Lantai marmer Arthesia Corp yang mengkilap seolah memantulkan setiap inci penderitaan Binar pagi itu. Di bawah lampu kristal megah di lobi utama, ia merasa seperti seekor tikus kecil yang sedang dipojokkan oleh dua ekor kobra berbisa."Kenapa diam saja, Binar?" tuntut Siska dengan nada mengejek yang melengking, menarik perhatian hampir seluruh staf yang baru mulai berdatangan. Ia berkacak pinggang, dagunya terangkat tinggi dalam gestur superioritas yang memuakkan. "Nggak bisa jawab, kan? Ketahuan aslinya! Ternyata wajah polos itu cuma kedok buat nutupin bau busukmu!"Rina, yang berdiri di samping Siska, tertawa sinis sambil menyilangkan tangan di dada. Matanya menyisir tubuh Binar yang gemetar dengan tatapan jijik. "Aduh, Sis, jangan keras-keras. Nanti dia nangis, terus sok jadi korban lagi. Dia kan ratu drama. Lihat aja penampilannya, sepatu kumal, tas obralan, tapi bisa-bisanya dapet 'servis' semalaman sampai kartu karyawannya aja ketinggalan di tangan cowok lain. Murahan banget, si
Read more