“Aku belum begitu kenal istana ini. Di mana kamarnya?” tanya Dao Kian akhirnya. Lin tersenyum lagi. “Aku antar. Ikuti aku.” Lin membawanya melewati koridor panjang, melewati taman kecil dengan bunga-bunga bermekaran, hingga akhirnya sampai di depan dua pintu kayu ukiran—lebih sederhana dari pintu ruang singgasana, tapi tetap indah. Ukirannya berupa bunga plum dan burung kecil. “Ini kamar Ratu Xiao,” bisik Lin. “Aku akan tunggu di luar.” “Kau tidak ikut masuk?” tanya Dao Kian. “Tidak. Ratu hanya minta kau.” Lin tersenyum. “Semoga beruntung.” Ia menepuk bahu Dao Kian lalu pergi ke sudut koridor, bersandar di dinding sambil menunggu. Dao Kian menghela napas. Ia memegang nampan kayu berisi sepiring nasi, semangkuk sup, beberapa lauk kecil, dan secangkir teh. Tangannya sedikit gemetar karena gugup dan lelah. Dao Kian mengetuk pintu. “Masuk,” suara dari dalam terdengar berwibawa dan familiar. Dao Kian mendorong pintu. Kamar itu luas, lebih luas dari yang ia bayangkan.
Read more