Di jalan pegunungan, konvoi Keluarga Wijaya melaju dengan cepat.Armand duduk di kursi belakang mobil kedua. Jendela terbuka, angin dingin menerpa wajahnya, tapi rasa gelisah tak hilang.Lalu ia mencium sesuatu yang samar.Ia menegang. “Bram… kau cium bau?”Bram mengendus. “Tidak.”Armand menarik napas lagi.Bensin.Wajahnya berubah. “Ada yang tidak beres.”Ia mencondongkan tubuh keluar, lalu menghirup udara. Bau itu makin jelas.“Penyergapan!”Ia langsung berteriak. “Semua siaga!”Ia menoleh ke belakang. “Garda Satu! Garda Dua!”“Kami siap!”“Kalau ada gerakan, tembak tanpa tunggu perintah!”“Siap!”Armand lalu berkata pelan namun tegas, “Pelankan,biarkan mobil depan jalan dulu.”Konvoi melambat.Mobil terdepan tetap melaju, melewati aspal yang basah bensin menuju perangkap yang tinggal menunggu percikan.***Disisi lain.Lampu konvoi memanjang di jalan pegunungan yang gelap, seperti ular cahaya yang merayap pelan. Udara malam terasa padat, menekan.“Garuda Bayangan, mobil kedua mela
続きを読む