Dao Kian melangkah sunyi di koridor demi koridor, berusaha mengingat detail istana yang samar-samar muncul saat masih kecil.“Aku rasa semuanya masih sama,” batin Dao Kian.Dao berbelok ke kiri, lalu ke kanan, lalu melewati taman dalam yang diterangi lentera kertas merah. Pelariannya begitu sunyi tidak ada yang melihatnya. Namun ketika sampai di ujung koridor timur, Dao Kian melihat sesuatu yang membuat langkahnya terhenti.Seorang wanita yang duduk di tepi kolam ikan koi, dengan punggung menghadap Dao Kian. Tubuhnya ramping, posturnya anggun, dan di bawah cahaya bulan, ia tampak seperti lukisan kuno yang hidup.Dao Kian hampir melangkah pergi, karena dia tidak punya waktu untuk berdiam diri melihat wanita bangsawan yang sedang merenung di tengah malam.Tapi ada sesuatu yang membuatnya terus berhenti. Sesuatu yang cukup familiar dari caranya duduk dan gaya rambutnya yang disanggul tinggi dengan tusuk rambut giok hijau berbentuk daun bambu.“Ibu...” Bisik Dao Kian, tanpa sadar. Suara
Terakhir Diperbarui : 2026-05-11 Baca selengkapnya