LOGINSesampainya di dalam kamar, Bimo langsung menutup pintu dengan tumit kakinya. Setelah itu, Bimo menurunkan tubuh Mayang ke atas ranjang secara perlahan. Bruk! Tubuh Mayang kini terlentang diatas ranjang. Bimo ikut naik dan mengukung tubuh montok mama mertuanya itu. ”Coba Mama rasakan lagi milikku ini,” ucap Bimo seraya meraih tangan lembut Mayang dan menuntunnya kembali memegang tonjolan dibalik celananya. “Bayangkan saat sisik naga ini memenuhi liang sempitnya Mama.” Pipi Mayang semakin memerah seperti tomat saat telapak tangannya kembali bersentuhan keperkasaan Bimo yang memiliki bertekstur bergelombang menyerupai sisik namun lentur. ”Nggghh... Bimo…” lenguh Mayang, memejamkan mata seraya meremas lembut tonjolan itu. “Ini... terasa kenyal dan keras... Ahh, Mama udah nggak sabar, Bimo. Buka celanamu sekarang, Sayang…” Tanpa membuang waktu, tangan Bimo bergerak cepat melonggarkan gespernya lalu melucuti celananya dan membebaskan keperkasaannya yang sudah tegang sempurna b
“Ah, itu tadi aku baru saja habis menelpon Ma,” jawab Bimo beralasan. “Ohh gitu. Ayo masuk ke dalam, udaranya dingin banget loh,” ajak Mayang. “Sana masuklah cucuku. Gunakan kekuatan Sisik Naga dengan mama mertuamu,” ucap Datuk seraya mengedipkan sebelah matanya ke arah Bimo. Bimo hanya bisa tersenyum masam, tak menanggapi perkataan Kakek mesum itu. Lalu dia melangkah masuk ke dalam rumah bersama Mayang. Malam ini Mayang terlihat sangat cantik dan seksi. Wanita itu menggamit lengannya hingga sebelah bukit kembarnya tertekan di sana. Rasanya benar-benar lembut dan empuk seperti permen kapas. “Bimo, kamu dari mana saja? Tumben kamu pulang selarut ini,” tanya Mayang seraya berjalan menyandarkan kepala di bahu Bimo. “Maaf, aku lupa mengabari Mama kalau hari ini ada pekerjaan mendadak. Daya ponselku juga mati dan aku lupa membawa charger,” jawab Bimo kembali berdusta. “Pantas saja tadi Mama telepon gak diangkat. Mama benar-benar khawatir kalau terjadi sesuatu sama kamu di jalan. Kam
Bimo mengutuk Datuk di dalam hatinya. Bisa-bisanya Kakek tua bangka itu mengerjainya dan membuatnya terpaksa harus bersembunyi di bawah ranjangnya Bu RT dan Pak RT. “Ayolah Bu, bentar saja 10 kali celup,” ajak Pak RT dengan nada memelas bagai musang birahi yang belum kawin selama satu bulan. “Ck, ganggu saja! Yaudah tapi cepetan ya jangan pakek lama. Ambil pelumas dan tisu sana!” suruh Bu RT galak. “Oke! Siap laksanakan!” seru Pak RT girang seraya bersiul. Pak RT cepat-cepat turun dari ranjang lalu mengambil pelumas dan tisu yang tergeletak di atas meja. Kemudian, pria itu kembali mendekat ke ranjang lalu bergegas melepaskan celananya hingga jatuh ke bawah lantai. “Ayo Bu, kita gas malam ini! Yuhuuu joni Bapak datang!” Pak RT langsung melompat ke atas ranjang dan langsung tancap gas di atas sana. Bimo dapat merasakan ranjang sedikit bergoyang-goyang, namun tak terdengar suara desahan Bu RT sama sekali. “Hah…hah… hah… enak kan Bu?” tanya Pak RT terengah-engah.Bu RT terdengar me
Datuk terkekeh pelan.”Sisik yang Kakek maksud nggak tajam kok. Bentuknya memang seperti sisik naga, tapi teksturnya bergelombang dan amat lentur, membalut permukaan kulit batang keperkasaanmu saat kekuatan itu diaktifkan dan memberikan gesekan yang sangat nikmat di dinding kewanitaan para wanita.” Bimo manggut-manggut mengerti sekaligus penasaran bagaimana nantinya jika kekuatan sisik naga itu diaktifkan. Datuk menadahkan sebelah tangannya, dan tak lama kemudian sebuah sabuk yang terbuat dari emas.“Ambillah ini cucuku. Ini adalah Sabuk Kencana Naga Raja,” ujar Datuk Maringgi seraya menyerahkan sabuk emas berukir naga itu kepada Bimo. ”Sabuk ini punya kemampuan yang dapat melindungimu jika kamu diserang oleh musuh baik itu serangan dari manusia ataupun gaib. Sabuk ini akan menyerap energi serangan itu dan mengubahnya menjadi tambahan stamina serta daya tahan untuk tubuhmu,” jelas Datuk panjang lebar. Bimo mengambil sabuk emas itu lalu melilitkannya di pinggang. Seketika sabuk it
Dari dalam permukaan air telaga muncul puluhan Siluman Putri Telaga lainnya. Mereka menyanyikan kidung merdu yang membuat telinganya semakin berdengung menyakitkan. Olah rasa, raga kang katresnan...Sira kaki, bagus ngganteng memikat jiwa...Rungokno swarane gamelan kang ameng-ameng...Mreneo, den bagus... manunggal ing sajeroning telaga…“AHKKK!!” teriaknya sambil menutup kedua telinganya. Wajah para Siluman itu berubah menjadi para wanita di haremnya dan juga wanita lain yang dikenalnya. Mereka perlahan berjalan mendekatinya sambil terus menyanyikan kidung yang diiringi musik gamelan Jawa yang semakin berdentang dengan keras. Mereka semua kini mengepungnya, mencoba untuk menggoda dan menjamah tubuhnya. Puluhan tangan berebutan untuk membelai dan menggenggam batangnya yang sudah mengeras di bawah air. “Tuan muda… sentuh kami… Tuan…bersatulah dengan kami di dalam Telaga ini,” baik salah satu Siluman seraya menggesekkan bobanya yang besar di lengan kirinya Bimo. “Iya Tuan…tolong b
Malam Jumat KliwonMalam ini Bimo akan melakukan pertapaan yang ketiga kalinya untuk menyempurnakan kekuatan yang dimilikinya. Kali ini dia akan bertapa di dalam sebuah telaga yang berada di hutan larangan. Tiga berkas cahaya menyilaukan datang dari langit lalu berubah wujud menjadi Datuk Maringgi dan kedua khodam harimaunya. “AUMMM!!” auman kedua khodam itu memecah hening di sekitaran hutan. “Cucuku, maaf kami datang agak telat. Tadi Kakek harus nganterin Sinta pulang ke rumahnya,” jawab Datuk seraya terkekeh. Bimo menghela nafas panjang. Beginilah kalau memiliki leluhur lagi puber kedua dengan manusia.”Iya gapapa, ayo kita mulai saja Kek. Hari sudah semakin larut.” Datuk Maringgi terkekeh pelan seraya mengelus janggut putihnya. Kedua khodam harimau di sampingnya kini bersiap di tepi telaga, mengawasi area sekitar hutan larangan dengan sorot mata merah menyala.”Baiklah, Cucuku. Masuklah ke dalam telaga. Rendam semua tubuhmu disana kecuali kepalamu. Kamu juga tidak perlu menutu







