Kini Su Yin terus memimpin jalan menelusuri jalan setapak berbatu yang membelah pepohonan bambu. Setelah berjalan beberapa menit, mereka tiba di sebuah paviliun kayu yang berdiri anggun di tepi jurang kecil. Kediaman itu begitu sunyi, jauh dari keramaian murid sekte lainnya. Udara di sekitarnya terasa sejuk dan menyegarkan, bercampur dengan aroma harum bunga melati yang mekar di pekarangan. "Tidak buruk juga... Cukup nyaman... Tapi, aku harus tetap mencari cara agar bisa keluar dari sekte terkutuk ini." gerutunya dalam hati. Sreeek... Su Yin mendorong pintu kayu paviliun, membiarkan cahaya samar dari lentera batu menerangi bagian dalam. Ruangannya tidak terlalu luas, namun sangat bersih, rapi, dan terasa hangat. Hanya ada meja teh rendah, beberapa bantal duduk, dan sebuah tempat tidur berkelambu sutra di sudut ruangan. "S-silakan masuk..." bisik Su Yin pelan, masih menundukkan wajahnya. Ia melangkah masuk lebih dulu, menyalakan lilin aromaterapi di atas meja untuk mencairkan sua
Magbasa pa