Minggu pagi di kamar Talia berjalan lambat. Tidak ada alarm yang berbunyi terlalu keras, tidak ada suara orang bertengkar dari lantai bawah rumah De Rucci, bahkan matahari yang masuk dari sela gorden terasa malu-malu.Patra terbangun lebih dulu lagi. Bedanya, kali ini ia tidak langsung panik oleh isi kepalanya sendiri.Talia masih tidur membelakanginya dengan rambut sedikit berantakan di bantal. Kaos oversized perempuan itu terangkat sedikit di bagian pinggang, memperlihatkan kulit pucat yang membuat Patra reflek menahan napas.Namun, ia tidak menyentuhnya.Bukan karena takut. Bukan juga karena tidak mau. Patra hanya sedang belajar menikmati fakta bahwa dirinya tidak harus melakukan apa pun terhadap tubuh seseorang hanya karena diberi izin.Hal kecil itu terdengar sederhana, tetapi bagi Patra rasanya seperti belajar berjalan ulang.Ia akhirnya bangkit pelan dari kasur. Baru saja kedua kakinya menapak lantai, suara serak Talia terdengar dari belakang. “Kamu mau ke mana?”Patra menoleh
Read More