Jariku tak berhenti mengetuk-ngetuk sisi tubuhku. Setiap detik yang berjalan, sejalan dengan dentuman keras di dadaku. Begitu pintu lift bergeser terbuka, kakiku melangkah secepat yang kubisa tanpa berlari. Benda itu berada dalam genggamanku, semakin kuat dan memberikan rasa sakit yang mulai mengebaskan telapak tanganku. Atau mungkin hatiku juga.Aku tahu, sangat tahu rasanya dikhianati. Bahkan jika itu Lucien, aku sudah memperkirakan sakit hati yang akan kuterima. Namun, tetap saja rasanya begitu menyakitkan hingga membuatku sesak.Tanganku bergerak menyapu setetes air mata yang jatuh, berkedip dengan cepat dan menolak untuk menangis. “Apa Lucien ada di dalam?” Aku berhenti di depan meja, pada salah satu dari tiga asisten pribadi Lucien yang bertugas di mejanya.“Beliau sedang ada pertemuan di ruang meeting.” Mata wanita itu tiba-tiba bergerak melewati belakangku. Tubuhku berputar dan menemukan Luck yang menghampiri kami. “Di mana Lucien??”Luck memberikan jawaban yang sama. “Di man
Read more