“Lo cantik,” kata lelaki di depannya. Mereka duduk berdua di meja pasangan. Di hadapan mereka ada makanan. Namun, pandangan lelaki itu justru tertuju ke dada Agatha.Sementara Agatha tersenyum masam. Dia bergerak dan secara halus menutupi bagian depan badannya. “Terima kasih,” ujar Agatha sambil menyesap kopinya.Dan bisakah kamu nggak melototin dadaku? Aku nggak pakai baju mini, cuma kaus yang rada ketat. Mupeng banget matamu.Agatha menggerutu dalam hati.“Jadi, Gista–”“Agatha,” koreksi perempuan itu cepat. “Aku nggak tahu siapa Gista.”“Ah, ya. Sori, keingat mantan.”Alis Agatha terangkat tinggi. Dia mengirim pesan kepada Mozaya, senior di rumah sakit yang sekarang sudah menjadi sahabatnya.[To Mozaya: SOS. 911. Bantu aku sekarang juga.]Dua detik kemudian ponselnya berdering nyaring. Mozaya menelepon, mengatakan dengan suara sekeras mungkin bila ada kondisi darurat di rumah sakit.“Sori, aku harus pergi.” Agatha meletakkan dua lembar seratus ribuan di atas meja. “Rumah sakit b
Read more