“Tinggallah bersamaku, Gatha.”Permintaan yang diucapkan pelan itu terdengar sangat indah, mesra, dan romantis. Agatha pasti langsung terbang ke langit saat mendengarnya di waktu yang tepat.Masalahnya, ini bukan waktu yang tepat. Plus orangnya juga tak tepat sama sekali. Ini Damian, mantan pacarnya yang brengsek luar biasa.“Ogah,” jawab Agatha ketus. Damian memojokkannya ke sudut lift. Badan jangkung pria itu secara teknis sudah seperti kurungan hidup bagi Agatha yang jauh lebih pendek.“Dam, aku bakal teriak kalau kamu macam-macam.” Agatha mengancam.“Teriak saja.” Damian menatap Agatha. “Tak akan ada yang mendengar.”Agatha menyipitkan mata. “Ingat umur, Dam. Kamu udah layak jadi bapak-bapak yang ngelindungin anaknya.”“Tapi kamu bukan anakku.”Agatha memutar bola mata. “Terus? Aku apa kamu emang? Ponakan bukan. Pacar jelas bukan. Teman apalagi, jelas nggak banget. Minggir, Dam.”Damian bergeming. Dia masih berdiri di depan Agatha. Dua tangannya mengurung perempuan itu di kanan d
続きを読む