Talia tersenyum setengah niat ketika Patra akhirnya menghampirinya di lobby kantor. Senyum itu tetap lembut, tetapi tidak benar-benar sampai ke mata perempuan tersebut. Patra langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda. Namun, sebelum ia sempat bertanya, Shannon lebih dulu berpamitan sambil merapatkan tas kerja ke pundaknya. “Duluan ya, Tal,” ujar Shannon pelan. Talia mengangguk kecil. “Hati-hati.” Patra ikut mengangkat tangan kecil sebagai salam, tetapi Shannon hanya membalas dengan senyum tipis tanpa benar-benar menatap lurus ke arahnya. Pemandangan itu membuat perut Patra kembali terasa tidak nyaman. Perjalanan menuju apartemen berlangsung hening. Talia mengendarai motor seperti biasa, stabil dan tenang, sementara Patra duduk di belakang sambil memeluk pinggang tunangannya pelan. Lampu-lampu kendaraan Jakarta malam itu memantul di kaca helm Talia. Patra beberapa kali ingin membuka percakapan, tetapi setiap kalimat terasa salah bahkan sebelum keluar dari mulutnya. Akhirnya me
Read more