Pagi itu, Talia mengantar Patra ke kantor seperti biasa. Bedanya, hari itu adalah hari terakhir Patra bekerja sebagai kepala divisi PR sebelum benar-benar fokus membangun agensi ghostwriting bersama Odi. “Jangan lupa makan siang,” pesan Talia sebelum Patra turun dari motor. “Aku jemput sore, terus kita ke tempat Athena.” Patra mengangguk sambil tersenyum kecil. “Aku masih bisa makan sendiri, Tal.” “Kadang aku curiga itu cuma rumor.” Patra terkekeh pelan sebelum akhirnya melangkah masuk ke gedung kantor. Hari terakhir ternyata tidak seharu yang Patra bayangkan. Tidak ada musik sedih, tidak ada pidato panjang, hanya tumpukan folder digital dan kardus berisi barang-barang pribadi yang harus dibereskan. Di mejanya, Patra mulai menjelaskan satu per satu pekerjaan kepada Shilla. Perempuan yang akan menggantikannya itu terlihat mencatat dengan serius sampai beberapa kali mengangguk terlalu cepat. “Klien yang ini kontraknya udah masuk, tapi campaign belum jalan,” jelas Patra. “Kalau me
Last Updated : 2026-06-09 Read more