Heru menyesap kopi hitamnya perlahan, membiarkan keheningan sesaat menggantung di ruang keluarga mereka. Tatapan matanya yang tadi tampak tenang kini berubah, memancarkan binar kelicikan seorang pria paruh baya yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan."Kalau memang targetmu setinggi itu, Tasya... Papa punya satu saran," ujar Heru, memajukan tubuhnya dan meletakkan cangkir kopinya kembali ke atas meja dengan ketukan pelan yang berwibawa.“Apa itu Pa?” tanya Tasya dengan penuh semangat. "Besok, atau lusa, Papa akan mengajak kamu dan Mamamu untuk bertamu. Kita akan mendatangi rumah Tantemu, ibunya Maudy."Mendengar usulan sang papa, dahi Tasya seketika berkerut dalam. Alisnya bertaut, memancarkan rasa heran sekaligus ketidaksetujuan yang amat kentara."Bertamu? Untuk apa kita ke rumah ibunya Maudy, Pa? Memangnya tujuan Papa apa melakukan itu?" tanya Tasya, nada suaranya meninggi, sarat akan penolakan."Ya untuk sekedar berkunjung, menjalin hubungan baik, dan menyambung silatur
Baca selengkapnya