Malam itu, di dalam kamarnya yang sunyi, Silvy akhirnya menyerah pada keadaan. Lembar demi lembar berkas riwayat hidupnya ia rapikan di atas meja. Setiap ketukan jarinya pada kibor komputer terasa begitu berat, seolah ia sedang menandatangani perjanjian dengan takdir yang siap mempermainkannya.Keesokan paginya, dengan mengenakan setelan blazer formal berwarna hitam yang sudah lama tersimpan di lemari, Silvy melangkah keluar rumah. Wajahnya dipoles riasan tipis, mencoba menyembunyikan binar matanya yang lelah dan sembap. Di tangannya, sebuah map dokumen berlogo namanya sendiri tergenggam erat.Sesuai instruksi Ani, Silvy mendatangi gedung pencakar langit milik Bayu. Mengingat pengalamannya yang matang sebagai mantan sekretaris eksekutif di perusahaan mendiang suaminya dulu, Silvy tidak melamar untuk posisi staf biasa. Kebetulan sekali, di papan pengumuman digital harian, sedang dibuka lowongan mendesak untuk posisi Sekretaris Divisi Pemasaran Regional, sebuah divisi besar yang baru
Read more