Pagi harinya, Sari langsung menceritakan mimpi Jaka itu pada ayahnya.“Hamparan Edelweis?” Sigrid mengernyit mendengar lokasi itu.“Iya, Ayah. Apa ayah tau di mana tempatnya?”Sigrid menggeleng. “Tidak, di sekitaran desa kita tidak ada tempat seperti itu.”“Jadi, itu tempat di luar?” tanya Sari lagi.“Iya, tempat itu kemungkinan besar di luar desa kita. Dia harus mencarinya sendiri.”Sari tertegun. “Ta-tapi, masa Jaka harus pergi sekarang?”“Siapa bilang, mimpi itu hanyalah visi, tidak mesti dia pergi sekarang juga. Dia baru boleh keluar dari desa ini setelah kamu hamil, Sari,” jawab Sigrid menjelaskan.“Ta-tapi…” Sari tampak gelisah, takut kalung itu di ambil orang lain. “Bagaimana kalau misalnya orang lain yang terlebih dulu menemukan kalung itu, Yah?”Sigrid menggeleng sambil tersenyum. “Tidak mungkin Sari,” jawabnya santai. Dia memegang bahu putrinya. “Visi tentang benda-benda kayangan itu hanya muncul untuk orang yang mewarisi gelang induk.”Sari mengernyit, tiga benda kayangan i
続きを読む