Home / Romansa / Paman, Bawa Aku Pergi / 1. Pesan Tak Diundang

Share

Paman, Bawa Aku Pergi
Paman, Bawa Aku Pergi
Author: Bunga

1. Pesan Tak Diundang

Author: Bunga
last update Last Updated: 2026-02-10 13:16:36

[Puas sekali kemarin siang di hotel, Mas. Lembut banget kamu kalau lagi sama aku. Sampai ketemu di Surabaya minggu depan ya, Sayang.]

Anya kesulitan napas setelah membaca pesan itu. 

Dadanya sesak luar biasa, jantungnya berdegup liar, dan pandangannya kabur tertutup air mata yang mulai menggenang. 

Prak!

Ponsel milik Gusti, suaminya itu, terlepas dari genggaman Anya. Ponsel itu menghantam lantai dengan keras.

Anya masih terpaku di tepi ranjang, tangannya gemetar hebat. Kalimat singkat itu terasa seperti pisau yang menghujam tepat di jantungnya. Kepercayaan dalam pernikahan selama tiga tahun rasanya hilang seketika. 

“Lembut…?” Anya membaca lagi pesan di ponsel itu. Ia sungguh tidak percaya. 

Kata lembut dalam pesan itu terasa seperti ejekan yang paling kejam bagi Anya. 

Di kamar ini, kelembutan sudah sirna. Anya menoleh ke arah sofa di sudut kamar, di mana gaun satin merah ketat miliknya masih berserakan tak beraturan. 

Sebuah kostum yang wajib ia kenakan setiap kali Gusti menuntaskan keinginannya. Gaun itu begitu sempit hingga setiap tarikan napas Anya saat memakainya terasa seperti perjuangan.

Di pinggir ranjang, sepasang sepatu hak tinggi runcing dua belas sentimeter tergeletak begitu saja. Sepatu itu telah menyiksa kaki Anya selama berjam-jam, membuat betisnya tegang dan tumitnya lecet berdarah karena Gusti memaksanya berdiri mematung hanya untuk memuaskan pandangannya.

Anya teringat kebiasaan-kebiasaan Gusti yang menyiksanya.

Gusti tidak membiarkan Anya menikmati permainan apapun. Pria itu hanya menyiksanya, mulai dari caranya memandang maupun memperlakukannya.

Gusti memperlakukan Anya seolah tanpa cinta yang mengikat. Semakin Anya terlihat tersiksa, semakin Gusti terlihat puas.

Kontras itu sungguh menyiksa. Kepada wanita asing dalam pesan itu, Gusti nyatanya bisa bersikap lembut. Sementara kepada Anya, Gusti hanya ingin menunjukkan kekuasaan semata!

"Cantik sekali. Tetap seperti itu, jangan rusak pemandangan ini dengan wajah manjamu," Anya mengingat-ingat ucapan Gusti dingin saat itu, bahkan ketika ia melihat tumit Anya mulai bergetar karena kelelahan.

Setelah puas memandang, barulah Gusti melampiaskan hasratnya. Ia menarik Anya ke atas tempat tidur dengan kasar, seolah-olah istrinya hanyalah pelampiasan atas egonya. 

Tidak ada kelembutan atau kata-kata manis. Hanya ada kekuasaan yang meninggalkan rasa perih, baik di kulit maupun di batin Anya.

Suara deru mobil di halaman bawah seketika membuyarkan lamunan Anya. Detak jantungnya semakin kencang. Suami yang suka menyiksanya itu sudah pulang kerja.

Dengan gerakan panik, Anya memungut ponsel itu dan mengembalikannya ke atas nakas, mencoba menyusun posisinya agar terlihat tak tersentuh. Ia segera berdiri kembali.

Pintu kamar terbuka perlahan. Gusti melangkah masuk dengan aura penguasanya yang langsung memenuhi ruangan. Ia mulai melonggarkan dasinya, namun matanya yang tajam segera tertuju pada Anya yang berdiri kaku di samping ranjang.

"Belum istirahat?" tanya Gusti dengan suara baritonnya yang tenang namun menuntut.

"Belum, Mas. Aku menunggumu," jawab Anya sekuat mungkin, mencoba agar suaranya tidak bergetar.

Gusti berjalan mendekat, aroma maskulin yang dingin seketika mengepung Anya. Pria itu berdiri tepat di depannya, menatap ponsel di atas nakas dengan dahi sedikit berkerut, sebelum beralih menatap wajah Anya yang pucat.

"Kenapa ponselku berada di sana?" tanya Gusti, nadanya mulai menyelidik.

"Tadi, ada notifikasi yang masuk terus-menerus. Aku takut ada urusan mendesak," bohong Anya, menunduk tak berani menatap mata predator itu.

Gusti melangkah maju, menjangkau dagu Anya dan mengangkatnya perlahan dengan tekanan yang sudah sangat familiar di kulit Anya. Tekanan yang menyakitkan.

"Ingat, Anya. Aku tidak suka milikku disentuh tanpa izin," bisik Gusti lembut, namun suaranya justru terdengar mengancam bagi Anya. Anya hanya bisa mengangguk pelan.

Gusti melepaskan dagu Anya, lalu mengambil ponselnya. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya setelah melihat layar.

“Memangnya ada pesan apa, Mas?” tanya Anya, berpura-pura. Ia berusaha meyakinkan Gusti.

"Ini hanya urusan pekerjaan yang membosankan. Tidak perlu kamu pikirkan." Gusti melempar ponselnya ke atas kasur, lalu mulai membuka kancing kemejanya.

"Bersiaplah. Aku sedang ingin merayakan keberhasilan proyek hari ini bersamamu, gaunnya ganti dengan yang baru dan jangan lupa sepatunya!" pinta Gusti dingin.

“Tapi, Mas …,” jawab Anya. Anya melirik tubuhnya sendiri. Nyeri di kaki bekas permainan semalam pun belum kering. 

“Jangan merusak gairahku!” Gusti menatap tajam.

Dengan rasa sakit, Anya bangkit berganti pakaian dan memakai sepatu yang sangat menyiksanya.

"Tetaplah memakai gaun dan sepatu itu, Anya. Aku ingin memilikimu sepenuhnya," ucap Gusti tanpa peduli pada kaki Anya yang sudah gemetar hebat menahan nyeri.

Anya hanya bisa memejamkan mata, menahan air mata yang mendesak keluar. 

Saat Gusti mulai mendekat dan menarik pinggangnya dengan kasar, sebuah getaran kembali terdengar dari ponsel yang tergeletak di atas kasur. Sebuah pesan baru masuk, dan layar ponsel menghadap tepat ke arah Anya.

[Sayang, kamu sudah sampai rumah?Aku masih merindukan wangimu yang tertinggal di sini.]

Anya mematung. 

Di tengah rasa sakit di kakinya yang tak tertahankan dan sesak napas akibat gaun ketat, ia mencium aroma parfum asing yang sangat manis di kerah kemeja Gusti saat pria itu memaksa kepalanya bersandar di bahunya.

Itu jelas bukan parfum miliknya ataupun Gusti. 

"Kenapa diam, Anya?" bisik Gusti di telinganya, suaranya dingin.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Paman, Bawa Aku Pergi   6. Oksigen yang Baru

    "Ke apartemenku," jawab Bagas datar. "Kamu basah kuyup, Anya. Kamu butuh pakaian kering dan tempat untuk menenangkan diri."Anya mengerjap. Ia memang ingin menenangkan diri sebelum akan bertemu Gusti kembali. Bagas seolah tahu suasana hatinya yang sedang hancur. Namun, kata 'apartemen' itu membuat pertahanan Anya runtuh. Bayangan Gusti yang murka jika tahu dirinya pergi ke tempat pria lain membuat bulu-bulu di tubuh Anya berdiri. Isakan yang sejak tadi tertahan kini pecah menjadi tangisan pilu yang menyayat hati. Ia bisa membayangkan mata Gusti yang merah, cengkeraman tangannya yang menyakitkan, dan bagaimana pria itu akan menuduhnya dengan kata-kata paling kotor yang pernah ada. Anya merasa begitu ketakutan sekarang."Tidak, Paman. Tolong, jangan. Antar aku pulang sekarang!" rintih Anya di sela tangisnya. Ia menoleh ke arah Bagas dengan wajah yang bersimbah air mata. Anya berusaha meyakinkan pamannya itu dengan rautnya yang hancur.. "Kalau Mas Gusti tahu, dia akan membunuhku. Akan

  • Paman, Bawa Aku Pergi   5. Janji yang Terhapus Hujan

    "Tadi ... pelayan, Mas. Ada pelayan yang tidak sengaja menabrakku saat membawa nampan," dusta Anya dengan suara yang kecil. Gusti tertawa sinis. Bagi Anya, suara tawa itu terdengar seperti geraman predator yang mempermainkan mangsanya. Anya meringis ketika Gusti merenggut dagu Anya dengan keras, memaksa dirinya menatap tepat ke mata suaminya yang merah. "Pelayan? Kamu pikir aku bodoh, Anya? Pelayan di rumah Kakek tidak memakai parfum dengan aroma sekelas ini!” tuduh Gusti, matanya menatap milik Anya dengan tajam."Sungguh, Mas. Aku tidak bohong," isak Anya, tubuhnya bergetar hebat.Gusti mendorong Anya hingga tersungkur ke atas ranjang. Ia berdiri menjulang di atas Anya, menatapnya dengan tatapan jijik. "Jangan pernah coba-coba bersandiwara di depanku. Kamu itu milikku, Anya. Jika ada pria lain yang berani menyentuhmu, aku pastikan mereka tidak akan pernah bisa menyentuh apapun lagi selamanya!"Gusti mulai berjalan mondar-mandir di depan ranjang, langkah sepatunya yang berat berd

  • Paman, Bawa Aku Pergi   4. Bahasa yang Tak Terucap

    "Paman, dia keluar! Jas ini …!" Anya buru-buru melepas jas wol itu dengan tangan yang gemetar hebat.Bagas menerima jasnya dengan gerakan sangat tenang. "Tenanglah, Anya. Atur napasmu.""Paman harus pergi, cepat!" bisik Anya panik, matanya terus melirik ke arah pintu perpustakaan yang mulai terbuka."Aku pergi. Ingat pesanku," Bagas memberikan satu anggukan mantap sebelum menghilang ke taman belakang dengan langkah tanpa suara, meninggalkan aroma cendana yang masih melekat kuat di kulit Anya.Anya berdiri mematung di posisi semula. Ia menghirup napas panjang, mencoba menetralkan degup jantungnya tepat saat Gusti melangkah keluar. Pintu perpustakaan tertutup dengan dentuman yang bergema, terasa hingga ke ulu hati Anya."Anya? Masih di sini?" Gusti menghampirinya, matanya menyipit penuh selidik. Ia melangkah mendekat, memperpendek jarak hingga Anya bisa merasakan hawa dominasi yang selalu dibawa suaminya itu."Iya, Mas. Seperti perintahmu," jawab Anya berusaha setenang mungkin.Gusti m

  • Paman, Bawa Aku Pergi   3. Sentuhan Ketenangan

    Aroma parfum maskulin yang elegan, seketika memenuhi indranya. Ini bukan aroma Gusti yang tajam dan mendominasi. "Sstt ... ini aku, Anya. Jangan takut," bisik Bagas tepat di telinganya.Bagas perlahan melepaskan tangannya. Anya berbalik, menyandarkan punggungnya pada pilar marmer yang dingin, mencoba mengatur napasnya yang memburu. Di koridor yang remang, Anya dapat melihat mata tajam Bagas yang kembali menatapnya. "Paman Bagas ...," lirih Anya dengan suara serak. "Paman mengagetkanku. Kalau Gusti lihat kita?""Gusti sedang bersama ayahnya. Setidaknya mereka akan berdebat soal bisnis selama beberapa menit ke depan," potong Bagas dengan suara rendah. Ia berdiri cukup dekat namun tetap menjaga jarak yang memberikan Anya rasa nyaman.Anya menunduk. Mencoba menyembunyikan getar tubuhnya. Tanpa diduga, Bagas melepas jas wolnya yang hangat dan menyampirkannya ke bahu Anya."Pakai ini. Kamu menggigil sampai ke tulang,” ujar Bagar, menatap lembut."Paman, tidak perlu. Nanti orang-orang di a

  • Paman, Bawa Aku Pergi   2. Tanda yang Terlihat

    “Tidak, Mas,” bisik Anya berbohong. Sudah tidak sanggup lagi rasanya berdebat dengan suaminya.Permainan menyakitkan Gusti pun dimulai. Anya hanya bisa meringis tiap kali pria itu menggunakan tubuhnya hanya untuk memuaskan hasrat. Tidak ada hal lembut yang bisa Anya rasakan, tidak seperti apa kata wanita di dalam pesan itu. Bukannya kelembutan, Anya harus menahan sakit ketika Gusti mulai menggunakan benda-benda lain. Benda-benda yang sering melukai tubuhnya. Namun, semakin Anya meringis dan menangis, permainan Gusti pun semakin mengganas. Setelah puas, Gusti meninggalkan Anya begitu saja di atas kasur. Pria itu bergerak ke kamar mandi.Anya hanya bisa terkulai lemas dengan air mata yang turun perlahan. Sungguh egois, membersihkan istrinya saja enggan, pikir Anya. “Anya,” panggil Gusti setelah keluar dari kamar mandi. “Jangan lupa, besok ada undangan makan malam di rumah Kakek. Pakai baju yang benar, jangan memalukan aku di depan keluarga besar."“Besok, Mas?”"Iya! Kenapa? Kamu mau

  • Paman, Bawa Aku Pergi   1. Pesan Tak Diundang

    [Puas sekali kemarin siang di hotel, Mas. Lembut banget kamu kalau lagi sama aku. Sampai ketemu di Surabaya minggu depan ya, Sayang.]Anya kesulitan napas setelah membaca pesan itu. Dadanya sesak luar biasa, jantungnya berdegup liar, dan pandangannya kabur tertutup air mata yang mulai menggenang. Prak!Ponsel milik Gusti, suaminya itu, terlepas dari genggaman Anya. Ponsel itu menghantam lantai dengan keras.Anya masih terpaku di tepi ranjang, tangannya gemetar hebat. Kalimat singkat itu terasa seperti pisau yang menghujam tepat di jantungnya. Kepercayaan dalam pernikahan selama tiga tahun rasanya hilang seketika. “Lembut…?” Anya membaca lagi pesan di ponsel itu. Ia sungguh tidak percaya. Kata lembut dalam pesan itu terasa seperti ejekan yang paling kejam bagi Anya. Di kamar ini, kelembutan sudah sirna. Anya menoleh ke arah sofa di sudut kamar, di mana gaun satin merah ketat miliknya masih berserakan tak beraturan. Sebuah kostum yang wajib ia kenakan setiap kali Gusti menuntaskan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status