ログイン"Tadi ... pelayan, Mas. Ada pelayan yang tidak sengaja menabrakku saat membawa nampan," dusta Anya dengan suara yang kecil.
Gusti tertawa sinis. Bagi Anya, suara tawa itu terdengar seperti geraman predator yang mempermainkan mangsanya.
Anya meringis ketika Gusti merenggut dagu Anya dengan keras, memaksa dirinya menatap tepat ke mata suaminya yang merah.
"Pelayan? Kamu pikir aku bodoh, Anya? Pelayan di rumah Kakek tidak memakai parfum dengan aroma sekelas ini!” tuduh Gusti, matanya menatap milik Anya dengan tajam.
"Sungguh, Mas. Aku tidak bohong," isak Anya, tubuhnya bergetar hebat.
Gusti mendorong Anya hingga tersungkur ke atas ranjang. Ia berdiri menjulang di atas Anya, menatapnya dengan tatapan jijik.
"Jangan pernah coba-coba bersandiwara di depanku. Kamu itu milikku, Anya. Jika ada pria lain yang berani menyentuhmu, aku pastikan mereka tidak akan pernah bisa menyentuh apapun lagi selamanya!"
Gusti mulai berjalan mondar-mandir di depan ranjang, langkah sepatunya yang berat berdentum di atas lantai kayu. Dominasinya menciptakan rasa takut dan tidak nyaman bagi Anya.
"Apa dia menyentuhmu di sini?" Gusti menyambar pergelangan tangan Anya yang masih memar, menekannya dengan ibu jari hingga Anya memekik kesakitan. "Atau di sini?" Gusti beralih mencengkeram bahu Anya. "Katakan! Siapa pria itu? Siapa bajingan yang sudah berani mengotori milikku?"
"Tidak ada siapapun, Mas. Tolong, hentikan!" Anya menggeleng histeris, air mata mulai membasahi pipinya.
Gusti berhenti bergerak. Amarahnya yang tadinya meluap-luap tiba-tiba mendingin secara tidak wajar. Gusti kemudian berbalik, membelakangi Anya, menatap pantulan dirinya sendiri di jendela besar kamar yang gelap. Ia memijat pelipisnya, menarik napas dalam berkali-kali.
Keheningan yang mencekam menyelimuti kamar itu. Anya hanya bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Gusti tidak menyentuhnya lagi, mungkin ia mulai percaya atau mungkin ia lelah. Anya hanya bisa menduga-duga.
"Baiklah, aku anggap kamu tidak berbohong kali ini," ucap Gusti tanpa menoleh sedikit pun. Suaranya kini kembali datar, namun nada dinginnya tetap menusuk tulang.
Gusti berbalik sedikit, melirik Anya dengan tatapan meremehkan.
"Besok siang, dandan yang cantik. Pakai gaun yang kubelikan. Nanti aku kirimkan alamat tempat makannya, kamu diantar Pak Jaya saja. Aku ingin menebus suasana buruk malam ini dengan makan siang yang tenang. Jangan membuatku marah lagi seperti malam ini."
***
Keesokan harinya, sesuai perintah yang tak bisa dibantah, Anya sudah duduk di sebuah restoran rooftop mewah yang alamatnya dikirimkan Gusti lewat pesan singkat. Ia mengenakan gaun merah midi yang sangat indah, pilihan Gusti.
Jarum jam merambat ke angka dua siang, lalu ke angka tiga. Gusti tidak kunjung datang.
Meja mewah yang dipesan atas nama Gusti Biantara masih menyisakan satu kursi kosong. Pak Jaya, sopir yang mengantarnya, sudah diminta Gusti untuk segera pergi setelah menurunkan Anya.
Anya mengambil ponselnya dan memutuskan untuk menelpon Gusti. Nada dering berbunyi untuk waktu yang lama, kemudian sambungan terputus. Anya menghela napas sebelum menelepon lagi.
Telepon tersambung.
“Halo-”
Belum sempat Anya berkata apa-apa, sudah terdengar suara wanita yang menggema di belakang sana. “Sayang, jangan pergi dulu! Aku masih kangen!” seru wanita itu, suaranya terdengar manja.
Anya membelalak. Hatinya rasanya begitu perih sekarang. “Halo, Mas! Mas di mana? Ada siapa di sana!?” pekik Anya frustasi.
Alih-alih menjawab dengan benar, Gusti malah membentak Anya. “Jangan telepon aku!”
Telepon tiba-tiba dimatikan, meninggalkan Anya yang termenung dengan air mata yang menggenang. Ia benar-benar tidak mengerti tindakan suaminya itu.
Anya melirik jam di dalam ponselnya. Sudah pukul empat sore.
Saat itu pun pelayan restoran mendekat dengan raut wajah penuh simpati. "Maaf, Mbak, meja ini sudah dipesan untuk reservasi makan malam pukul lima. Apakah Mbak ingin memesan sesuatu yang lain atau...."
"Tidak, terima kasih. Saya akan pergi," Anya tersenyum kaku yang terlihat begitu hancur.
Anya berdiri, rasa nyeri di dadanya semakin menjadi. Ia berjalan keluar dari gedung mewah itu sendirian. Anya melangkah keluar dari lobi dengan gontai.
Ia sengaja tidak mencari taksi, berniat mencari udara segar untuk menenangkan dadanya yang terasa meledak. Anya lalu berjalan tanpa tujuan.
Tanpa disadari, hujan mulai turun, Anya tertegun di trotoar yang mulai tergenang air. Ia tidak berlari mencari tempat berteduh. Ia justru diam membeku, membiarkan butiran air hujan yang dingin membasahi gaun mahalnya.
Ia terus berjalan tertatih, hingga rasa perih di kaki dan dadanya menyatu dalam isakan yang pecah di bawah guyuran hujan. Ia merasa seperti sampah yang dibuang setelah tidak lagi diperlukan.
Tiba-tiba, rintik hujan yang menghantam punggungnya berhenti. Sebuah bayangan besar jatuh menutupi tubuhnya diikuti dengan sebuah payung besar yang menadahi.
Anya mendongak dengan wajah basah kuyup. Bagas Darmawan berdiri di sana. Wajahnya begitu tenang dan berwibawa, namun matanya menatap Anya dengan sungguh dalam.
Bagas memegang payung itu dengan kokoh, membiarkan separuh bahu jasnya sendiri basah kuyup. Ia menyesuaikan letak payungnya, memastikan Anya terlindungi sepenuhnya.
"Paman Bagas!?" suara Anya bergetar hebat dan terdengar begitu pilu.
"Ikut aku," ucap Bagas singkat. Ia tidak menarik tangan Anya dengan kasar seperti apa yang biasa Gusti lakukan. Bagas justru menyodorkan lengannya, memberikan tumpuan yang kokoh bagi wanita yang nyaris roboh itu.
Anya melihat mobil Bagas yang terparkir di pinggir jalan. Bagas membukakan pintunya untuk Anya. Tanpa banyak pertanyaan, Anya masuk ke dalam mobil dengan tenang.
Di dalam mobil yang hangat dan kedap suara, Bagas memberikan handuk kecil tanpa berkata-kata. Ia menjalankan mobilnya menjauh, namun Anya segera menyadari bahwa mereka tidak menuju ke arah perumahan tempat tinggalnya.
"Paman, kita mau ke mana? Ini bukan jalan pulang," tanya Anya cemas.
“Paman Bagas?” tanya Anya. Berusaha menyembunyikan rasa penasarannya."Apakah setelah Reni menemanimu, Bagas datang lagi ke sini?" Anggun menghela napas sejenak sebelum melanjutkan pertanyaannya dengan selidik yang amat kentara."Tidak Ma, paman Bagas tidak pernah datang lagi ke sini," jawab Anya berusaha setenang mungkin, meski jantungnya berdegup kencang mendengar nama itu disebut kembali oleh sang ibu mertua."Bagas susah Mama hubungi belakangan ini. Baiklah, saatnya kita istirahat," keluhnya sembari mengakhiri pembicaraan.Anya dan Anggun kemudian bangkit berdiri, lalu melangkah beriringan memasuki kamar masing-masing di lantai atas untuk mengakhiri malam yang melelahkan itu. Namun, keheningan rumah tersebut ternyata tidak bertahan lama setelah mereka menyelesaikan makan malam darurat yang canggung beberapa saat sebelumnya.Drrrt ... Drrrt ...Ponsel milik Anggun yang tergeletak di atas meja makan mendadak berdering nyaring, memecah kesunyian malam dengan getaran yang panjang. Ang
Anya tersentak pelan, berjalan menuju dapur bersih untuk mengambilkan segelas air putih hangat tanpa berniat menunjukkan kepatuhan yang berlebihan."Aku baik-baik saja, seperti yang Mama lihat. Gusti tidak perlu seberlebihan itu sampai harus merepotkan Mamanya yang baru saja menempuh perjalanan jauh dari luar negeri."Anggun menerima gelas yang disodorkan Anya, meminumnya sedikit lalu meletakkannya kembali di atas meja kaca dengan gerakan yang teramat pelan dan penuh wibawa seorang nyonya besar."Hubungan kalian sedang tidak baik, ya? Mama perhatikan kamu ketus sekali sejak tadi," ucap Anggun memancing reaksi, matanya terus mempelajari setiap perubahan ekspresi di wajah pucat asisten CEO tersebut. "Sifat Gusti memang kadang terlalu pencemas, tapi itu karena dia peduli pada istrinya."Anya mengepalkan kedua tangan di balik saku blazer kerja, mencoba sekuat tenaga menahan diri agar tidak meledak di hadapan ibu mertuanya ini. Kehadiran Anggun di rumahnya malam ini benar-benar menjadi uji
Anya membungkuk untuk mengambil foto tersebut, berniat mengembalikannya ke dalam map agar tidak hilang atau tercecer. Namun, pandangannya terkunci pada objek di dalam foto. Sebuah potret lama yang menampilkan seorang wanita."Sudah ketemu berkasnya, Anya?" tanya Bagas, suaranya tiba-tiba terdengar lebih dekat karena ia sudah berdiri beberapa langkah di belakang Anya."Ini berkasnya, Pak. Dan maaf, foto ini tadi tidak sengaja terjatuh dari dalam map." Anya sedikit tersentak, buru-buru membalikkan tubuhnya menghadap Bagas sambil menyodorkan map beserta foto kecil yang tadi terjatuh.Bagas menerima map tersebut, lalu pandangannya beralih pada selembar foto kecil yang berada di atas jemari Anya yang ramping. Gurat wajah pria itu melembut, menyiratkan kerinduan sekaligus ketegasan yang mendalam saat jemarinya mengambil alih foto tersebut dengan sangat hati-hati."Terima kasih sudah mengamankannya, Anya. Ini adalah salah satu motivasi terbesar saya untuk berada di posisi sekarang," ucap Bag
Anya memalingkan wajahnya ke arah laptop. Wanita itu berpura-pura kembali sibuk menatap layar demi menyembunyikan rona tipis yang mendadak muncul di kedua pipinya. Debaran aneh di dadanya kian tak menentu. Kata-kata Bagas entah mengapa terdengar begitu protektif, seolah ada maksud tersembunyi yang belum sanggup ia cerna di tengah kalutnya pikiran."Pak Bagas, ini dokumen laporan bagian kedua sudah selesai saya verifikasi dan rapikan," lapor Anya formal, mencoba mengembalikan profesionalitas kerjanya.Bagas mendongak dari balik layar komputernya, menatap Anya dengan binar mata penuh apresiasi atas kinerja kilat asisten sementaranya itu. "Luar biasa, Anya. Kebetulan ini sudah memasuki jam makan siang. Saya sudah meminta Sandi untuk memesankan makanan khusus untuk kita berdua di ruangan ini " ujar Bagas, tersenyum tipis."Pak, Anda tidak perlu repot sampai memesankan makanan untuk saya. Saya bisa makan di kantin bawah bersama staf yang lain." Anya agak terkejut mendengar penuturan bosny
Di dalam kamar mandi, Anya spontan membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan demi menahan napas yang mendadak terasa sesak. Jantungnya berdegup begitu kencang, ikut merasakan ketegangan yang luar biasa dari balik dinding pembatas."Saya tidak pernah main-main dengan ucapan saya, Claudia. Wanita itu ada, dan dia adalah satu-satunya orang yang ingin saya lindungi seumur hidup saya," sahut Bagas, suaranya mengalun tenang namun sarat akan ketegasan yang mutlak.Bagas berjalan memutari meja kerjanya, sengaja meletakkan jarak fisik yang lebih jauh agar Claudia tidak lagi mencoba meraih atau menyentuh tubuhnya seperti tadi. Tatapannya lurus menatap wanita yang kini mulai menangis sesenggukan, meratapi harga dirinya yang sudah jatuh berkeping-keping di lantai marmer itu."Kenapa harus orang lain, Bagas? Apa kurangnya aku selama ini?!" tuntut Claudia dengan suara yang mulai serak akibat terlalu banyak berteriak dan menangis.Claudia melangkah maju beberapa pijakan. Menatap Bagas dengan pan
"Anya! Kamu tidak apa-apa?" tanya Bagas panik, kedua tangannya kini memegangi bahu Anya dengan sangat erat namun penuh kehati-hatian."Maaf, Pak Bagas. Saya hanya sedikit pusing." Suara Anya terdengan dipaksakan."Jangan pikirkan kertas-kertas itu, Anya. Kesehatanmu jauh lebih berharga dari semua laporan di ruangan ini," bisik Bagas, suaranya terdengar begitu bergetar karena rasa khawatir yang nyata.Mendengar perhatian yang begitu besar dari Bagas, air mata yang sejak pagi ditahan Anya akhirnya luruh juga, membasahi pipinya yang tampak tirus. Anya menangis tanpa suara, meratapi nasibnya yang begitu malang."Menangislah jika itu bisa membuat beban di dadamu berkurang, Anya. Saya tidak akan bertanya kenapa, tapi saya akan selalu ada di sini untukmu," ucap Bagas dengan untaian kata yang begitu menenangkan jiwa."Terima kasih, Pak Bagas. Maaf saya sudah bersikap tidak profesional di depan Anda hari ini." Anya menerima tisu dari tangan Bagas, mencoba meredam isak tangisnya yang mulai terd







