Inicio / Romansa / Paman, Bawa Aku Pergi / 6. Oksigen yang Baru

Compartir

6. Oksigen yang Baru

Autor: Bunga
last update Última actualización: 2026-02-10 13:17:28

"Ke apartemenku," jawab Bagas datar. "Kamu basah kuyup, Anya. Kamu butuh pakaian kering dan tempat untuk menenangkan diri."

Anya mengerjap. Ia memang ingin menenangkan diri sebelum akan bertemu Gusti kembali. Bagas seolah tahu suasana hatinya yang sedang hancur. 

Namun, kata 'apartemen' itu membuat pertahanan Anya runtuh. Bayangan Gusti yang murka jika tahu dirinya pergi ke tempat pria lain membuat bulu-bulu di tubuh Anya berdiri. Isakan yang sejak tadi tertahan kini pecah menjadi tangisan pilu yang menyayat hati. 

Ia bisa membayangkan mata Gusti yang merah, cengkeraman tangannya yang menyakitkan, dan bagaimana pria itu akan menuduhnya dengan kata-kata paling kotor yang pernah ada. Anya merasa begitu ketakutan sekarang.

"Tidak, Paman. Tolong, jangan. Antar aku pulang sekarang!" rintih Anya di sela tangisnya. Ia menoleh ke arah Bagas dengan wajah yang bersimbah air mata. Anya berusaha meyakinkan pamannya itu dengan rautnya yang hancur.. "Kalau Mas Gusti tahu, dia akan membunuhku. Akan mengira aku macam-macam. Aku takut, Paman."

Bagas melirik Anya dari sudut matanya sambil tetap fokus mengemudi. 

Anya melihat raut wajah Bagas yang mulai berubah sesaat setelah melirik dirinya. Rahang Bagas kini mengeras hingga otot-otot di wajahnya menonjol. Ia menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang sarat akan rasa frustrasi sekaligus kepedulian. 

Ia perlahan membelokkan kemudinya di sebuah putaran balik yang tajam, membiarkan ban mobil mencicit sedikit di atas aspal basah.

"Baiklah. Kita pulang," ucap Bagas. Suaranya melunak, namun tetap menyimpan otoritas yang tak terbantah.

Mobil melaju pelan, membelah kabut tipis sisa hujan. Suasana di dalam mobil itu mendadak terasa sangat intim, seolah-olah dunia luar telah lenyap. 

Bagas menghentikan mobilnya sejenak di tepi jalan yang remang-remang, jauh dari lampu jalan utama, di bawah naungan pohon mahoni besar.

Pria itu melepaskan sabuk pengamannya dengan gerakan pelan, menghasilkan suara ‘klik’ yang bergema. 

Bagas bergeser sedikit, membuat tubuhnya menghadap Anya. Anya tersentak, punggungnya menempel erat pada pintu mobil, matanya yang sembab menatap Bagas dengan bimbang. Namun, Bagas tidak melakukan gerakan kasar. 

Pria itu justru mengulurkan tangan, jemarinya yang hangat menyentuh dagu Anya, mengangkat wajah wanita itu agar menatap tepat ke matanya yang gelap namun jernih.

"Lihat aku, Anya," bisik Bagas. Suaranya rendah, bergetar dengan intensitas yang membuat bulu kuduk Anya meremang.

Ibu jari Bagas bergerak sangat perlahan, menghapus sisa air mata di pipi Anya dengan gerakan yang begitu lembut, seolah Anya adalah sebuah porselen paling rapuh di dunia. 

Bagas membiarkan tangannya tetap di sana, membingkai wajah Anya, memberikan kehangatan yang kontras dengan pakaian Anya yang lembap dan dingin. Anya terpaku. Sentuhan ini sangat asing. Tidak ada paksaan, maupun penghinaan. Hanya ada rasa hormat yang dapat Anya rasakan.

Bagas mencondongkan tubuhnya sedikit lagi, memperpendek jarak hingga Anya bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu di wajahnya. Aroma kayu cendana yang menenangkan, kembali mengepung indra penciumannya, memberikan rasa aman yang semu namun sangat ia butuhkan.

"Bernapaslah, Anya. Tenang, semua akan baik-baik saja," bisik Bagas lagi. Jarak mereka kini begitu dekat hingga kening mereka nyaris bersentuhan.

Tangan Bagas turun perlahan dari pipi Anya, meluncur ke bawah hingga ia menyentuh pergelangan tangan Anya yang masih dingin. Ia mengusap nadi Anya dengan lembut menggunakan ibu jarinya, seolah sedang menyalurkan seluruh sisa kekuatannya kepada wanita itu. 

Anya menahan napas, matanya terkunci pada manik mata Bagas. Untuk sesaat, ketakutannya pada Gusti tertutup oleh pesona pria di depannya. Seorang pria yang memandangnya sebagai manusia, bukan sekadar barang mainan.

Bagas tidak mengatakan apapun lagi yang berupa janji palsu. Ia hanya menatap Anya dengan tatapan yang seolah menjanjikan bahwa semua akan benar-benar baik saja. 

“Kamu akan baik-baik saja, Anya,” ucap Bagas lagi. Terdengar seperti sebuah kepastian bagi Anya. 

Untuk sesaat, Anya memilih untuk percaya dengan itu. “Ya, terima kasih, Paman.”

Anya menatap Bagas yang mengangguk puas setelah melihat wanita itu lebih tenang. Bagas pun kembali dengan kemudinya.

Mobil mewah itu kembali melaju dengan tenang. Saat mereka memasuki kawasan perumahan elit tempat tinggal Anya, ketegangan kembali merayap di pundak Anya. 

Bagas tidak menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang megah kediaman Biantara. Ia menepi di sebuah sudut jalan yang gelap, sekitar dua ratus meter sebelum rumah itu.

"Aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini, Anya," ucap Bagas pelan sambil mematikan lampu utama mobil, membuat mereka tenggelam dalam kegelapan yang hanya diterangi cahaya dari dashboard. "Aku tidak ingin ada mata-mata Gusti atau pelayannya yang melihatmu turun dari mobilku. Berjalanlah dengan tenang, dan lupakan sejenak bahwa kamu baru saja bertemu denganku."

Anya mengangguk pelan, tenggorokannya terasa terlalu sempit untuk sekadar mengucapkan terima kasih. Ia membuka pintu mobil dan melangkah turun ke udara malam yang dingin. 

Saat pintu tertutup, ia merasa seolah pelindungnya baru saja menghilang. Ia berjalan dengan kaki yang masih perih, menyeret langkahnya di atas trotoar basah. 

Anya masuk ke dalam rumah dengan langkah yang sangat hati-hati, bahkan suara napasnya sendiri terdengar terlalu keras baginya. Ia berharap Gusti masih di luar, atau setidaknya sudah tidur. Namun, harapannya hancur berkeping-keping.

Baru saja ia melewati ambang pintu depan yang gelap, sebuah suara klik tajam terdengar, dan lampu ruang tamu yang kristalnya menggantung mewah tiba-tiba menyala terang benderang. Anya refleks menutup matanya karena silau.

"Tepat waktu," suara Gusti menggema di ruangan yang luas itu.

Anya membuka mata dan mendapati Gusti sudah duduk di sana, di atas sofa tunggal kulitnya. Di atas meja kopi di depannya, tergeletak sebuah sepatu hak tinggi berwarna merah yang basah kuyup dan kotor. Sepatu yang sempat Anya lepas di pinggir jalan tadi.

"Dari mana saja kamu, Anya?" tanya Gusti dengan suara yang sangat tenang, namun matanya menatap tajam ke arah rambut Anya yang masih lembab.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Paman, Bawa Aku Pergi   6. Oksigen yang Baru

    "Ke apartemenku," jawab Bagas datar. "Kamu basah kuyup, Anya. Kamu butuh pakaian kering dan tempat untuk menenangkan diri."Anya mengerjap. Ia memang ingin menenangkan diri sebelum akan bertemu Gusti kembali. Bagas seolah tahu suasana hatinya yang sedang hancur. Namun, kata 'apartemen' itu membuat pertahanan Anya runtuh. Bayangan Gusti yang murka jika tahu dirinya pergi ke tempat pria lain membuat bulu-bulu di tubuh Anya berdiri. Isakan yang sejak tadi tertahan kini pecah menjadi tangisan pilu yang menyayat hati. Ia bisa membayangkan mata Gusti yang merah, cengkeraman tangannya yang menyakitkan, dan bagaimana pria itu akan menuduhnya dengan kata-kata paling kotor yang pernah ada. Anya merasa begitu ketakutan sekarang."Tidak, Paman. Tolong, jangan. Antar aku pulang sekarang!" rintih Anya di sela tangisnya. Ia menoleh ke arah Bagas dengan wajah yang bersimbah air mata. Anya berusaha meyakinkan pamannya itu dengan rautnya yang hancur.. "Kalau Mas Gusti tahu, dia akan membunuhku. Akan

  • Paman, Bawa Aku Pergi   5. Janji yang Terhapus Hujan

    "Tadi ... pelayan, Mas. Ada pelayan yang tidak sengaja menabrakku saat membawa nampan," dusta Anya dengan suara yang kecil. Gusti tertawa sinis. Bagi Anya, suara tawa itu terdengar seperti geraman predator yang mempermainkan mangsanya. Anya meringis ketika Gusti merenggut dagu Anya dengan keras, memaksa dirinya menatap tepat ke mata suaminya yang merah. "Pelayan? Kamu pikir aku bodoh, Anya? Pelayan di rumah Kakek tidak memakai parfum dengan aroma sekelas ini!” tuduh Gusti, matanya menatap milik Anya dengan tajam."Sungguh, Mas. Aku tidak bohong," isak Anya, tubuhnya bergetar hebat.Gusti mendorong Anya hingga tersungkur ke atas ranjang. Ia berdiri menjulang di atas Anya, menatapnya dengan tatapan jijik. "Jangan pernah coba-coba bersandiwara di depanku. Kamu itu milikku, Anya. Jika ada pria lain yang berani menyentuhmu, aku pastikan mereka tidak akan pernah bisa menyentuh apapun lagi selamanya!"Gusti mulai berjalan mondar-mandir di depan ranjang, langkah sepatunya yang berat berd

  • Paman, Bawa Aku Pergi   4. Bahasa yang Tak Terucap

    "Paman, dia keluar! Jas ini …!" Anya buru-buru melepas jas wol itu dengan tangan yang gemetar hebat.Bagas menerima jasnya dengan gerakan sangat tenang. "Tenanglah, Anya. Atur napasmu.""Paman harus pergi, cepat!" bisik Anya panik, matanya terus melirik ke arah pintu perpustakaan yang mulai terbuka."Aku pergi. Ingat pesanku," Bagas memberikan satu anggukan mantap sebelum menghilang ke taman belakang dengan langkah tanpa suara, meninggalkan aroma cendana yang masih melekat kuat di kulit Anya.Anya berdiri mematung di posisi semula. Ia menghirup napas panjang, mencoba menetralkan degup jantungnya tepat saat Gusti melangkah keluar. Pintu perpustakaan tertutup dengan dentuman yang bergema, terasa hingga ke ulu hati Anya."Anya? Masih di sini?" Gusti menghampirinya, matanya menyipit penuh selidik. Ia melangkah mendekat, memperpendek jarak hingga Anya bisa merasakan hawa dominasi yang selalu dibawa suaminya itu."Iya, Mas. Seperti perintahmu," jawab Anya berusaha setenang mungkin.Gusti m

  • Paman, Bawa Aku Pergi   3. Sentuhan Ketenangan

    Aroma parfum maskulin yang elegan, seketika memenuhi indranya. Ini bukan aroma Gusti yang tajam dan mendominasi. "Sstt ... ini aku, Anya. Jangan takut," bisik Bagas tepat di telinganya.Bagas perlahan melepaskan tangannya. Anya berbalik, menyandarkan punggungnya pada pilar marmer yang dingin, mencoba mengatur napasnya yang memburu. Di koridor yang remang, Anya dapat melihat mata tajam Bagas yang kembali menatapnya. "Paman Bagas ...," lirih Anya dengan suara serak. "Paman mengagetkanku. Kalau Gusti lihat kita?""Gusti sedang bersama ayahnya. Setidaknya mereka akan berdebat soal bisnis selama beberapa menit ke depan," potong Bagas dengan suara rendah. Ia berdiri cukup dekat namun tetap menjaga jarak yang memberikan Anya rasa nyaman.Anya menunduk. Mencoba menyembunyikan getar tubuhnya. Tanpa diduga, Bagas melepas jas wolnya yang hangat dan menyampirkannya ke bahu Anya."Pakai ini. Kamu menggigil sampai ke tulang,” ujar Bagar, menatap lembut."Paman, tidak perlu. Nanti orang-orang di a

  • Paman, Bawa Aku Pergi   2. Tanda yang Terlihat

    “Tidak, Mas,” bisik Anya berbohong. Sudah tidak sanggup lagi rasanya berdebat dengan suaminya.Permainan menyakitkan Gusti pun dimulai. Anya hanya bisa meringis tiap kali pria itu menggunakan tubuhnya hanya untuk memuaskan hasrat. Tidak ada hal lembut yang bisa Anya rasakan, tidak seperti apa kata wanita di dalam pesan itu. Bukannya kelembutan, Anya harus menahan sakit ketika Gusti mulai menggunakan benda-benda lain. Benda-benda yang sering melukai tubuhnya. Namun, semakin Anya meringis dan menangis, permainan Gusti pun semakin mengganas. Setelah puas, Gusti meninggalkan Anya begitu saja di atas kasur. Pria itu bergerak ke kamar mandi.Anya hanya bisa terkulai lemas dengan air mata yang turun perlahan. Sungguh egois, membersihkan istrinya saja enggan, pikir Anya. “Anya,” panggil Gusti setelah keluar dari kamar mandi. “Jangan lupa, besok ada undangan makan malam di rumah Kakek. Pakai baju yang benar, jangan memalukan aku di depan keluarga besar."“Besok, Mas?”"Iya! Kenapa? Kamu mau

  • Paman, Bawa Aku Pergi   1. Pesan Tak Diundang

    [Puas sekali kemarin siang di hotel, Mas. Lembut banget kamu kalau lagi sama aku. Sampai ketemu di Surabaya minggu depan ya, Sayang.]Anya kesulitan napas setelah membaca pesan itu. Dadanya sesak luar biasa, jantungnya berdegup liar, dan pandangannya kabur tertutup air mata yang mulai menggenang. Prak!Ponsel milik Gusti, suaminya itu, terlepas dari genggaman Anya. Ponsel itu menghantam lantai dengan keras.Anya masih terpaku di tepi ranjang, tangannya gemetar hebat. Kalimat singkat itu terasa seperti pisau yang menghujam tepat di jantungnya. Kepercayaan dalam pernikahan selama tiga tahun rasanya hilang seketika. “Lembut…?” Anya membaca lagi pesan di ponsel itu. Ia sungguh tidak percaya. Kata lembut dalam pesan itu terasa seperti ejekan yang paling kejam bagi Anya. Di kamar ini, kelembutan sudah sirna. Anya menoleh ke arah sofa di sudut kamar, di mana gaun satin merah ketat miliknya masih berserakan tak beraturan. Sebuah kostum yang wajib ia kenakan setiap kali Gusti menuntaskan

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status