Luna pergi ke lantai dua, menghindari keramaian dan memilih berdiam diri di kamar ganti. Pesta yang seharusnya berlangsung damai, melenceng jauh dari harapan awal. Ia mengganti pakaian ke gaun sederhana putih polos berlengan panjang. Mata ungunya terpantul dipermukaan cermin. Dahi halus Luna mengerut tak senang menatapi penampakan dirinya sendiri. Tubuh Luna Martino bisa dibilang ujian terberat pertama setelah memulai kehidupan baru. Menurunkan berat badan selain menelan kesabaran, di sisi lain juga memakan banyak waktu. Luna Emeros belum pernah mengkhawatirkan penampilannya seumur hidup. Ia terlahir cantik dan mulia, tanpa perlu bekerja keras, orang-orang dengan senang hati mendekatinya. Namun di dunia baru dan tubuh baru ini, semuanya berubah total. Berbanding terbalik dari kehidupan indahnya sebagai bangsawan kuno. “Paling tidak beri aku takdir menjadi wanita kaya, Tuhan...” gerutunya sedikit kesal. Setidaknya jika dia punya latar belakang kuat, ia akan punya pe
Read more