“Aku nggak mau tinggal sama kamu,” tolak Agatha mentah-mentah.Damian menatap cukup lama. Tak ada perkataan apapun. Dia melepaskan Agatha dan berjalan keluar ceruk.Agatha pikir, situasinya sudah terkendali. Namun, getar keras ponselnya disusul nama Papa yang muncul di layar sontak memunculkan erangan keras perempuan itu.“Kenapa kamu nggak bilang Papa kalau pindah kerja ke tempat Damian? Astaga, Agatha. Kamu anak Papa bukan, sih? Berita sebagus ini kenapa harus Damian yang cerita ke Papa?”Agatha refleks mendelik kesal ke arah luar ceruk. Namun, Damian tidak ada di sana. Helaan napasnya berat.“Baru diterima, Pa. Rumah sakit Novera lebih gede ketimbang tempat kerja lamaku.”“Bagus. Kamu bisa kembangkan kariermu di bawah bimbingan Damian. Untung saja ada dia. Papa sudah minta Damian carikan kamu tempat tinggal yang nyaman. Kamu kan, nggak bisa tidur sembarangan. Papa sudah usul mending kalian tinggal bareng dulu saja. Nanti kalau Damian sudah punya pacar, baru kamu pergi. Lebih aman b
Read more