Kepalaku terasa pegal karena tidak bergerak sejak satu jam yang lalu. Menatap jendela mobil yang kini sudah sampai di pusat kota. Setelah memasuki area perumahan, kami sampai di halaman depan rumah. Setelah makan malam di panti, aku tidak berani membantah Lucien yang ingin kami pulang malam itu juga.Setelah mengambil kunci mobilku dari sopir Lucien, aku masuk ke dalam rumah lebih dulu. Menunggu Lucien yang bicara dengan pelayan di bawah. Aku sempat mendengar tentang barangnya apakah sudah datang atau belum.Di benakku tak berhenti memutar gambar pertumbuahn Lucien kecil dengan sangat jelas. Setiap foto diambil dengan penuh cinta, yang bahkan bisa kurasakan meskipun itu adalah kenangan milik orang lain.”Suara pintu yang ditutup pelan menyentakkanku. Aku melompat berdiri ketika Lucien melangkah maasuk. Sekilas pandangan kami bertemu, lalu Lucien menyeberangi ruangan begitu saja,“Maaf.” Kataku akhirnya berhasil memecah kesunyian yang selalu melingkupi kami akhir-akhir ini. Aku mengama
Read more