BANG!Ledakan teredam menghantam udara. Salah satu peti mati hitam di sisi kanan halaman hancur berkeping-keping. Api menyambar, serpihan kayu beterbangan, bau mesiu menusuk hidung, menelan aroma uang kertas terbakar.Bagi Arka, ledakan itu bukan sekadar suara. Ia seperti bom yang meledak tepat di dadanya. Tubuhnya bergoyang tipis, sorot matanya yang dingin bergetar.Yang hancur memang peti mati, namun yang terbayang di benaknya adalah wajah hangat Wiratma.Amarah dan ketakutan mendidih bersamaan. Ia mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih, memaksa dirinya tetap sadar. Jika ia panik, semua berakhir.Ia menatap Arman yang tertawa seperti orang gila. "Baik…" Suaranya serak. "Aku ikut permainanmu."***Di luar kompleks, Garuda Hitam yang memantau lewat komunikator langsung menegang saat mendengar ledakan."Bos!"Niat membunuhnya melonjak. Ia hendak memerintahkan serangan.Namun saat ia bergerak, tujuh orang muncul dari bayangan. Pistol diarahkan ke arahnya. Lebih buruk lagi, bom r
続きを読む