LOGIN"Ke apartemenku," jawab Bagas datar. "Kamu basah kuyup, Anya. Kamu butuh pakaian kering dan tempat untuk menenangkan diri."
Anya mengerjap. Ia memang ingin menenangkan diri sebelum akan bertemu Gusti kembali. Bagas seolah tahu suasana hatinya yang sedang hancur.
Namun, kata 'apartemen' itu membuat pertahanan Anya runtuh. Bayangan Gusti yang murka jika tahu dirinya pergi ke tempat pria lain membuat bulu-bulu di tubuh Anya berdiri. Isakan yang sejak tadi tertahan kini pecah menjadi tangisan pilu yang menyayat hati.
Ia bisa membayangkan mata Gusti yang merah, cengkeraman tangannya yang menyakitkan, dan bagaimana pria itu akan menuduhnya dengan kata-kata paling kotor yang pernah ada. Anya merasa begitu ketakutan sekarang.
"Tidak, Paman. Tolong, jangan. Antar aku pulang sekarang!" rintih Anya di sela tangisnya. Ia menoleh ke arah Bagas dengan wajah yang bersimbah air mata. Anya berusaha meyakinkan pamannya itu dengan rautnya yang hancur.. "Kalau Mas Gusti tahu, dia akan membunuhku. Akan mengira aku macam-macam. Aku takut, Paman."
Bagas melirik Anya dari sudut matanya sambil tetap fokus mengemudi.
Anya melihat raut wajah Bagas yang mulai berubah sesaat setelah melirik dirinya. Rahang Bagas kini mengeras hingga otot-otot di wajahnya menonjol. Ia menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang sarat akan rasa frustrasi sekaligus kepedulian.
Ia perlahan membelokkan kemudinya di sebuah putaran balik yang tajam, membiarkan ban mobil mencicit sedikit di atas aspal basah.
"Baiklah. Kita pulang," ucap Bagas. Suaranya melunak, namun tetap menyimpan otoritas yang tak terbantah.
Mobil melaju pelan, membelah kabut tipis sisa hujan. Suasana di dalam mobil itu mendadak terasa sangat intim, seolah-olah dunia luar telah lenyap.
Bagas menghentikan mobilnya sejenak di tepi jalan yang remang-remang, jauh dari lampu jalan utama, di bawah naungan pohon mahoni besar.
Pria itu melepaskan sabuk pengamannya dengan gerakan pelan, menghasilkan suara ‘klik’ yang bergema.
Bagas bergeser sedikit, membuat tubuhnya menghadap Anya. Anya tersentak, punggungnya menempel erat pada pintu mobil, matanya yang sembab menatap Bagas dengan bimbang. Namun, Bagas tidak melakukan gerakan kasar.
Pria itu justru mengulurkan tangan, jemarinya yang hangat menyentuh dagu Anya, mengangkat wajah wanita itu agar menatap tepat ke matanya yang gelap namun jernih.
"Lihat aku, Anya," bisik Bagas. Suaranya rendah, bergetar dengan intensitas yang membuat bulu kuduk Anya meremang.
Ibu jari Bagas bergerak sangat perlahan, menghapus sisa air mata di pipi Anya dengan gerakan yang begitu lembut, seolah Anya adalah sebuah porselen paling rapuh di dunia.
Bagas membiarkan tangannya tetap di sana, membingkai wajah Anya, memberikan kehangatan yang kontras dengan pakaian Anya yang lembap dan dingin. Anya terpaku. Sentuhan ini sangat asing. Tidak ada paksaan, maupun penghinaan. Hanya ada rasa hormat yang dapat Anya rasakan.
Bagas mencondongkan tubuhnya sedikit lagi, memperpendek jarak hingga Anya bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu di wajahnya. Aroma kayu cendana yang menenangkan, kembali mengepung indra penciumannya, memberikan rasa aman yang semu namun sangat ia butuhkan.
"Bernapaslah, Anya. Tenang, semua akan baik-baik saja," bisik Bagas lagi. Jarak mereka kini begitu dekat hingga kening mereka nyaris bersentuhan.
Tangan Bagas turun perlahan dari pipi Anya, meluncur ke bawah hingga ia menyentuh pergelangan tangan Anya yang masih dingin. Ia mengusap nadi Anya dengan lembut menggunakan ibu jarinya, seolah sedang menyalurkan seluruh sisa kekuatannya kepada wanita itu.
Anya menahan napas, matanya terkunci pada manik mata Bagas. Untuk sesaat, ketakutannya pada Gusti tertutup oleh pesona pria di depannya. Seorang pria yang memandangnya sebagai manusia, bukan sekadar barang mainan.
Bagas tidak mengatakan apapun lagi yang berupa janji palsu. Ia hanya menatap Anya dengan tatapan yang seolah menjanjikan bahwa semua akan benar-benar baik saja.
“Kamu akan baik-baik saja, Anya,” ucap Bagas lagi. Terdengar seperti sebuah kepastian bagi Anya.
Untuk sesaat, Anya memilih untuk percaya dengan itu. “Ya, terima kasih, Paman.”
Anya menatap Bagas yang mengangguk puas setelah melihat wanita itu lebih tenang. Bagas pun kembali dengan kemudinya.
Mobil mewah itu kembali melaju dengan tenang. Saat mereka memasuki kawasan perumahan elit tempat tinggal Anya, ketegangan kembali merayap di pundak Anya.
Bagas tidak menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang megah kediaman Biantara. Ia menepi di sebuah sudut jalan yang gelap, sekitar dua ratus meter sebelum rumah itu.
"Aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini, Anya," ucap Bagas pelan sambil mematikan lampu utama mobil, membuat mereka tenggelam dalam kegelapan yang hanya diterangi cahaya dari dashboard. "Aku tidak ingin ada mata-mata Gusti atau pelayannya yang melihatmu turun dari mobilku. Berjalanlah dengan tenang, dan lupakan sejenak bahwa kamu baru saja bertemu denganku."
Anya mengangguk pelan, tenggorokannya terasa terlalu sempit untuk sekadar mengucapkan terima kasih. Ia membuka pintu mobil dan melangkah turun ke udara malam yang dingin.
Saat pintu tertutup, ia merasa seolah pelindungnya baru saja menghilang. Ia berjalan dengan kaki yang masih perih, menyeret langkahnya di atas trotoar basah.
Anya masuk ke dalam rumah dengan langkah yang sangat hati-hati, bahkan suara napasnya sendiri terdengar terlalu keras baginya. Ia berharap Gusti masih di luar, atau setidaknya sudah tidur. Namun, harapannya hancur berkeping-keping.
Baru saja ia melewati ambang pintu depan yang gelap, sebuah suara klik tajam terdengar, dan lampu ruang tamu yang kristalnya menggantung mewah tiba-tiba menyala terang benderang. Anya refleks menutup matanya karena silau.
"Tepat waktu," suara Gusti menggema di ruangan yang luas itu.
Anya membuka mata dan mendapati Gusti sudah duduk di sana, di atas sofa tunggal kulitnya. Di atas meja kopi di depannya, tergeletak sebuah sepatu hak tinggi berwarna merah yang basah kuyup dan kotor. Sepatu yang sempat Anya lepas di pinggir jalan tadi."Dari mana saja kamu, Anya?" tanya Gusti dengan suara yang sangat tenang, namun matanya menatap tajam ke arah rambut Anya yang masih lembab.
“Paman Bagas?” tanya Anya. Berusaha menyembunyikan rasa penasarannya."Apakah setelah Reni menemanimu, Bagas datang lagi ke sini?" Anggun menghela napas sejenak sebelum melanjutkan pertanyaannya dengan selidik yang amat kentara."Tidak Ma, paman Bagas tidak pernah datang lagi ke sini," jawab Anya berusaha setenang mungkin, meski jantungnya berdegup kencang mendengar nama itu disebut kembali oleh sang ibu mertua."Bagas susah Mama hubungi belakangan ini. Baiklah, saatnya kita istirahat," keluhnya sembari mengakhiri pembicaraan.Anya dan Anggun kemudian bangkit berdiri, lalu melangkah beriringan memasuki kamar masing-masing di lantai atas untuk mengakhiri malam yang melelahkan itu. Namun, keheningan rumah tersebut ternyata tidak bertahan lama setelah mereka menyelesaikan makan malam darurat yang canggung beberapa saat sebelumnya.Drrrt ... Drrrt ...Ponsel milik Anggun yang tergeletak di atas meja makan mendadak berdering nyaring, memecah kesunyian malam dengan getaran yang panjang. Ang
Anya tersentak pelan, berjalan menuju dapur bersih untuk mengambilkan segelas air putih hangat tanpa berniat menunjukkan kepatuhan yang berlebihan."Aku baik-baik saja, seperti yang Mama lihat. Gusti tidak perlu seberlebihan itu sampai harus merepotkan Mamanya yang baru saja menempuh perjalanan jauh dari luar negeri."Anggun menerima gelas yang disodorkan Anya, meminumnya sedikit lalu meletakkannya kembali di atas meja kaca dengan gerakan yang teramat pelan dan penuh wibawa seorang nyonya besar."Hubungan kalian sedang tidak baik, ya? Mama perhatikan kamu ketus sekali sejak tadi," ucap Anggun memancing reaksi, matanya terus mempelajari setiap perubahan ekspresi di wajah pucat asisten CEO tersebut. "Sifat Gusti memang kadang terlalu pencemas, tapi itu karena dia peduli pada istrinya."Anya mengepalkan kedua tangan di balik saku blazer kerja, mencoba sekuat tenaga menahan diri agar tidak meledak di hadapan ibu mertuanya ini. Kehadiran Anggun di rumahnya malam ini benar-benar menjadi uji
Anya membungkuk untuk mengambil foto tersebut, berniat mengembalikannya ke dalam map agar tidak hilang atau tercecer. Namun, pandangannya terkunci pada objek di dalam foto. Sebuah potret lama yang menampilkan seorang wanita."Sudah ketemu berkasnya, Anya?" tanya Bagas, suaranya tiba-tiba terdengar lebih dekat karena ia sudah berdiri beberapa langkah di belakang Anya."Ini berkasnya, Pak. Dan maaf, foto ini tadi tidak sengaja terjatuh dari dalam map." Anya sedikit tersentak, buru-buru membalikkan tubuhnya menghadap Bagas sambil menyodorkan map beserta foto kecil yang tadi terjatuh.Bagas menerima map tersebut, lalu pandangannya beralih pada selembar foto kecil yang berada di atas jemari Anya yang ramping. Gurat wajah pria itu melembut, menyiratkan kerinduan sekaligus ketegasan yang mendalam saat jemarinya mengambil alih foto tersebut dengan sangat hati-hati."Terima kasih sudah mengamankannya, Anya. Ini adalah salah satu motivasi terbesar saya untuk berada di posisi sekarang," ucap Bag
Anya memalingkan wajahnya ke arah laptop. Wanita itu berpura-pura kembali sibuk menatap layar demi menyembunyikan rona tipis yang mendadak muncul di kedua pipinya. Debaran aneh di dadanya kian tak menentu. Kata-kata Bagas entah mengapa terdengar begitu protektif, seolah ada maksud tersembunyi yang belum sanggup ia cerna di tengah kalutnya pikiran."Pak Bagas, ini dokumen laporan bagian kedua sudah selesai saya verifikasi dan rapikan," lapor Anya formal, mencoba mengembalikan profesionalitas kerjanya.Bagas mendongak dari balik layar komputernya, menatap Anya dengan binar mata penuh apresiasi atas kinerja kilat asisten sementaranya itu. "Luar biasa, Anya. Kebetulan ini sudah memasuki jam makan siang. Saya sudah meminta Sandi untuk memesankan makanan khusus untuk kita berdua di ruangan ini " ujar Bagas, tersenyum tipis."Pak, Anda tidak perlu repot sampai memesankan makanan untuk saya. Saya bisa makan di kantin bawah bersama staf yang lain." Anya agak terkejut mendengar penuturan bosny
Di dalam kamar mandi, Anya spontan membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan demi menahan napas yang mendadak terasa sesak. Jantungnya berdegup begitu kencang, ikut merasakan ketegangan yang luar biasa dari balik dinding pembatas."Saya tidak pernah main-main dengan ucapan saya, Claudia. Wanita itu ada, dan dia adalah satu-satunya orang yang ingin saya lindungi seumur hidup saya," sahut Bagas, suaranya mengalun tenang namun sarat akan ketegasan yang mutlak.Bagas berjalan memutari meja kerjanya, sengaja meletakkan jarak fisik yang lebih jauh agar Claudia tidak lagi mencoba meraih atau menyentuh tubuhnya seperti tadi. Tatapannya lurus menatap wanita yang kini mulai menangis sesenggukan, meratapi harga dirinya yang sudah jatuh berkeping-keping di lantai marmer itu."Kenapa harus orang lain, Bagas? Apa kurangnya aku selama ini?!" tuntut Claudia dengan suara yang mulai serak akibat terlalu banyak berteriak dan menangis.Claudia melangkah maju beberapa pijakan. Menatap Bagas dengan pan
"Anya! Kamu tidak apa-apa?" tanya Bagas panik, kedua tangannya kini memegangi bahu Anya dengan sangat erat namun penuh kehati-hatian."Maaf, Pak Bagas. Saya hanya sedikit pusing." Suara Anya terdengan dipaksakan."Jangan pikirkan kertas-kertas itu, Anya. Kesehatanmu jauh lebih berharga dari semua laporan di ruangan ini," bisik Bagas, suaranya terdengar begitu bergetar karena rasa khawatir yang nyata.Mendengar perhatian yang begitu besar dari Bagas, air mata yang sejak pagi ditahan Anya akhirnya luruh juga, membasahi pipinya yang tampak tirus. Anya menangis tanpa suara, meratapi nasibnya yang begitu malang."Menangislah jika itu bisa membuat beban di dadamu berkurang, Anya. Saya tidak akan bertanya kenapa, tapi saya akan selalu ada di sini untukmu," ucap Bagas dengan untaian kata yang begitu menenangkan jiwa."Terima kasih, Pak Bagas. Maaf saya sudah bersikap tidak profesional di depan Anda hari ini." Anya menerima tisu dari tangan Bagas, mencoba meredam isak tangisnya yang mulai terd







