Beberapa saat kemudian, Arka langsung menuju rumah Wiratma. Ponselnya dipenuhi puluhan panggilan tak terjawab dari sang kakek.Ia membuka gerbang, namun langkahnya berhenti.Di dalam, seorang wanita elegan duduk di samping Wiratma, mereka berbincang santai.Ekspresi Arka membeku. Campuran terkejut, pusing, dan pasrah. Ia berdiri di ambang pintu.Setelah lama, ia akhirnya berkata pelan dan datar—“Mereka… sudah datang.”“Berani juga kau bicara begitu, bocah! Tidak tahu sopan santun, ya?!”Begitu Arka mengucapkan kalimat datarnya, suasana ruang tamu yang semula santai langsung berubah tegang.Wiratma yang tadi duduk di sofa dengan ekspresi ramah seketika berdiri. Tangannya mendarat keras di bahu Arka, cukup kuat sampai tubuh pemuda itu sedikit bergeser.Pria tua itu menatap tajam, kumisnya bergerak-gerak, suaranya mengguntur. “Dasar bocah bandel! Sudah berapa kali aku telepon? Dua puluh tiga kali! Dari siang sampai sore aku hubungi, satu pun tidak kau angkat! Merasa sudah besar sekarang
続きを読む