Beberapa hari setelah aroma antiseptik rumah sakit berganti dengan harum melati di kediaman Nafisa, Adrian merasa raganya mulai selaras. Memori Emran; si pemilik tubuh asli, kini tak lagi menyerangnya seperti badai, melainkan tersusun rapi seperti arsip di perpustakaan mentalnya. Namun, meski ingatan itu milik Emran, prinsip moral yang berdenyut di jantungnya tetaplah milik Adrian; tegas, tak kenal kompromi, dan penuh lindungan terhadap yang dicintai.Adrian memutuskan bahwa "Emran" yang lama harus mati sepenuhnya agar Emran yang baru bisa hidup. Ia tidak ingin Nafisa, wanita yang ketulusannya melampaui logika, terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu.Ia meraih ponsel, jemarinya lincah mencari satu nama: Fajri.Fajri datang dengan raut wajah yang sulit diartikan; campuran antara cemas, sangsi, dan takjub. Sejak kecelakaan itu, ia melihat sahabatnya berubah drastis. Emran yang dulu labil, mudah disetir nafsu, dan sering meledak-ledak, kini berganti menjadi sosok yang tenang, bicarany
Last Updated : 2026-03-30 Read more