat!" bisik Anya panik, matanya terus melirik ke arah pintu perpustakaan yang mulai terbuka."Aku pergi. Ingat pesanku," Bagas memberikan satu anggukan mantap sebelum menghilang ke taman belakang dengan langkah tanpa suara, meninggalkan aroma cendana yang masih melekat kuat di kulit Anya.Anya berdiri mematung di posisi semula. Ia menghirup napas panjang, mencoba menetralkan degup jantungnya tepat saat Gusti melangkah keluar. Pintu perpustakaan tertutup dengan dentuman yang bergema, terasa hingga ke ulu hati Anya."Anya? Masih di sini?" Gusti menghampirinya, matanya menyipit penuh selidik. Ia melangkah mendekat, memperpendek jarak hingga Anya bisa merasakan hawa dominasi yang selalu dibawa suaminya itu."Iya, Mas. Seperti perintahmu," jawab Anya berusaha setenang mungkin.Gusti m
Aroma parfum maskulin yang elegan, seketika memenuhi indranya. Ini bukan aroma Gusti yang tajam dan mendominasi. "Sstt ... ini aku, Anya. Jangan takut," bisik Bagas tepat di telinganya.Bagas perlahan melepaskan tangannya. Anya berbalik, menyandarkan punggungnya pada pilar marmer yang dingin, mencoba mengatur napasnya yang memburu. Di koridor yang remang, Anya dapat melihat mata tajam Bagas yang kembali menatapnya. "Paman Bagas ...," lirih Anya dengan suara serak. "Paman mengagetkanku. Kalau Gusti lihat kita?""Gusti sedang bersama ayahnya. Setidaknya mereka akan berdebat soal bisnis selama beberapa menit ke depan," potong Bagas dengan suara rendah. Ia berdiri cukup dekat namun tetap menjaga jarak yang memberikan Anya rasa nyaman.Anya menunduk. Mencoba menyembunyikan getar tubuhnya. Tanpa diduga, Bagas melepas jas wolnya yang hangat dan menyampirkannya ke bahu Anya."Pakai ini. Kamu menggigil sampai ke tulang,” ujar Bagar, menatap lembut."Paman, tidak perlu. Nanti orang-orang di a
“Tidak, Mas,” bisik Anya berbohong. Sudah tidak sanggup lagi rasanya berdebat dengan suaminya.Permainan menyakitkan Gusti pun dimulai. Anya hanya bisa meringis tiap kali pria itu menggunakan tubuhnya hanya untuk memuaskan hasrat. Tidak ada hal lembut yang bisa Anya rasakan, tidak seperti apa kata wanita di dalam pesan itu. Bukannya kelembutan, Anya harus menahan sakit ketika Gusti mulai menggunakan benda-benda lain. Benda-benda yang sering melukai tubuhnya. Namun, semakin Anya meringis dan menangis, permainan Gusti pun semakin mengganas. Setelah puas, Gusti meninggalkan Anya begitu saja di atas kasur. Pria itu bergerak ke kamar mandi.Anya hanya bisa terkulai lemas dengan air mata yang turun perlahan. Sungguh egois, membersihkan istrinya saja enggan, pikir Anya. “Anya,” panggil Gusti setelah keluar dari kamar mandi. “Jangan lupa, besok ada undangan makan malam di rumah Kakek. Pakai baju yang benar, jangan memalukan aku di depan keluarga besar."“Besok, Mas?”"Iya! Kenapa? Kamu mau
[Puas sekali kemarin siang di hotel, Mas. Lembut banget kamu kalau lagi sama aku. Sampai ketemu di Surabaya minggu depan ya, Sayang.]Anya kesulitan napas setelah membaca pesan itu. Dadanya sesak luar biasa, jantungnya berdegup liar, dan pandangannya kabur tertutup air mata yang mulai menggenang. Prak!Ponsel milik Gusti, suaminya itu, terlepas dari genggaman Anya. Ponsel itu menghantam lantai dengan keras.Anya masih terpaku di tepi ranjang, tangannya gemetar hebat. Kalimat singkat itu terasa seperti pisau yang menghujam tepat di jantungnya. Kepercayaan dalam pernikahan selama tiga tahun rasanya hilang seketika. “Lembut…?” Anya membaca lagi pesan di ponsel itu. Ia sungguh tidak percaya. Kata lembut dalam pesan itu terasa seperti ejekan yang paling kejam bagi Anya. Di kamar ini, kelembutan sudah sirna. Anya menoleh ke arah sofa di sudut kamar, di mana gaun satin merah ketat miliknya masih berserakan tak beraturan. Sebuah kostum yang wajib ia kenakan setiap kali Gusti menuntaskan







