LOGINHalo pembaca semua, sembari menunggu kelanjutan kisah Bayu dan Maudy, bisa mampir ke karya yang tidak kalah menarik. Judul : Pakde,Masa Dia Terus, Aku Juga Mau Author: Er_Su Terima kasih...
Malam kian merambat sunyi, menyisakan keheningan yang begitu pekat di dalam kediaman megah Bayu dan Maudy. Di lantai atas, Maudy sudah tertidur lelap setelah meminum obatnya, napasnya teratur di bawah kehangatan selimut tebal. Namun, di lantai bawah, Bayu masih enggan memejamkan mata.Pria itu duduk termenung di sofa ruang tamu yang temaram, hanya diterangi oleh lampu sudut berwarna kuning hangat. Tatapannya lurus menatap cangkir teh kamomil yang sudah mendingin di atas meja kaca. Di bawah keheningan malam, otak jenius Bayu bekerja dengan sangat keras. Ia memikirkan setiap jengkal kejadian di aula kantor tadi siang.Bayu sama sekali tidak menyesali keputusannya untuk memprioritaskan Maudy dan calon buah hati mereka. Baginya, itu adalah harga mati yang tidak bisa ditawar oleh apa pun, termasuk oleh grafik keuntungan perusahaan. Yang kini berkecamuk di dalam kepalanya adalah bagaimana cara mengamankan posisi Cindy.Bayu tahu betul bahwa penunjukan Cindy sebagai Komisaris harian semen
Heru menyesap kopi hitamnya perlahan, membiarkan keheningan sesaat menggantung di ruang keluarga mereka. Tatapan matanya yang tadi tampak tenang kini berubah, memancarkan binar kelicikan seorang pria paruh baya yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan."Kalau memang targetmu setinggi itu, Tasya... Papa punya satu saran," ujar Heru, memajukan tubuhnya dan meletakkan cangkir kopinya kembali ke atas meja dengan ketukan pelan yang berwibawa.“Apa itu Pa?” tanya Tasya dengan penuh semangat. "Besok, atau lusa, Papa akan mengajak kamu dan Mamamu untuk bertamu. Kita akan mendatangi rumah Tantemu, ibunya Maudy."Mendengar usulan sang papa, dahi Tasya seketika berkerut dalam. Alisnya bertaut, memancarkan rasa heran sekaligus ketidaksetujuan yang amat kentara."Bertamu? Untuk apa kita ke rumah ibunya Maudy, Pa? Memangnya tujuan Papa apa melakukan itu?" tanya Tasya, nada suaranya meninggi, sarat akan penolakan."Ya untuk sekedar berkunjung, menjalin hubungan baik, dan menyambung silatur
Malam itu, kediaman keluarga Tasya tampak tenang dari luar, namun di dalamnya, sebuah ambisi besar sedang dirayakan. Tasya melangkah masuk melalui pintu depan dengan senyuman yang merekah lebar. Wajahnya yang sejak sore di kantor dipenuhi binar kepuasan kini tampak begitu ceria, sangat kontras dengan pembawaannya yang biasanya sering mengeluh dan berwajah masam setiap kali pulang bekerja. Tasya melempar tas branded-nya ke atas sofa ruang tamu dengan asal, lalu mengempaskan tubuhnya di sana sembari menyandarkan kepala, masih dengan senyuman miring yang tidak lepas dari bibirnya. Langkah kaki yang teratur terdengar mendekat. Mamanya, yang kebetulan baru saja keluar dari arah dapur bersama papanya, langsung menghentikan langkah. Pasangan suami istri itu saling berpandangan sejenak, merasa heran sekaligus tertarik melihat perubahan drastis pada raut wajah putri tunggal mereka. "Wah, ada apa ini? Tumben sekali pulang kantor wajahmu secerah ini, Tasya? Biasanya kamu selalu m
Bayu baru saja menarik napas dalam-dalam, bersiap mengalirkan kalimat tegas yang akan membungkam seluruh riuh desakan di dalam ruang pertemuan. Tatapan matanya yang tajam sudah mengunci sosok Tasya dan beberapa perwakilan staf yang baru saja melayangkan protes. Tasya pun mulai menyadari jika tatapan tajam mata Bayu mengartikan bahwa dia tidak setuju dengan permintaannya. Apalagi jelas Maudy menolaknya. Tentu saja Bayu pasti akan berpihak pada Maudy. Suasana di dalam ruangan begitu tegang, menanti ketukan palu keputusan dari sang pemilik takhta tertinggi.Namun, belum sempat sepatah kata pun keluar dari bibir Bayu, ia merasakan cengkeraman tangan Maudy di lengan kemejanya mendadak mengerat dengan sangat kuat. Kain kemejanya sampai berkerut hebat.Bayu menoleh cepat. Detik itu juga, seluruh fokusnya terhadap isi aula runtuh tanpa sisa.Wajah Maudy yang beberapa menit lalu sudah mulai merona kini kembali kehilangan seluruh warnanya, berubah menjadi pucat pasi seperti kertas. Kedua m
Maudy yang berdiri di samping Bayu seketika menegang. Matanya membelalak menatap Tasya dengan rahang yang mengeras menahan geram. Kelancangan sepupunya itu di depan para petinggi perusahaan itu benar-benar sudah kelewat batas. Tasya tidak hanya merendahkan Cindy di depan umum, tetapi juga memanfaatkan hubungan darah mereka dengan cara yang sangat manipulatif demi ambisi pribadinya.Maudy menarik napas dalam-dalam, bersiap untuk menegur keras sepupunya itu. Namun, belum sempat sepatah kata keluar dari bibirnya, sebuah tangan kokoh mendarat lembut di pinggangnya. Bayu dengan sigap menarik pelan tubuh Maudy ke belakang tubuh tegapnya, memotong pergerakan sang istri sambil menggelengkan kepala."Kenapa kamu melarangku Mas?" Maudy menoleh, menatap Bayu dengan tatapan bingung sekaligus cemas.Pikiran buruk mendadak melintas di benak Maudy. Dia sempat berpikir apakah suaminya terpengaruh oleh ucapan Tasya karena Tasya adalah sepupunya? Dan apakah suaminya akan mempertimbangkan kualifik
Di dalam ruangan itu, riuh tepuk tangan ucapan selamat atas kehamilan Maudy yang semula menggema perlahan-lahan menyurut, digantikan oleh keheningan yang mendadak terasa mencekam. Di barisan paling depan jajaran staf, Cindy justru membeku di tempatnya berdiri. Kedua matanya membelalak sempurna, menatap Bayu dengan tatapan seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.Sebagai sekretaris pribadi, Cindy tahu seberapa protektifnya kakak angkatnya itu pada Maudy. Ia paham betul bahwa Bayu akan melakukan apa saja demi kenyamanan istrinya. Namun, ditunjuk menjadi Komisaris sementara, memegang kendali atas seluruh roda operasional perusahaan raksasa ini, benar-benar berada di luar jangkauan perkiraan liarnya. Jantung Cindy berdegup kencang, bukan karena merasa mendapat durian runtuh, melainkan karena syok dan ngeri membayangkan beban tanggung jawab yang luar biasa besar yang kini mendadak diletakkan di atas pundaknya.Riak kehebohan di dalam aula pun dengan cepat bergeser. K
Suasana di ruangan itu yang tadinya tegang kini berubah menjadi sangat mencekam, seolah oksigen di dalamnya mendadak menipis. Bayu berdiri mematung, menatap asistennya dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia mengira kata-kata tegasnya soal pernikahan dan masa kecil dengan Maudy akan menjadi palu g
Langkah kaki Bayu yang biasanya terdengar tegas dan penuh wibawa di lorong kantor, kini terdengar berat dan terseret. DIa melangkah gontai, seolah-olah setiap ubin marmer yang dia pijak adalah beban yang harus dia angkat. Pikirannya masih terpenjara pada meja kafe tadi, pada suara dingin Lyra yang
Maudy menarik napas dalam, mengabaikan eksistensi Rio yang terus mengoceh di belakangnya seperti bayangan yang tak diinginkan. Dia lekas keluar dari ruangan itu, lalu segera memandu ibunya masuk ke dalam taksi yang telah dipesan Bayu sebelumnya. “Maudy, apa kamu tidak dengar! Aku masih belum sele
Ponsel Maudy berbunyi dan bergetar hebat di atas kasur. Menampakkan layar ponsel yang sangat terang. “Ibu mertua!” serunya dengan pikiran yang kacau saat Ibu mertuanya melakukan panggilan video. Meski Ibu mertuanya belum mengucapkan apapun, Maudy sudah tau apa yang hendak perempuan itu katakan.






