Home / Romansa / Paman, Bawa Aku Pergi / 5. Janji yang Terhapus Hujan

Share

5. Janji yang Terhapus Hujan

Author: Bunga
last update publish date: 2026-02-10 13:17:20

"Tadi ... pelayan, Mas. Ada pelayan yang tidak sengaja menabrakku saat membawa nampan," dusta Anya dengan suara yang kecil. 

Gusti tertawa sinis. Bagi Anya, suara tawa itu terdengar seperti geraman predator yang mempermainkan mangsanya. 

Anya meringis ketika Gusti merenggut dagu Anya dengan keras, memaksa dirinya menatap tepat ke mata suaminya yang merah. 

"Pelayan? Kamu pikir aku bodoh, Anya? Pelayan di rumah Kakek tidak memakai parfum dengan aroma sekelas ini!”  tuduh Gusti, matanya menatap milik Anya dengan tajam.

"Sungguh, Mas. Aku tidak bohong," isak Anya, tubuhnya bergetar hebat.

Gusti mendorong Anya hingga tersungkur ke atas ranjang. Ia berdiri menjulang di atas Anya, menatapnya dengan tatapan jijik. 

"Jangan pernah coba-coba bersandiwara di depanku. Kamu itu milikku, Anya. Jika ada pria lain yang berani menyentuhmu, aku pastikan mereka tidak akan pernah bisa menyentuh apapun lagi selamanya!"

Gusti mulai berjalan mondar-mandir di depan ranjang, langkah sepatunya yang berat berdentum di atas lantai kayu. Dominasinya menciptakan rasa takut dan tidak nyaman bagi Anya.

"Apa dia menyentuhmu di sini?" Gusti menyambar pergelangan tangan Anya yang masih memar, menekannya dengan ibu jari hingga Anya memekik kesakitan. "Atau di sini?" Gusti beralih mencengkeram bahu Anya. "Katakan! Siapa pria itu? Siapa bajingan yang sudah berani mengotori milikku?"

"Tidak ada siapapun, Mas. Tolong, hentikan!" Anya menggeleng histeris, air mata mulai membasahi pipinya. 

Gusti berhenti bergerak. Amarahnya yang tadinya meluap-luap tiba-tiba mendingin secara tidak wajar. Gusti kemudian berbalik, membelakangi Anya, menatap pantulan dirinya sendiri di jendela besar kamar yang gelap. Ia memijat pelipisnya, menarik napas dalam berkali-kali.

Keheningan yang mencekam menyelimuti kamar itu. Anya hanya bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Gusti tidak menyentuhnya lagi, mungkin ia mulai percaya atau mungkin ia lelah. Anya hanya bisa menduga-duga. 

"Baiklah, aku anggap kamu tidak berbohong kali ini," ucap Gusti tanpa menoleh sedikit pun. Suaranya kini kembali datar, namun nada dinginnya tetap menusuk tulang. 

Gusti berbalik sedikit, melirik Anya dengan tatapan meremehkan. 

"Besok siang, dandan yang cantik. Pakai gaun yang kubelikan. Nanti aku kirimkan alamat tempat makannya, kamu diantar Pak Jaya saja. Aku ingin menebus suasana buruk malam ini dengan makan siang yang tenang. Jangan membuatku marah lagi seperti malam ini."

***

Keesokan harinya, sesuai perintah yang tak bisa dibantah, Anya sudah duduk di sebuah restoran rooftop mewah yang alamatnya dikirimkan Gusti lewat pesan singkat. Ia mengenakan gaun merah midi yang sangat indah, pilihan Gusti. 

Jarum jam merambat ke angka dua siang, lalu ke angka tiga. Gusti tidak kunjung datang. 

Meja mewah yang dipesan atas nama Gusti Biantara masih menyisakan satu kursi kosong. Pak Jaya, sopir yang mengantarnya, sudah diminta Gusti untuk segera pergi setelah menurunkan Anya.

Anya mengambil ponselnya dan memutuskan untuk menelpon Gusti. Nada dering berbunyi untuk waktu yang lama, kemudian sambungan terputus. Anya menghela napas sebelum menelepon lagi.

Telepon tersambung.

“Halo-”

Belum sempat Anya berkata apa-apa, sudah terdengar suara wanita yang menggema di belakang sana. “Sayang, jangan pergi dulu! Aku masih kangen!” seru wanita itu, suaranya terdengar manja.

Anya membelalak. Hatinya rasanya begitu perih sekarang. “Halo, Mas! Mas di mana? Ada siapa di sana!?” pekik Anya frustasi. 

Alih-alih menjawab dengan benar, Gusti malah membentak Anya. “Jangan telepon aku!”

Telepon tiba-tiba dimatikan, meninggalkan Anya yang termenung dengan air mata yang menggenang. Ia benar-benar tidak mengerti tindakan suaminya itu. 

Anya melirik jam di dalam ponselnya. Sudah pukul empat sore. 

Saat itu pun pelayan restoran mendekat dengan raut wajah penuh simpati. "Maaf, Mbak, meja ini sudah dipesan untuk reservasi makan malam pukul lima. Apakah Mbak ingin memesan sesuatu yang lain atau...."

"Tidak, terima kasih. Saya akan pergi," Anya tersenyum kaku yang terlihat begitu hancur.

Anya berdiri, rasa nyeri di dadanya semakin menjadi. Ia berjalan keluar dari gedung mewah itu sendirian. Anya melangkah keluar dari lobi dengan gontai. 

Ia sengaja tidak mencari taksi, berniat mencari udara segar untuk menenangkan dadanya yang terasa meledak. Anya lalu berjalan tanpa tujuan.

Tanpa disadari, hujan mulai turun, Anya tertegun di trotoar yang mulai tergenang air. Ia tidak berlari mencari tempat berteduh. Ia justru diam membeku, membiarkan butiran air hujan yang dingin membasahi gaun mahalnya. 

Ia terus berjalan tertatih, hingga rasa perih di kaki dan dadanya menyatu dalam isakan yang pecah di bawah guyuran hujan. Ia merasa seperti sampah yang dibuang setelah tidak lagi diperlukan.

Tiba-tiba, rintik hujan yang menghantam punggungnya berhenti. Sebuah bayangan besar jatuh menutupi tubuhnya diikuti dengan sebuah payung besar yang menadahi. 

Anya mendongak dengan wajah basah kuyup. Bagas Darmawan berdiri di sana. Wajahnya begitu tenang dan berwibawa, namun matanya menatap Anya dengan sungguh dalam. 

Bagas memegang payung itu dengan kokoh, membiarkan separuh bahu jasnya sendiri basah kuyup. Ia menyesuaikan letak payungnya, memastikan Anya terlindungi sepenuhnya.

"Paman Bagas!?" suara Anya bergetar hebat dan terdengar begitu pilu.

"Ikut aku," ucap Bagas singkat. Ia tidak menarik tangan Anya dengan kasar seperti apa yang biasa Gusti lakukan. Bagas justru menyodorkan lengannya, memberikan tumpuan yang kokoh bagi wanita yang nyaris roboh itu. 

Anya melihat mobil Bagas yang terparkir di pinggir jalan. Bagas membukakan pintunya untuk Anya. Tanpa banyak pertanyaan, Anya masuk ke dalam mobil dengan tenang.

Di dalam mobil yang hangat dan kedap suara, Bagas memberikan handuk kecil tanpa berkata-kata. Ia menjalankan mobilnya menjauh, namun Anya segera menyadari bahwa mereka tidak menuju ke arah perumahan tempat tinggalnya.

"Paman, kita mau ke mana? Ini bukan jalan pulang," tanya Anya cemas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Paman, Bawa Aku Pergi   88. Sentuhan Lembut di Bathtub

    Setelah hantaman gairah yang begitu beringas di depan cermin mereda, Bagas tidak membiarkan penyatuan mereka terputus begitu saja. Dengan sisa-sisa tenaga kekarnya, ia menggendong tubuh polos Anya yang sudah lemas tak berdaya, membawanya melangkah menuju bathtub .Bagas menurunkan Anya dengan teramat perlahan, menuntun Anya untuk duduk bersandar di tepi bathtub yang masih kering. Anya melenguh tipis, menyandarkan kepalanya yang terasa pening akibat pelepasan dahsyat tadi, sementara sepasang matanya menatap Bagas dengan tatapan sayu yang sarat akan cinta."Mas, saya sudah lemas sekali," ucap Anya dengan suara parau yang terputus-putus, napasnya masih menyisakan sisa-sisa badai gairah yang baru saja berlalu.Bagas tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu justru ikut masuk dan berlutut di hadapan Anya. Tatapan matanya yang semula beringas kini berubah menjadi begitu hangat dan penuh puja. Bagas memajukan tubuhnya, menunduk untuk mengecup lembut kening Anya, menyalurkan rasa sayang yang

  • Paman, Bawa Aku Pergi   87. Pesona di Depan Cermin

    Anya refleks menutup wajahnya dengan kedua tangan. Merasa teramat malu sekaligus terangsang hebat melihat pemandangan vulgar nan erotis dari pantulan diri mereka sendiri. Cermin sebagai saksi kenikmatannya."Mas, jangan lihat, saya malu," bisik Anya dengan suara yang bergetar.Bagas memeluk tubuh Anya yang menggantung dari belakang, menumpukan dagunya di bahu ramping sang asisten sambil menatap tajam pantulan mata sayu Anya di cermin. Ia menurunkan paksa tangan Anya dari wajahnya, membiarkan jemari mereka saling bertautan erat tanpa mengendurkan sedikit pun penyatuan intim mereka."Buka matamu, Sayang. Lihat ke cermin! Lihat bagaimana cantiknya dirimu saat saya miliki seutuhnya seperti ini," bisik Bagas dengan nada yang terdengar begitu romantis namun teramat panas, membuat jantung Anya berdentum dua kali lebih cepat. "Kamu adalah milik saya, dan pantulan di depan sana adalah buktinya."Bagas sengaja tidak langsung bergerak cepat. Ia membiarkan Anya menatapi pantulan tubuh mereka seje

  • Paman, Bawa Aku Pergi   86. Kendali Mutlak di Meja Kerja

    Bagas menyunggingkan seringai puas saat melihat kemejanya kini telah menyatu dengan pakaian Anya, berserakan tak berdaya di atas lantai marmer ruang kerja. Kulit polos mereka yang saling bersentuhan tanpa pembatas seolah menciptakan sengatan listrik yang kian membakar atmosfer ruangan.Dengan dominasi yang mutlak, Bagas meraih pinggang ramping Anya. Ia menuntun tubuh molek sekretarisnya itu untuk berbalik, membelakanginya dan menghadap langsung ke arah meja kerja jati yang kokoh."Mas... apa tidak terlalu berisiko?" bisik Anya parau dengan napas yang memburu, melirik gugup ke arah pintu ruang kerja lewat sudut matanya.Bagas hanya menyunggingkan seringai tipis. Ia menunduk, mengecup tengkuk Anya yang mulus dengan kehangatan yang intim sebelum berbisik seksi, "Risiko terbesar saya adalah kehilangan kendali atas diri kamu, Anya. Jadi diam dan nikmati ini," geram Bagas rendah.Bagas merapatkan dada bidangnya yang tegap pada punggung polos Anya, merasakan detak jantung wanita itu yang ber

  • Paman, Bawa Aku Pergi   85. Misteri Tamu di Lobi

    "Tamu atas nama, Ibu Claudia." Jawaban itu, terdengar jelas oleh Anya.Mendengar nama itu disebut, Bagas langsung menjawab dengan nada tegas dan penuh penekanan."Sampaikan kepada dia, saya tidak datang ke kantor. Minta dia pulang," perintah Bagas.Begitu Bagas menutup gagang telepon dengan hentakan pelan, suasana ruangan mendadak diselimuti kecurigaan yang tipis. Anya langsung melangkah mendekat, menatap sang CEO dengan sepasang mata yang menuntut penjelasan."Siapa Mas, Claudia itu?" tanya Anya langsung, mencoba menahan getaran penasaran sekaligus cemburu di dalam suaranya.Bagas berbalik, menatap Anya. Ia melangkah maju, mengikis jarak di antara mereka hingga tubuh mereka kembali berdekatan. Ditangkupnya kedua pipi Anya dengan tangan hangatnya, memaksa sang sekretaris untuk menatap langsung ke dalam manik matanya demi memberikan keyakinan penuh."Bukan siapa-siapa, sayang. Dia hanya wanita yang memang terobsesi untuk menjadi istri Saya, tapi Saya sama sekali tidak tertarik," jawab

  • Paman, Bawa Aku Pergi   84. Kendali Penuh sang CEO

    Melihat reaksi Anya, Bagas tidak terburu-buru untuk langsung menyatukan kembali tubuh mereka. Setelah membaringkan Anya dalam posisi miring, Bagas merendahkan tubuhnya, perlahan mengangkat satu paha mulus Anya untuk bersandar di atas bahu kekarnya, membuka akses penuh pada keindahan di bawah sana. Tanpa memberikan aba-aba, Bagas langsung menundukkan kepalanya dan mendaratkan bibir serta lidah hangatnya, menghisap bagian intim Anya dengan begitu lahap dan berirama."Mas Bagas, ahhh! Jangan dihisap lagi, Mas, emhh, geli sekali," jerit Anya tertahan, jemari tangannya meremas kuat bantal sofa kulit saat merasakan lidah Bagas bergerak kian piawai memanjakan pusat sensitivitasnya.Bagas terkekeh rendah di sela-sela kegiatannya, suaranya terdengar teredam namun sarat akan kepuasan mutlak. Ia mendongak sekilas, menatap wajah merona Anya dengan pandangan yang begitu dalam."Kamu tinggal menikmati bagaimana cara saya memujamu, Anya. Katakan, apa lidah saya terasa jauh lebih nikmat di bawah sana

  • Paman, Bawa Aku Pergi   83. Penyerahan Tanpa Syarat

    "Mas Bagas, ahhh, saya milik Mas Bagas pagi ini. Tolong, hentikan gesekannya, Mas," rintih Anya pasrah, akhirnya menyerahkan seluruh harga dirinya demi menuntaskan dahaga gairah yang membakar.Bagas tersenyum puas mendengar pengakuan tulus dari belahan bibir Anya. Tanpa membuang waktu lagi, ia merangsek maju dan menyatukan tubuh mereka dalam satu hentakan dalam yang mantap. Anya memekik tertahan, tubuhnya menegang sempurna saat kejantanan Bagas langsung memenuhi dirinya tanpa menyisakan celah.Belum sempat Anya mengatur napasnya yang memburu akibat hantaman kenikmatan itu, Bagas tiba-tiba mencengkeram pinggang ramping Anya. Dengan kekuatan fisiknya yang dominan, ia mengangkat tubuh Anya dari atas permukaan meja kerja, sama sekali tanpa melepaskan penyatuan panas di antara mereka."Mas Bagas! Ahhh! Jatuh, saya takut jatuh, Mas!" jerit Anya panik dalam kegelapan kasat mata yang mengurungnya.Mau tidak mau, didorong rasa takut akan ketinggian dan posisi yang melayang, Anya refleks merang

  • Paman, Bawa Aku Pergi   6. Oksigen yang Baru

    "Ke apartemenku," jawab Bagas datar. "Kamu basah kuyup, Anya. Kamu butuh pakaian kering dan tempat untuk menenangkan diri."Anya mengerjap. Ia memang ingin menenangkan diri sebelum akan bertemu Gusti kembali. Bagas seolah tahu suasana hatinya yang sedang hancur. Namun, kata 'apartemen' itu membuat

  • Paman, Bawa Aku Pergi   4. Bahasa yang Tak Terucap

    "Paman, dia keluar! Jas ini …!" Anya buru-buru melepas jas wol itu dengan tangan yang gemetar hebat.Bagas menerima jasnya dengan gerakan sangat tenang. "Tenanglah, Anya. Atur napasmu.""Paman harus pergi, cepat!" bisik Anya panik, matanya terus melirik ke arah pintu perpustakaan yang mulai terbuka

  • Paman, Bawa Aku Pergi   3. Sentuhan Ketenangan

    Aroma parfum maskulin yang elegan, seketika memenuhi indranya. Ini bukan aroma Gusti yang tajam dan mendominasi. "Sstt ... ini aku, Anya. Jangan takut," bisik Bagas tepat di telinganya.Bagas perlahan melepaskan tangannya. Anya berbalik, menyandarkan punggungnya pada pilar marmer yang dingin, menc

  • Paman, Bawa Aku Pergi   2. Tanda yang Terlihat

    “Tidak, Mas,” bisik Anya berbohong. Sudah tidak sanggup lagi rasanya berdebat dengan suaminya.Permainan menyakitkan Gusti pun dimulai. Anya hanya bisa meringis tiap kali pria itu menggunakan tubuhnya hanya untuk memuaskan hasrat. Tidak ada hal lembut yang bisa Anya rasakan, tidak seperti apa kata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status