Satu minggu pertama tanpa Dion adalah waktu yang terasa berjalan merangkak bagi Nafisa. Setiap kali ia melewati kamar putra sulungnya itu, ia secara otomatis akan berhenti, berharap melihat senyuman Dion atau sekadar melihat tumpukan buku sekolah yang biasanya berserakan. Rumah terasa begitu luas dan sunyi, meskipun Arlan tetap berusaha meramaikan suasana dengan mainan robot-robotannya.Namun, di sore hari yang teduh, saat Nafisa sedang merapikan taman belakang, ponselnya bergetar. Panggilan dari nomor asing tertera di layar. Panggilan itu masuk di nomor pribadinya, tak banyak yang tahu kecuali sangat penting. Dalam hati ia bahkan berharap Dion yang menghubunginya. Dengan jantung yang berdebar kencang, Nafisa segera menggeser tombol hijau."Assalamu’alaikum, Mama..."Suara itu. Suara yang sedikit parau namun terdengar lebih mantap dari biasanya. Air mata Nafisa langsung menggenang tanpa permisi."Wa’alaikumsalam... Dion? Ini kamu, Sayang?" suara Nafisa bergetar hebat."Iya, Ma. Ini Di
Last Updated : 2026-04-22 Read more