Tawa Hartono pecah, pria tua itu langsung merangkul bahu Jovian dengan akrab, seolah-olah mereka adalah kawan lama yang sedang merayakan kemenangan besar.Jovian tidak lengah. Di balik tawa renyah Hartono, ia menangkap kilatan mata pria tua itu yang menyipit tajam. Menyelidik. Menelanjangi. Hartono menatapnya dengan intensitas yang tidak wajar, seolah sedang membedah setiap gurat lemak dan otot di wajah Jovian."Luar biasa," puji Hartono pelan, suaranya kini melunak tapi sarat akan ancaman yang terpendam. Ia menggelengkan kepala kagum. "Di usiamu yang baru dua puluh satu tahun, kau bisa bersikap setenang itu saat dikepung oleh orang-orangku. Vandella memang tidak pernah salah pilih. Dia selalu punya indra keenam untuk menemukan... 'aset' yang berkualitas."Jovian hanya mengerutkan kening samar. Aset? Apa yang sebenarnya dicari pria tua ini dari wajahku? batinnya curiga.Namun, sebelum ia sempat membalas, pintu utama VVIP terbuka, dan atmosfer di sekitarnya berubah drastis. Begitu mere
Last Updated : 2026-04-30 Read more