Accueil / Romansa / Paman, Bawa Aku Pergi / 3. Sentuhan Ketenangan

Partager

3. Sentuhan Ketenangan

Auteur: Bunga
last update Date de publication: 2026-02-10 13:17:03

Aroma parfum maskulin yang elegan, seketika memenuhi indranya. Ini bukan aroma Gusti yang tajam dan mendominasi. 

"Sstt ... ini aku, Anya. Jangan takut," bisik Bagas tepat di telinganya.

Bagas perlahan melepaskan tangannya. Anya berbalik, menyandarkan punggungnya pada pilar marmer yang dingin, mencoba mengatur napasnya yang memburu. Di koridor yang remang, Anya dapat melihat mata tajam Bagas yang kembali menatapnya. 

"Paman Bagas ...," lirih Anya dengan suara serak. "Paman mengagetkanku. Kalau Gusti lihat kita?"

"Gusti sedang bersama ayahnya. Setidaknya mereka akan berdebat soal bisnis selama beberapa menit ke depan," potong Bagas dengan suara rendah. Ia berdiri cukup dekat namun tetap menjaga jarak yang memberikan Anya rasa nyaman.

Anya menunduk. Mencoba menyembunyikan getar tubuhnya. Tanpa diduga, Bagas melepas jas wolnya yang hangat dan menyampirkannya ke bahu Anya.

"Pakai ini. Kamu menggigil sampai ke tulang,” ujar Bagar, menatap lembut.

"Paman, tidak perlu. Nanti orang-orang di aula bertanya-tanya," jawab Anya, serba salah.

"Biarkan saja. Pakaianmu selalu begitu terbuka setiap kali kita bertemu di acara keluarga seperti ini.”

Anya meremas kain jas itu, mencari kehangatan yang tulus. "Terima kasih, Paman. Sejak awal aku masuk ke keluarga ini, Paman selalu baik padaku."

"Sudah sepantasnya kita berbuat baik, bukan?" Bagas menatap mata Anya dalam-dalam. “Lagipula, aku belum berbuat banyak.”

Anya menggeleng. “Paman telah membantu banyak.”

Bagas mengernyitkan dahi, seperti menunggu Anya berujar lagi.

"Seperti di hari pernikahanku," mulai Anya. Ia mengenang masa-masa lama. "Saat Gusti membentakku di belakang panggung karena aku salah menyebutkan gelar tamu kehormatan. Aku menangis sendirian di sana. Tiba-tiba Paman meninggalkan segelas air dan tisu di depan meja."

Bagas tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat menenangkan. "Aku hanya ingin kamu tahu bahwa tidak semua orang di sini setuju dengan cara Gusti bicara dan memperlakukanmu."

Anya tersenyum. "Lalu saat makan malam keluarga bulan lalu," lanjut Anya, suaranya mulai bergetar. "Gusti menumpahkan anggur ke bajuku dan memarahiku di depan semua orang. Aku lari ke taman belakang karena malu.”

"Aku ingat itu," ucap Bagas lembut.

"Yang meninggalkan sapu tangan bersih di kursi taman itu Paman bukan?” 

Bagas hanya tersenyum kecil. Ia mengangguk.

“Paman sungguh baik padaku,” Anya menunduk, begitu merasa berterima kasih. Namun, wajah Anya cepat berubah. “Tapi, kalau Gusti tahu ini…”

"Aku tahu bagaimana Gusti," tegas Bagas, suaranya memberat. "Jika aku membelamu secara terang-terangan, dia pasti melampiaskannya di rumah bukan?”

Anya tersentak. Bagaimana pamannya itu bisa tahu? 

“Tidak, Paman. Gusti itu…,” ucap Anya berbohong. Ia takut Gusti tambah menyiksanya nanti.

“Tenang, Anya,” ucap Bagas berusaha menenangkan ketika melihat Anya gemetar. 

Anya terdiam, berusaha mencerna kata-kata Bagas. “Te..terima kasih, Paman.”

Bagas melangkah setapak lebih dekat. "Jadi, memar di pergelangan tanganmu itu betul perlakuan Gusti, bukan?"

Anya refleks menarik tangannya ke balik jas Bagas. "Tidak, Paman. Ini hanya karena aku kurang hati-hati saat menutup pintu mobil tadi pagi, Paman."

"Jangan berbohong lagi padaku. Pintu mobil tidak meninggalkan bekas cengkeraman lima jari," Bagas menggeleng perlahan. "Gusti yang melakukannya bukan?"

Anya terdiam sesaat, lalu mengangguk lemah. 

"Setiap kali ada melihat luka baru padamu, rasanya aku gagal melindungimu.”

"Tidak ada yang gagal, Paman,” Anya menggeleng. “Minggu lalu, bahkan minyak esensial yang Paman berikan padaku minggu lalu bisa membuatku tidur tenang tanpa harus minum obat penenang dari Gusti.” 

"Itu saja tidak cukup Anya. Kamu harus memiliki keberanian untuk keluar dari belenggu Gusti."

"Bagaimana caranya, Paman? Gusti punya segalanya. Punya kekuasaan, uang, dan dia punya pengaruh Papa di belakangnya," Anya menundukkan kepalanya.

Bagas menatap Anya dengan tatapan yang sulit dibaca. 

"Tenang saja, Anya. Semua ada jalan keluarnya," bisik Bagas.

Anya menelan ludah, menatap wajah Bagas. "Jalan keluar? Apa itu mungkin?"

"Sangat mungkin. Selama kamu percaya padaku," Bagas menyentuh bahu Anya dengan sangat hati-hati, sebuah sentuhan yang terasa seperti sebuah janji keselamatan. "Bertahanlah sedikit lagi. Jangan biarkan dia mematahkan semangatmu sepenuhnya. Bisakah kamu melakukannya untukku?"

Anya menatap mata Bagas, mencari kepastian di sana. "Aku akan mencoba, Paman."

"Aku akan selalu ada di belakangmu. Bahkan jika seluruh keluarga Mahendra membelakangi kamu, aku tetap di sini," ucap Bagas yakin.

Tiba-tiba, suara tawa Gusti terdengar menggema dari balik pintu perpustakaan yang mulai berderit terbuka. 

Anya tersentak panik, rasa takut yang mendarah daging kembali menguasai dirinya.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Paman, Bawa Aku Pergi   93. Hukuman di Depan Cermin

    Secara mengejutkan, Bagas mendadak menarik lidahnya menjauh dari keintiman Anya yang sudah basah kuyup, tepat sebelum asisten cantiknya itu menyentuh puncak klimaks yang sudah di depan mata. Pria itu menyudahi permainannya di dalam bathtub, menegakkan tubuh tegapnya yang basah dengan napas yang teratur namun menyiratkan dominasi mutlak yang tak terbantahkan.Anya seketika tersentak, matanya terbuka lebar dengan pupil yang berkabut pekat. Rasa panas dan kehangatan yang tiba-tiba hilang di saat ia sudah berada di ujung tanduk pelepasan membuat tubuhnya bagai dijatuhkan dari tebing tinggi. Ia merintih frustrasi, merasakan siksaan gairah yang menggantung di udara menuntut tumpahan yang nyata. Tubuhnya gemetar hebat, menatap Bagas dengan pandangan memohon yang teramat dalam, kehilangan seluruh harga diri formalnya sebagai seorang sekretaris."M-Mas Bagas ahh, kenapa berhenti? Tolong, Mas, sedikit lagi. Saya mohon," ratap Anya pasrah. Jemarinya yang gemetar bergerak liar meremas ujung celan

  • Paman, Bawa Aku Pergi   92. Puncak di Ujung Batas

    Anya tidak menjawab sedikitpun. Ia masih merasakan kenikmatan yang diciptakan Bagas. Pikirannya melayang jauh.“Sayang, masih kuat ditusuk pakai lidah saya?” tanya Bagas kembali, suaranya terdengar teramat parau, berat, dan basah di sela-sela paha Anya yang gemetar hebat.Matanya yang menggelap pekat menatap ke atas, menyaksikan bagaimana asisten cantiknya mencengkeram erat tepi bathtub marmer dengan kuat. Anya tidak langsung menjawab dengan kata-kata. Ia hanya bisa melenguh panjang, menggelengkan kepalanya pasrah dengan air mata kepuasan yang kian deras membasahi pipi meronanya." Ahh, M-Mas Bagas, ahhh, emhh! " cicit Anya di sela napasnya yang terputus-putus. Tubuh moleknya masih menyentak halus, sisa-sisa gelombang pelepasan masif tadi membuat seluruh urat sarafnya terasa lumpuh sekaligus teramat peka. "T-Tolong jangan lepas dulu, jilat lagi lubang saya yang basah ini, Mas, ahh."Bagas menyunggingkan seringai sensual yang teramat beringas. Alih-alih menyudahi atau memberikan waktu

  • Paman, Bawa Aku Pergi   91. Candu yang Menolak Berhenti

    Tubuh Anya bergetar hebat di atas wajah Bagas. Puncak pelepasan yang dipicu oleh jilatan beringas sang CEO sudah berada di ujung urat sarafnya. Air matanya menetes, tangannya meremas rambut hitam Bagas kian erat seiring lenguhan panjang yang siap lolos dari belahan bibirnya." Ahhh! Mas Bagas, sedikit lagi, emhh, ahhh! " rintih Anya dengan suara yang terputus-putus.Bagas semakin gencar menyesap titik peka itu, menikmati bagaimana asisten cantiknya sepenuhnya bertekuk lutut di bawah kendalinya. Kamar mandi mewah itu benar-benar dipenuhi oleh kabut gairah yang teramat pekat.Drttttt! Drttttt! Drttttt!Samar-samar dari balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat, suara getaran keras ponsel Bagas yang tertinggal di atas meja nakas luar terdengar berdering tanpa ampun. Nada dering khusus itu terus berbunyi, seolah menandakan ada urusan yang teramat mendesak di luar sana.Bagas sempat menghentikan gerakan lidahnya sejenak. Rahangnya mengeras, menyadari bahwa panggilan di jam seperti ini bi

  • Paman, Bawa Aku Pergi   90. Kenikmatan Berbeda

    “Mas, aku masih mau. Tapi lemas,” jawab Anya, menutup wajahnya.Dengan dominasi yang tak terbantahkan, Bagas memegang pinggang Anya dan perlahan mendorongnya untuk bangkit."Berdirilah di hadapan saya!" perintah Bagas dengan suara bariton yang teramat serak dan dalam.Anya melenguh pelan, mencoba mengumpulkan sisa tenaganya untuk berdiri tegak di dalam bathtub yang licin, tepat di hadapan Bagas yang kini perlahan merebahkan diri, merebahkan punggung kekarnya dengan santai di dalam lengkungan marmer.Bagas menatap ke atas, memandangi setiap jengkal keindahan tubuh polos Anya dari sudut pandang bawah yang teramat intim. Tatapannya kemudian terkunci pada mahkota keintiman Anya yang masih memerah dan basah pasca pelepasan."Mas Bagas ... kenapa saya diminta berdiri seperti ini?" tanya Anya dengan suara parau yang bergetar, tangannya refleks bergerak sedikit ke depan untuk menutupi rasa malunya yang mendadak kembali membuncah.Bagas tersenyum sensual, meraih kedua pergelangan tangan Anya d

  • Paman, Bawa Aku Pergi   89.Puncak Dahaga di Bathtub

    Bagas benar-benar sudah berada di batas ketahanannya. Hasrat yang sedari tadi ditahan dan diulur kini berontak hebat, menuntut pelepasan yang sesungguhnya. Tanpa menunggu Anya kembali menurunkan kepalanya, Bagas mencengkeram pinggang ramping asisten cantiknya itu dengan kedua tangan kekarnya, lalu mengangkat tubuh Anya sedikit ke atas.Anya melenguh pelan, kedua tangannya refleks bertumpu pada dada bidang Bagas yang kokoh untuk menyeimbangkan tubuhnya. Dari posisi saling berhadapan di atas pangkuan, Anya bisa merasakan ujung kejantanan Bagas yang panas dan menegang sempurna kini kembali mengintip di depan gerbang keintimannya. Anya merasakan getaran dalam hatinya, bersama Bagas ia merasakan keindahan dalam kebersamaan."Mas Bagas, ahh," desah Anya parau, menatap langsung ke dalam manik mata elang Bagas yang berkilat beringas sekaligus penuh puja. "Masukkan, Mas, saya sudah tidak sanggup menahannya lagi. Mas, ayo Mas, Mas Bagas sayang, ayo!""Sesuai keinginanmu, permaisuriku," geram Ba

  • Paman, Bawa Aku Pergi   88. Sentuhan Lembut di Bathtub

    Setelah hantaman gairah yang begitu beringas di depan cermin mereda, Bagas tidak membiarkan penyatuan mereka terputus begitu saja. Dengan sisa-sisa tenaga kekarnya, ia menggendong tubuh polos Anya yang sudah lemas tak berdaya, membawanya melangkah menuju bathtub .Bagas menurunkan Anya dengan teramat perlahan, menuntun Anya untuk duduk bersandar di tepi bathtub yang masih kering. Anya melenguh tipis, menyandarkan kepalanya yang terasa pening akibat pelepasan dahsyat tadi, sementara sepasang matanya menatap Bagas dengan tatapan sayu yang sarat akan cinta."Mas, saya sudah lemas sekali," ucap Anya dengan suara parau yang terputus-putus, napasnya masih menyisakan sisa-sisa badai gairah yang baru saja berlalu.Bagas tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu justru ikut masuk dan berlutut di hadapan Anya. Tatapan matanya yang semula beringas kini berubah menjadi begitu hangat dan penuh puja. Bagas memajukan tubuhnya, menunduk untuk mengecup lembut kening Anya, menyalurkan rasa sayang yang

  • Paman, Bawa Aku Pergi   6. Oksigen yang Baru

    "Ke apartemenku," jawab Bagas datar. "Kamu basah kuyup, Anya. Kamu butuh pakaian kering dan tempat untuk menenangkan diri."Anya mengerjap. Ia memang ingin menenangkan diri sebelum akan bertemu Gusti kembali. Bagas seolah tahu suasana hatinya yang sedang hancur. Namun, kata 'apartemen' itu membuat

  • Paman, Bawa Aku Pergi   5. Janji yang Terhapus Hujan

    "Tadi ... pelayan, Mas. Ada pelayan yang tidak sengaja menabrakku saat membawa nampan," dusta Anya dengan suara yang kecil. Gusti tertawa sinis. Bagi Anya, suara tawa itu terdengar seperti geraman predator yang mempermainkan mangsanya. Anya meringis ketika Gusti merenggut dagu Anya dengan keras,

  • Paman, Bawa Aku Pergi   4. Bahasa yang Tak Terucap

    "Paman, dia keluar! Jas ini …!" Anya buru-buru melepas jas wol itu dengan tangan yang gemetar hebat.Bagas menerima jasnya dengan gerakan sangat tenang. "Tenanglah, Anya. Atur napasmu.""Paman harus pergi, cepat!" bisik Anya panik, matanya terus melirik ke arah pintu perpustakaan yang mulai terbuka

  • Paman, Bawa Aku Pergi   2. Tanda yang Terlihat

    “Tidak, Mas,” bisik Anya berbohong. Sudah tidak sanggup lagi rasanya berdebat dengan suaminya.Permainan menyakitkan Gusti pun dimulai. Anya hanya bisa meringis tiap kali pria itu menggunakan tubuhnya hanya untuk memuaskan hasrat. Tidak ada hal lembut yang bisa Anya rasakan, tidak seperti apa kata

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status