Alfan mengamati Kemal dengan saksama. Wajah pria itu tampak ramah, tetapi hatinya licik. Benar-benar orang munafik."Aku memang mau cari kamu. Kebetulan sekali kamu datang sendiri. Bagus. Karena anakmu membawa plakat milik Dokter Salem, dia marah besar sampai meninggal.""Semua ini gara-gara anakmu. Sebagai ayahnya, kamu harus kasih penjelasan ke Rora."Kemal tersenyum ringan, lalu berkata, "Salem menghabiskan hidupnya mendalami ilmu pengobatan, menyembuhkan orang, dan dijuluki dokter nomor satu di dunia. Tapi menurutku, itu cuma gelar kosong.""Dia bahkan kalah sama anakku. Apa hak dia menyandang gelar dokter sakti nomor satu? Nggak ada plakat itu pun nggak masalah."Senyuman di wajah Alfan perlahan menghilang. "Apa syaratnya biar kamu mau mengembalikan plakat itu?""Anak Muda, karena kamu juga belajar ilmu pengobatan, gimana kalau kita bertanding? Kalau kamu menang, aku akan kembalikan plakat itu. Tapi kalau aku menang, kamu harus potong tangan kananmu sebagai kompensasi buat anakku.
Read more