LOGINDendam membawaku pada musuh bebuyutan keluargaku, Lucien Blackstone. Bersama-sama kedua kami akan menguasai dua kerajaan bisnis yang menguasai pasar global. Hingga aku menyadari, rasa haus Lucien tidak bisa dituntaskan dengan mudah, membawaku menuju tempat yang lebih buruk dan memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Namun Lucien tidak membiarkanku pergi begitu saja. Tidak akan pernah.
View More“Grace hamil.”
Aku membeku, masih dalam pengaruh kantuk ketika melihat Nick berdiri di samping tempat tidurku. Lalu pada Grace yang berdiri di samping Nick. Wajah Grace pucat, tetapi karena pengaruh tanpa polesan make up tebal. “Kau mendengarku?” Nick membungkuk tepat di depan wajahku, menyentuh pipiku dengan lembut. “Mual dan pusingnya semakin parah. Dia butuh tempat tidur yang nyaman. Juga kamar mandi dalam ruangan yang luas untuk memperbaiki situasi hatinya.” “Ya.” Aku turun dari tempat tidur. Membantu Grace berbaring dan mendapatkan posisi yang nyaman. Aku menatap senyum Grace yang dipaksakan. “Apakah kehamilan seburuk itu?” “Sedikit, tapi aku baik-baik saja karena ada kalian berdua yang selalu menjagaku.” “Aku akan selalu ada untuk kalian berdua.” Aku membeku, menoleh pada Nick yang juga menyadari ada kata-katanya yang aneh. Melepaskan tautan tangan dengan Grace dengan cepat. Nick menoleh padaku. “Kau juga, kan?” Butuh satu detik bagiku untuk menjawab, “Ya, tentu saja. Aku akan selalu ada untukmu dan anakmu, Grace. Kau sudah seperti saudari yang tidak pernah kumiliki. Kau juga menggunakan semua fasilitas dan mendapatkan barang-barang yang sama denganku, kan?” Grace tersenyum, kali ini lebih lama meski masih terlihat dipaksakan. “Kita sahabat dan saudari selamanya. Ingat?” “Selamanya.” Aku tersenyum, membalas janji jari kelingking yang diulurkan Grace. “Aku akan membuatkanmu coklat panas.” “Tidak, aku lapar setelah memuntahkan semua makan malamku. Aku ingin makan ikan panggang, kentang tumbuk, dan tomat ceri.” Aku melirik jam di nakas. Sudah lewat tengah malam sejak setengah jam yang lalu. “Bolehkah?” Grace memasang ekspresi kasihan yang membuatku langsung mengangguk. “Keinginan bayi.” “Ya, tentu saja.” Aku keluar dari kamar dan langsung menuju dapur. Tetapi aku melupakan ponselku untuk menghubungi koki pribadi kami, Renata. Yang selalu membimbingku untuk membuat makanan khusus Grace. Sejak aku dan Nick mengetahui tentang kehamilan Grace dua bulan yang lalu, sementara kekasih wanita itu tiba-tiba menghilang dan tidak ingin bertanggung jawab, aku dan Nick yang mengambil alih tanggung jawab tersebut. Membawa Grace tinggal bersama kami. Nick bahkan mempekerjakan koki pribadi karena Grace yang hampir memuntahkan setiap makanan yang masuk ke dalam mulut. “Kakek tua bodoh itu yang memaksaku melakukannya. Semua proyekku tiba-tiba dibatalkan, kita butuh waktu lebih lama untuk memenangkan suara para elit.” Suara Nick mengulang kata-kata Grace dari balik celah pintu yang sedikit terbuka. Sampai di telingaku dengan jelas. “Karena itu kau mempercepat pernikahan kalian? Agar kau bisa memegang saham Lilith yang dibekukan.” “Ya, tentu saja, sayang. Kau pikir aku melakukan semua ini karena mencintainya? Kau tahu aku melakukan semua ini untuk siapa?” “Untukku.” Grace mengerang manja. “Kau benar-benar membuatku tersentuh, sayang.” Aku membeku, masih tak percaya dengan apa yang kudengar. “Shhh, ada Lilith di rumah ini. Kau bebas memanggilku sayang di kantor dan hotel. Tidak di sini.” “Tenang, sayang. Kalaupun mendengar, Lilith akan berpikir kalau telinganya salah dengar. Dia seseorang yang seperti itu.” “Seperti kakek tua bodoh itu.” “Kita sudah melakukannya di setiap sudut rumah ini dan dia tidak pernah mengetahuinya. Bahkan di mobilnya. Kalau aku bilang hamil karena kita tidak sengaja berciuman, dia akan mempercayai tanpa keraguan.” Suara tawa Nick dan Grace terdengar. “Ikan panggang? Kentang tumbuk?” Suara Nick melambat. “Kau tidak suka ikan panggang.” “Lilith alergi ikan,” balas Grace. Dengan jenis tawa yang belum pernah kudengar. “Butuh 50 menit paling cepat.” “Kau membangunkanku tengah malah setelah seks hebat kita, karena tiba-tiba ingin seks di atas tempat tidur Lilith?” Grace terkikik. Aku membekap mulut tepat sebelum pekikanku keluar. Membeku di balik pintu dengan napas tertahan. Jantungku seolah membeku dan siap dihancurkan ketika mendengar suara derit ranjang. Pekikan manja Grace dan napas Nick yang mulai memberat. “Kau selalu suka seks yang kilat, kan? Terutama ketika menunggu Lilith yang bisa datang kapan saja. Sekarang puaskan aku.” Kali ini suara Grace terdengar menggoda. Dan aku tak sanggup mendengar desahan pengkhianatan keduanya lebih lama lagi. Udara dingin yang menyambut tubuhku, menyadarkanku dengan cepat. Aku tidak tahu bagaimana kakiku bisa melangkah keluar dari rumah ini. Rumah yang dihadiahkan kakek untuk pernikahanku dan Nick minggu depan. Rumah yang akan menjadi tempat kami hidup bahagia selamanya. Tapi aku lupa, hidup bahagia selamanya hanya ada di dalam dongeng yang dibacakan kakek setiap malam. Untuk membantuku tidur dengan nyenyak. “Nona, ada yang bisa saya bantu?” Aku mengangkat wajah, menatap petugas keamanan yang tiba-tiba berdiri di depanku. Menghapus air mataku, aku menggeleng dan kembali masuk ke dalam rumah. Pergi ke dapur dan membuat makanan yang diinginkan Grace. Grace tidak suka ikan, jadi tidak akan peduli dengan rasanya. Tanganku bergerak dengan sigap, meskipun aku sangat tidak pandai memasak. Sejak memutuskan karirku di perusahaan demi menjadi istri yang sempurna untuk Nick dan menjadi calon ibu untuk anak kami. Dan dalam sekejap, semua impian itu hancur berkeping-keping. Atau memang sudah sejak lama seharusnya sudah hancur? Tepat 50 menit kemudian, aku membawa masakanku yang terlihat sempurna menuju kamar utama. Dengan hati yang masih berdenyut, tanganku memegang nampan terlalu kuat. Langkahku kembali terhenti di tempat yang sama saat mendengar pembicaraan Nick dan Grace lagi. Kali ini dengan hati yang lebih kuat meskipun masih hancur. Dan penuh kemantapan untuk mengakhiri pertunangan kami. Setelah keluar dari kamarku, aku masuk di kamar Grace. Menemukan tempat tidur Grace yang berantakan. Membayangkan Nick dan Grace bercumbu dan tidur di sana sementara aku tidur sendirian di kamarku. Perutku tiba-tiba bergejolak dan aku masuk ke dalam kamar mandi. Memuntahkan semua makan malamku. Keringat membasahi seluruh wajahku. Aku hampir tidak sanggup berdiri setelah muntahku berakhir. Berjalan keluar dan jatuh dengan keras di depan pintu kamar Grace Aku merintih, perutku tiba-tiba melilit. Hal terakhir yang kulihat sebelum kesadaranku hilang sepenuhnya adalah genangan darah dari antara kedua kakiku.Siang itu, Kael benar-benar datang ke ruanganku. Aku tak menyangkal untuk sikap khususku terhadapnya. Tetapi jelas hanya Kael satu-satunya yang paling bisa kupercaya dan kuandalkan dalam urusan perusahaan. Ataupun secara pribadi.“Kau tidak memberiku surat pengunduran diri, jadi … mungkin kita bisa memotong cuti tahunanmu.”Kael mengangguk setuju.“Kau kembali hanya karena mendengar kabar tentang Daniel?”“Kau tidak bisa meremehkan hal ini, Lilith.” Kael berhenti tiba-tiba. “Saya …”“Aku lebih nyaman kau bicara seperti ini. Lanjutkan. Tetapi sebaiknya kau mengatakan hal yang tidak sama dengan Lucien. Tentang aku yang akan menjadi kelemahannya dan target dari musuh-musuhnya.”“Kau tak memahami betapa seriusnya ancaman ini.”“Aku seorang Blackwood. Sejak aku lahir, aku sudah menjadi target siapa pun yang tidak menyukai Blackwood. Karena ayahku atau kakekku.”Kael diam.“Dan sekarang Lucien. Aku memahami kewaspadaan Lucien ataupun kecemasanmu. Sekarang aku memahaminya. Tapi itu bukan ses
POV Lilith‘Mungkin kau tidak benar-benar tahu apa yang kau inginkan, Lilith.’Kalimat Lucien terasa menusuk tepat di dadaku. Tepat seperti yang pria itu harapkan. “Mungkin aku tidak, tetapi sebagai seorang ibu. Aku tahu apa yang kuinginkan.” Aku menoleh dan langkah Lucien membeku di ambang pintu. “Dan kalaupun ibumu diberi pilihan, seribu kali pun dia akan tetap memilih melahirkanmu. Tidak peduli sebanyak dan setajam apa duri yang ada di jalannya.”Aku menatap punggung Lucien yang masih berdiri membeku di sana. Cukup lama hingga kemudian pria itu benar-benar menghilang dari pandanganku.Luka yang tersimpan rapat dari Lucien kecil, tidak pernah hilang hingga detik ini. Aku tidak bisa membayangkan sebanyak apa kesedihan yang sudah harus ditanggung Lucien kecil. Tidak pernah diberi kesempatan untuk menjadi anak-anak seperti seharusnya.Sejak ayah dan ibuku meninggal, aku tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kakek. Hidupku diselimuti kebahagiaan. Cukup untuk membuatku lupa bahwa ke
POV Lucien“Malam itu hujan turun deras.” Suaraku keluar begitu saja. “Aku berdiri di depan pintu kamar. Pertengkaran mereka terlalu keras hingga tidak ada yang menyadari keberadaanku. Vas bunga pecah, kaca cermin berhamburan di lantai dan darah yang memenuhi kemejanya.”Pandanganku masih terpaku pada pagar balkon ruangan ini. Nyaris menyerupai pagar di kediaman utama Blackstone. Dengan warna yang berbeda. Jika warnanya putih seperti itu, darah ibu pasti terlihat sangat jelas. Dan Emmit perlu mengecatnya untuk menyamarkan semua warna merahnya.Ingatan itu masuh terlihat jelas di mataku. Aku tidak pernah benar-benar melupakan suara itu. Bahkan suara jantungku yang berdegup kencang.‘Seperti dia, aku tidak butuh anak yang bukan milikku. Dia adalah pembawa sial. Terlihat jelas di matanya, dia akan menghancurkan hidupku.’‘Lucien seorang Blackstone, Emmit. Milikmu, lihat matanya.’‘Dia terlalu sempurna.’‘Dia mirip denganku.’Emmit mendengkus. ‘Kau bilang seorang Blackstone? Dengan siapa
“Hmm, ya.” Aku mengalihkan pandangan. Aku merasa harus segera mengakhiri apa pun yang mulai bergetar di dalam hatiku. “Terima kasih.”Kael menarik tubuhnya, dengan kaku. Aku melemparkan seulas senyum yang terasa kaku di wajahku. “Terima kasih, aku pergi dulu.”Kakiku menekan pedal gas, meninggalkan Kael yang masih bergeming di tempat pria itu hingga mobilku berbelok di gerbang tinggi.Aku menghentikan mobil; di tepi jalan. Menenangkan napas yang tidak teratur. Apa yang terjadi? Kenapa jadi seperti ini?Tidak. Aku tidak memandang Kael seperti itu.Tepatnya seperti apa?Aku menarik napas panjang. Menjawab dengan suara yang tenang dan pikiran yang mulai jernih. “Tidak seperti apa-apa. Dia sudah seperti sahabat dan saudara yang sedarah. Hanya seperti itu.”Aku mulai melajukan kembali mobilku saat melihat mobil Lucien yang berhenti di seberang jalan. Pria itu berdiri di depan mobil yang kapnya terbuka. Tangannya memegang ponsel yang menempel di telinga. Sepertinya ada masalah dengan mobil
“Wanita gila!” teriak Nick yang ditahan kedua anak buah Lucien.Aku melangkah mundur, menatap kobaran api yang mulai meninggi. Melahap apa pun yang tersentuh.“Tasku, bajuku, sepatuku, perhiasanku,” ratap Grace. Air matanya jatuh berhamburan di wajahnya. Rambut berantakan wanita itu menempel di pip
Aku tidak bisa menemukan foto ibu kandung Lucien di mana pun. Di rumah utama Blackstone maupun di rumah Lucien. Bahkan tidak mendapatkan namanya.“Mungkinkah beliau anak dari kakak Emmit Blackstone yang sudah meninggal.”“Emmit punya seorang kakak?”Kael mengangguk. “Meninggal dalam kecelakaan pesa
Emmit Blackstone tak punya pilihan untuk mengakui keberadaanku. Meja makan besar sudah dipenuhi semua anggota keluarga Blackstone. “Dia tidak seharusnya ada di sini.” River langsung menemukan keberadaanku di samping Lucien. “Ayah sudah memberi persetujuan.” Lucien melirik Emmit yang duduk di sebe
“Aku yang akan menangani proyeknya.”“Ayahmu cukup berpengaruh di antara para elit, Lucien. Kau tidak bisa …”“Mereka hanya memikirkan keuntungan dan aku akan memberikan mereka lebih dari yang didapatkan darinya.”Aku menutup pintu dan suara perdebatan yang diselimuti ketegangan tersebut menyambutk












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore