Mayang menghentikan langkahnya dengan nafas terengah-engah seraya menyeka keringat yang membasahi dahinya. "Eh, Pak Burhan? Pagi juga, Pak. Wah, kebetulan sekali kita ketemu di sini," sahut Mayang sambil tersenyum ramah. Bimo yang berdiri di samping Mayang hanya bisa diam, sepertinya Pak Burhan belum melihat wajahnya dengan jelas. Mata Pak Burhan terus menatap lekat ke arah Mayang terutama di bagian bukit ranumnya. “Dasar pria tua bangka hidung belang,” batin Bimo. “Iya, Mayang. Kebetulan sekali saya tadi lewat sini dan langsung mengenali kamu dari jauh. Memang ya, kalau orang cantik dan segar seperti kamu, dari kejauhan pun sudah sangat menarik perhatian,” puji Pak Burhan membuat Mayang tersenyum tipis dengan wajah yang sedikit merona merah.“Ah Bapak bisa saja,” ucap Mayang seraya tertawa kecil sambil menutup mulutnya. Pak Burhan kemudian melirik sekilas ke arah Bimo yang berdiri di samping Mayang dengan ekspresi terkejut.” Loh Pak Bimo? Kok Bapak bisa barengan dengan Maya
Last Updated : 2026-05-04 Read more