“Bisa-bisanya aku ciuman sama Damian di samping Papa.”Agatha menepuk-nepuk pipi. Dia memandangi wajahnya sendiri di wastafel.Pagi hari datang dan Agatha masih terjaga. Dini hari tadi, setelah Damian pulang ke hotel, Agatha sama sekali tak bisa memejamkan mata.“Astaga, ini sebenarnya aku sama Damian udah balik pacaran apa belum, sih?” Agatha memelototi dirinya sendiri di cermin wastafel.“Kok, kamu murahan banget sih, Agatha. Gampang banget dicium Damian gitu aja. Mana habis ciuman, lagaknya juga kayak nggak terjadi apa-apa pula.”Agatha mondar-mandir di kamar mandi. Dia mengoceh sendiri, tentu dengan volume yang hanya bisa dia dengar sendiri.“Orang kayak gitu yang mau aku nikahin? Astaga, Agatha Khansa Halim. Sadar. Damian itu nggak bener-bener suka sama kamu. Dia cuma kasihan sama Papa, makanya mau-mau aja suruh nikahin kamu.”Puas memarahi dirinya sendiri di cermin, Agatha merapikan penampilan. Dia sudah bertekad akan menolak perjodohan itu.Namun, saat membuka pintu kamar mandi
Read More