Melihat Jaka, Beno langsung lega karena sahabatnya itu baik-baik saja.“Ka, lo enggak apa-apa kan?” tanya Beno sambil memegang bahu Jaka.“Enggak apa-apa, Ben. Cuma ya gini, gue enggak bisa balik dulu ke desa,” sahut Jaka sambil kembali duduk di depan teras.Beno ikut duduk, ia menghela napas kasar. “Anjinglah, sialan emang Pak Kades! Ini pasti ulah dia semua.” Beno menggeram kesal. “Gue kaget anjing pas Kang Dudung cerita, sialan emang!”“Ya makanya Ben, sekarang kita harus pikirin gimana caranya biar bisa nyerang balik,” balas Jaka lagi. “Kang Dudung juga di pihak kita kayaknya.”Beno mengangguk pelan, wajahnya benar-benar serius. “Jadi, apa rencana lo sekarang?”“Gini Ben, gue punya ide.” Jaka mendekat. “Gue butuh bantuan lo.”“Bantuan apa, Ka?”“Bu Lilis, itu tiket kita Ben,” bisik Jaka.“Bu Lilis?” Beno mengernyit mendengar Jaka menyebut nama istri Pak Kades tersebut.“Iya, gua mau lo ketemu sama Bu Lilis, bilang sama dia. Nanti malam gue tunggu dia di sungai perbatasan desa.”“H
閱讀更多