Home / Romansa / Paman, Bawa Aku Pergi / 2. Tanda yang Terlihat

Share

2. Tanda yang Terlihat

Author: Bunga
last update publish date: 2026-02-10 13:16:50

“Tidak, Mas,” bisik Anya berbohong. Sudah tidak sanggup lagi rasanya berdebat dengan suaminya.

Permainan menyakitkan Gusti pun dimulai. Anya hanya bisa meringis tiap kali pria itu menggunakan tubuhnya hanya untuk memuaskan hasrat. Tidak ada hal lembut yang bisa Anya rasakan, tidak seperti apa kata wanita di dalam pesan itu. 

Bukannya kelembutan, Anya harus menahan sakit ketika Gusti mulai menggunakan benda-benda lain. Benda-benda yang sering melukai tubuhnya. Namun, semakin Anya meringis dan menangis, permainan Gusti pun semakin mengganas. 

Setelah puas, Gusti meninggalkan Anya begitu saja di atas kasur. Pria itu bergerak ke kamar mandi.

Anya hanya bisa terkulai lemas dengan air mata yang turun perlahan. Sungguh egois, membersihkan istrinya saja enggan, pikir Anya. 

“Anya,” panggil Gusti setelah keluar dari kamar mandi. “Jangan lupa, besok ada undangan makan malam di rumah Kakek. Pakai baju yang benar, jangan memalukan aku di depan keluarga besar."

“Besok, Mas?”

"Iya! Kenapa? Kamu mau menolak?" Gusti bertanya sinis.

"Tidak, Mas. Tapi.. badanku pasti masih sakit semua."

"Aku tidak peduli! Tutupi semua lecet di tubuhmu itu. Kalau sampai ada yang bertanya, kamu tahu apa yang harus kamu katakan, kan?" ucapan Gusti kembali menusuk ulu hati Anya.

"Iya, Mas. Aku tahu." Anya tidak mau berdebat lagi.

"Apa? Jawabanmu?!" bentak Gusti sambil menunjuk wajah Anya.

"Aku jatuh di kamar mandi. Karena ceroboh," ucap Anya pelan dengan suara bergetar.

"Bagus. Jangan sampai ada satu pun kata yang berbeda keluar dari mulutmu di depan keluargaku Kalau tidak, aku akan pastikan kamu menyesal,” ancam Gusti. 

Pria itu berbalik dan melangkah keluar kamar tanpa menoleh lagi. Setelah pintu tertutup, air mata Anya langsung mengalir deras.

***

Keesokan malamnya, rumah besar Kakek Hartawan tampak begitu megah dengan lampu-lampu kristal yang menyala terang. 

Anya datang mendampingi Gusti dengan gaun sutra leher tinggi berwarna merah tua. Warna yang dipilihkan Gusti dengan sengaja untuk menyembunyikan tanda-tanda di lehernya.

"Berdiri tegak, Anya. Jangan terlihat seperti orang sakit," bisik Gusti tajam tepat di telinga Anya sebelum mereka melangkah masuk. Tangannya merangkul pinggang Anya, namun jemarinya mencengkeram kuat seolah sedang memperingatkan properti miliknya.

"Korsetnya terlalu kencang, Mas. Aku sulit bernapas …," lirih Anya. Napasnya pendek-pendek, terasa sesak setiap kali ia mencoba menghirup udara.

"Tahan. Itu harga yang harus kamu bayar untuk menjadi istri seorang Gusti Biantara. Sekarang, tersenyumlah!" Gusti menatap Anya dengan sorot mata penuh ancaman yang membuat Anya terpaksa menarik sudut bibirnya.

Dengan langkah Anya yang sedikit tergopoh, Anya mengikuti langkah Gusti masuk ke ruang makan.

Di ruang makan, Kakek Hartawan duduk di kepala meja, sementara anggota keluarga lainnya duduk mengelilingi. 

Di ujung meja, duduk pria yang paling disegani, Bagas Darmawan. Paman Gusti itu baru saja kembali dari luar negeri, namun kehadirannya langsung mendominasi ruangan.

"Gusti, bagaimana perkembangan proyek di Surabaya?" tanya Kakek dengan suara baritonnya.

"Lancar, Kek. Semuanya sesuai rencana. Minggu depan aku akan ke sana untuk finalisasi," jawab Gusti dengan nada yang sangat sopan. Suaranya terdengar sangat rendah hati, sangat berbeda dengan sosok iblis yang Anya lihat di dalam kamar mereka.

Anya menunduk, merasakan ketidaknyamanan atas kepalsuan suaminya. Ia sedang tak memerhatikan percakapan lain ketika tiba-tiba suara berat Bagas memecah suasana.

"Anya, kamu tampak pucat sekali malam ini. Apa kamu kurang sehat?" tanya Bagas.

Pertanyaan itu membuat meja makan mendadak hening. 

Anya tersentak, ia mengangkat kepalanya dan mendapati Bagas sedang menatapnya dengan tatapan yang dalam, seolah pria itu bisa melihat menembus bedak tebal di wajahnya.

"Oh, aku ... hanya kurang tidur saja, Paman Bagas. Akhir-akhir ini banyak urusan rumah yang aku kerjakan sendiri."

"Urusan rumah? Bukankah Gusti sudah menyediakan banyak pelayan untukmu?" Bagas bertanya lagi, matanya menyipit tajam. Ada nada selidik yang sekaligus mengandung perhatian aneh di sana. 

Keluarga besar memang tahu sedikit banyak tentang rumah tangga Anya dan Gusti. 

"Iya, Paman. Hanya saja, aku senang melakukannya sendiri," dusta Anya.

Gusti tertawa kecil sambil merangkul bahu Anya dengan kuat. Sialnya, tekanan tangan Gusti tepat berada di atas memar yang masih basah di balik kain gaunnya. Anya berjengit sedikit, menahan perih yang luar biasa yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Anya ini memang terlalu rajin, Paman. Kadang dia sampai ceroboh sendiri," timpal Gusti manis, meski matanya menatap Anya dengan peringatan agar tetap diam.

"Ceroboh bagaimana?" selidik Bagas. Suaranya tetap tenang namun matanya tak lepas dari Anya dan Gusti. 

"Seperti kemarin, dia jatuh di kamar mandi karena terburu-buru. Benar kan, Sayang?" Gusti menoleh pada Anya dengan senyum yang memuakkan.

"Iya, Paman. Aku memang kurang hati-hati," jawab Anya sambil kembali menunduk.

Tiba-tiba, saat seorang pelayan sedang menyajikan air, Anya sedikit bergeser untuk memberi ruang. Secara tidak sengaja, gerakan itu membuat kain sutra tipis di pergelangan tangannya tersingkap. 

Cahaya lampu langsung memperlihatkan jejak ungu kebiruan yang melingkar sempurna. Bekas cengkeraman tangan yang sangat jelas.

Anya langsung membetulkan pakaiannya dengan wajah canggung. Namun ia juga sempat melirik bagas di ujung. Pria itu terdiam, rahangnya tampak mengeras. 

Setelah makan malam, saat Gusti sedang asyik berbincang dengan orang tua dan sepupu-sepupunya, Anya yang merasa sesak memilih menepi ke koridor sunyi dekat taman belakang untuk mencari oksigen. Ia merasa korsetnya makin menjepit tulang rusuknya.

Ketika sedang melamun, seseorang tiba-tiba muncul di sampingnya. Anya hampir berteriak jika pria itu tidak segera bersuara.

"Anya, lihat aku," suara Bagas berat dan penuh otoritas.

"Paman Bagas. Aku kaget," Anya menarik napas dalam.

"Berhenti menunduk, Anya. Luka di tanganmu tadi, dan tanda di lehermu yang coba kamu tutupi. Apa itu perbuatan Gusti?" tanya Bagas. Sorot matanya kini begitu tajam, namun ada kilat kemarahan yang tertuju bukan untuk Anya, melainkan untuk pelaku luka itu.

Anya membeku, napasnya tertahan. "Tidak, Paman. Seperti yang Gusti bilang, aku jatuh,” jawab Anya, kembali berbohong demi keselamatannya sendiri.

"Jatuh tidak akan bisa membuat tangan sampai membiru seperti itu, Anya,” ucap Bagas pelan. Ia memalingkan muka sejenak, tampak sangat tidak percaya dengan alasan itu.

“Tolong Paman jangan ikut campur. Aku tidak apa-apa, Paman. Sungguh!" Anya mulai gemetar. Bahunya berguncang karena isak tangis yang mulai tak tertahankan lagi.

Anya dapat melihat tatapan Bagas melunak, tidak lagi menelisik. Bagas melangkah satu langkah lebih dekat. Ia tidak menyentuh Anya sama sekali, hanya berdiri di dekat Anya, seolah ingin menenangkan. 

Saat Anya sedang ketakutan, tiba-tiba terdengar suara langkah sepatu yang mendekat dari arah ruang tengah. "Anya? Kamu di mana?" panggil orang itu. Itu Gusti!

"Mas Gusti ... dia mencariku!" Anya panik. Ia bersiap untuk pergi.

"Jangan katakan apa-apa padanya," bisik Bagas dengan nada memerintah. Tetapi, anehnya Anya sama sekali tidak merasa tertekan dengan itu. 

Namun, saat Anya kembali menoleh, Bagas sudah menghilang secepat kilat ke balik bayangan taman.

Lalu tiba-tiba…

"Sedang apa kamu di sini sendirian?" Gusti muncul di ambang pintu koridor dengan wajah yang tidak bersahabat. Pria itu mengagetkan Anya. 

"Aku cuma cari udara segar, Mas. Di dalam sangat gerah."

"Ayo ikut aku. Sebelum pulang, kita pamitan kepada kakek dan yang lainnya. Ingat, jangan mengadu pada siapa pun!” Gusti menatap Anya dengan sorot mata yang mengingatkan Anya akan ritual kejamnya di rumah.

Anya menunduk, sudah terlalu lelah untuk melawan. "Tidak, Mas. Aku bersumpah." 

"Bagus. Ayo," pinta Gusti dingin.

Gusti mendekat dan merangkul pinggang Anya dengan sangat kuat. Tekanan itu membuat tulang rusuk Anya yang terhimpit korset terasa akan patah. Tapi Anya yakin Gusti sama sekali tidak peduli.

Saat menuju ruang perpustakaan pribadi di mana orang tua Gusti sedang berbincang, langkah mereka terhenti. Terlihat dari dalam, Ayah Gusti memberikan sebuah kode melalui kaca pintu.

"Anya, tunggu di sini sebentar. Papa ingin bicara empat mata denganku," perintah Gusti sambil menunjuk sebuah sudut koridor yang agak gelap. "Jangan bergerak dan jangan bicara dengan siapapun. Aku hanya sebentar."

Gusti masuk ke perpustakaan dan menutup pintu rapat. Anya berdiri sendirian, gemetar karena kedinginan dan rasa sakit yang berdenyut di balik korset merahnya.

Tiba-tiba, ia merasakan tangannya ditarik dengan lembut namun bertenaga ke balik sebuah pilar besar. Anya hampir menjerit, namun sebuah tangan hangat yang besar segera membungkam mulutnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Paman, Bawa Aku Pergi   94. Fantasi di Atas Meja Kerja

    Tanpa membuang waktu lagi, Bagas memutar tubuh Anya menghadapnya. Dengan satu gerakan sigap, ia menyambar tubuh molek yang masih basah itu ke dalam gendongan kekarnya, mengangkatnya dengan mudah seolah Anya tidak berbobot sama sekali."Mas, kita mau ke mana lagi? Kenapa tidak di sini saja?" tanya Anya parau dengan suara yang terputus-putus. Kedua tangannya mengalung lemas di leher kokoh sang CEO, merasa tubuhnya sudah terlanjur telanjang dan pasrah di dalam area mandi.Bagas hanya terkekeh serak, mempererat dekapannya pada tubuh polos wanitanya sembari melangkah mantap keluar dari kamar mandi. "Di sini areanya terlalu sempit untuk kepuasan yang mau saya berikan, Sayang. Saya punya tempat yang jauh lebih baik untuk membuatmu memohon," jawab Bagas beringas penuh gairah saat membawa Anya menuju ruang kerja privat yang berada di sudut suite room.Bagas tidak membawa Anya ke ranjang besar yang empuk. Dengan dominasi penuh, ia justru menidurkan tubuh polos Anya di atas meja kerja Anya yang

  • Paman, Bawa Aku Pergi   93. Hukuman di Depan Cermin

    Secara mengejutkan, Bagas mendadak menarik lidahnya menjauh dari keintiman Anya yang sudah basah kuyup, tepat sebelum asisten cantiknya itu menyentuh puncak klimaks yang sudah di depan mata. Pria itu menyudahi permainannya di dalam bathtub, menegakkan tubuh tegapnya yang basah dengan napas yang teratur namun menyiratkan dominasi mutlak yang tak terbantahkan.Anya seketika tersentak, matanya terbuka lebar dengan pupil yang berkabut pekat. Rasa panas dan kehangatan yang tiba-tiba hilang di saat ia sudah berada di ujung tanduk pelepasan membuat tubuhnya bagai dijatuhkan dari tebing tinggi. Ia merintih frustrasi, merasakan siksaan gairah yang menggantung di udara menuntut tumpahan yang nyata. Tubuhnya gemetar hebat, menatap Bagas dengan pandangan memohon yang teramat dalam, kehilangan seluruh harga diri formalnya sebagai seorang sekretaris."M-Mas Bagas ahh, kenapa berhenti? Tolong, Mas, sedikit lagi. Saya mohon," ratap Anya pasrah. Jemarinya yang gemetar bergerak liar meremas ujung celan

  • Paman, Bawa Aku Pergi   92. Puncak di Ujung Batas

    Anya tidak menjawab sedikitpun. Ia masih merasakan kenikmatan yang diciptakan Bagas. Pikirannya melayang jauh.“Sayang, masih kuat ditusuk pakai lidah saya?” tanya Bagas kembali, suaranya terdengar teramat parau, berat, dan basah di sela-sela paha Anya yang gemetar hebat.Matanya yang menggelap pekat menatap ke atas, menyaksikan bagaimana asisten cantiknya mencengkeram erat tepi bathtub marmer dengan kuat. Anya tidak langsung menjawab dengan kata-kata. Ia hanya bisa melenguh panjang, menggelengkan kepalanya pasrah dengan air mata kepuasan yang kian deras membasahi pipi meronanya." Ahh, M-Mas Bagas, ahhh, emhh! " cicit Anya di sela napasnya yang terputus-putus. Tubuh moleknya masih menyentak halus, sisa-sisa gelombang pelepasan masif tadi membuat seluruh urat sarafnya terasa lumpuh sekaligus teramat peka. "T-Tolong jangan lepas dulu, jilat lagi lubang saya yang basah ini, Mas, ahh."Bagas menyunggingkan seringai sensual yang teramat beringas. Alih-alih menyudahi atau memberikan waktu

  • Paman, Bawa Aku Pergi   91. Candu yang Menolak Berhenti

    Tubuh Anya bergetar hebat di atas wajah Bagas. Puncak pelepasan yang dipicu oleh jilatan beringas sang CEO sudah berada di ujung urat sarafnya. Air matanya menetes, tangannya meremas rambut hitam Bagas kian erat seiring lenguhan panjang yang siap lolos dari belahan bibirnya." Ahhh! Mas Bagas, sedikit lagi, emhh, ahhh! " rintih Anya dengan suara yang terputus-putus.Bagas semakin gencar menyesap titik peka itu, menikmati bagaimana asisten cantiknya sepenuhnya bertekuk lutut di bawah kendalinya. Kamar mandi mewah itu benar-benar dipenuhi oleh kabut gairah yang teramat pekat.Drttttt! Drttttt! Drttttt!Samar-samar dari balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat, suara getaran keras ponsel Bagas yang tertinggal di atas meja nakas luar terdengar berdering tanpa ampun. Nada dering khusus itu terus berbunyi, seolah menandakan ada urusan yang teramat mendesak di luar sana.Bagas sempat menghentikan gerakan lidahnya sejenak. Rahangnya mengeras, menyadari bahwa panggilan di jam seperti ini bi

  • Paman, Bawa Aku Pergi   90. Kenikmatan Berbeda

    “Mas, aku masih mau. Tapi lemas,” jawab Anya, menutup wajahnya.Dengan dominasi yang tak terbantahkan, Bagas memegang pinggang Anya dan perlahan mendorongnya untuk bangkit."Berdirilah di hadapan saya!" perintah Bagas dengan suara bariton yang teramat serak dan dalam.Anya melenguh pelan, mencoba mengumpulkan sisa tenaganya untuk berdiri tegak di dalam bathtub yang licin, tepat di hadapan Bagas yang kini perlahan merebahkan diri, merebahkan punggung kekarnya dengan santai di dalam lengkungan marmer.Bagas menatap ke atas, memandangi setiap jengkal keindahan tubuh polos Anya dari sudut pandang bawah yang teramat intim. Tatapannya kemudian terkunci pada mahkota keintiman Anya yang masih memerah dan basah pasca pelepasan."Mas Bagas ... kenapa saya diminta berdiri seperti ini?" tanya Anya dengan suara parau yang bergetar, tangannya refleks bergerak sedikit ke depan untuk menutupi rasa malunya yang mendadak kembali membuncah.Bagas tersenyum sensual, meraih kedua pergelangan tangan Anya d

  • Paman, Bawa Aku Pergi   89.Puncak Dahaga di Bathtub

    Bagas benar-benar sudah berada di batas ketahanannya. Hasrat yang sedari tadi ditahan dan diulur kini berontak hebat, menuntut pelepasan yang sesungguhnya. Tanpa menunggu Anya kembali menurunkan kepalanya, Bagas mencengkeram pinggang ramping asisten cantiknya itu dengan kedua tangan kekarnya, lalu mengangkat tubuh Anya sedikit ke atas.Anya melenguh pelan, kedua tangannya refleks bertumpu pada dada bidang Bagas yang kokoh untuk menyeimbangkan tubuhnya. Dari posisi saling berhadapan di atas pangkuan, Anya bisa merasakan ujung kejantanan Bagas yang panas dan menegang sempurna kini kembali mengintip di depan gerbang keintimannya. Anya merasakan getaran dalam hatinya, bersama Bagas ia merasakan keindahan dalam kebersamaan."Mas Bagas, ahh," desah Anya parau, menatap langsung ke dalam manik mata elang Bagas yang berkilat beringas sekaligus penuh puja. "Masukkan, Mas, saya sudah tidak sanggup menahannya lagi. Mas, ayo Mas, Mas Bagas sayang, ayo!""Sesuai keinginanmu, permaisuriku," geram Ba

  • Paman, Bawa Aku Pergi   6. Oksigen yang Baru

    "Ke apartemenku," jawab Bagas datar. "Kamu basah kuyup, Anya. Kamu butuh pakaian kering dan tempat untuk menenangkan diri."Anya mengerjap. Ia memang ingin menenangkan diri sebelum akan bertemu Gusti kembali. Bagas seolah tahu suasana hatinya yang sedang hancur. Namun, kata 'apartemen' itu membuat

  • Paman, Bawa Aku Pergi   5. Janji yang Terhapus Hujan

    "Tadi ... pelayan, Mas. Ada pelayan yang tidak sengaja menabrakku saat membawa nampan," dusta Anya dengan suara yang kecil. Gusti tertawa sinis. Bagi Anya, suara tawa itu terdengar seperti geraman predator yang mempermainkan mangsanya. Anya meringis ketika Gusti merenggut dagu Anya dengan keras,

  • Paman, Bawa Aku Pergi   4. Bahasa yang Tak Terucap

    "Paman, dia keluar! Jas ini …!" Anya buru-buru melepas jas wol itu dengan tangan yang gemetar hebat.Bagas menerima jasnya dengan gerakan sangat tenang. "Tenanglah, Anya. Atur napasmu.""Paman harus pergi, cepat!" bisik Anya panik, matanya terus melirik ke arah pintu perpustakaan yang mulai terbuka

  • Paman, Bawa Aku Pergi   1. Pesan Tak Diundang

    [Puas sekali kemarin siang di hotel, Mas. Lembut banget kamu kalau lagi sama aku. Sampai ketemu di Surabaya minggu depan ya, Sayang.]Anya kesulitan napas setelah membaca pesan itu. Dadanya sesak luar biasa, jantungnya berdegup liar, dan pandangannya kabur tertutup air mata yang mulai menggenang.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status