“Berikan surat pengunduran dirimu ke HRD sekarang juga. Kamu tak dibutuhkan di rumah sakit ini.” Wajah Agatha pucat pasi. “Dokter Damian, saya–” “Kamu bodoh,” ucap pria itu dingin, memotong apapun yang ingin dikatakan Agatha. “Pasien tak butuh perawat seperti kamu di dekatnya.” Agatha menundukkan kepala dalam-dalam. Harga dirinya runtuh sudah. Di depan banyak orang, di hadapan banyak pasang mata nurse station, Damian mengoreksi kesalahannya dengan kejam. Pria itu tak membentak, tak marah-marah, tak bicara dengan nada tinggi. Namun, tiap pilihan katanya jelas dimaksudkan untuk menusuk dalam-dalam hati kecil nan rapuh Agatha. “Bisa-bisanya kamu mau melaporkan pasien priapismus akut sebagai pelaku pelecehan seksual,” desis Damian. Batin Agatha bergetar. Kejadian kemarin memang membuatnya syok berat. Seorang pasien pria yang menunjukkan alat kelaminnya di depan Agatha, lalu Damian yang memegang tanpa rasa risih, semua itu terlalu sulit dicerna otak Agatha. Pagi ini dia membuat kep
続きを読む