“Turunkan ponselmu.”“Dih, gak-lah. Kejadian langka dokter tsundere kayak lo bisa mesra-mesraan depan jomblo ngenes kayak gue. Harus diabadikan, nih!”Damian bergerak cepat menyambar ponsel Nathan. Namun, pria itu lebih gesit berkelit. Dia menghindar ke kiri dan sesuatu terjatuh dari kelepak jasnya.Satu undangan merah marun dari bahan tebal dan premium. Huruf-hurufnya elegan dalam embos emas. Namun, bukan itu yang menarik perhatian Agatha dan Damian. Melainkan logo yang sangat dikenal oleh dua orang itu.“Nat, dari mana kamu dapat ini?” Agatha memungut undangan itu. Keningnya berkerut. Darahnya seketika berdesir lebih cepat.“Itu juga yang mau gue tanyain ke lo. Gue ke Pediatri, katanya lo udah pulang. Ya, gue susul dan ketemu kalian lagi ci–dih, jangan melototin gue. Emang faktanya kalian lagi mesra-mesraan di rumah sakit gue.”Nathan mengoceh, tetapi segera berhenti bicara saat Agatha menarik bagian depan jasnya dan mengguncang-guncangnya keras.“Nat, jangan bawel. Kamu cowok, buk
อ่านเพิ่มเติม