“Semalaman aku nggak bisa tidur. Dadaku sakit banget. Tapi aneh, ya. Begitu lihat kamu, rasa sakitnya langsung hilang separuh.” Satu tangan Bianca memeluk tangan Damian yang sedang memeriksa dada dengan stetoskop. Satu tangan lagi menunjukkan gelang pasien. “Lihat. Suster Agatha sudah bantu aku modifikasi gelang ini. Kukasih tulisan ‘Milik Dokter’, karena aku memang hanya milik kamu, Damian.” Suasana mendadak canggung. Rombongan Damian yang terdiri dari tiga residen, tiga koas, Kepala Ruang, dan dua perawat jaga, termasuk Agatha, saling melempar lirikan penuh arti. Kecuali Agatha. Genggamannya di pulpen mengencang. Dia memasang wajah datar, tetapi batinnya sudah mirip lahar mendidih. “Bianca, lepas dulu tanganku.” Damian meminta sopan dengan nada yang sangat datar. Bianca menggeleng. “Tak mau. Tanganmu hangat sekali. Persis seperti saat kamu tungguin aku tidur dulu.” Keheningan makin pekat di ruangan itu. Bianca tanpa rasa rikuh masih terus mengoceh. “Dulu Damian selalu menjag
อ่านเพิ่มเติม