Beno hampir saja pingsan di tempat melihat hal tersebut. Tidak salah lagi, itu adalah jasad Maman, pemandu yang membawa mereka ke sini.Dengan jantung yang berdebar hebat, Jaka langsung mendekati jasad tersebut. Matanya membelalak, jakunnya naik turun menelan ludah.“Gila… ulah siapa ini?” batinnya gelisah.Beno membeku, mematung di tempat, lututnya seketika lemas tak berdaya.Sementara Jaka, melihat jasad Maman dengan seksama, ia melihat beberapa lebam, luka sayat, dan beberapa luka lainnya.“Ben, sini cepat!” panggil Jaka.Dengan langkah gemetar, Beno mendekat, ia menunduk sambil bergidik ngeri melihat jasad tanpa kepala tersebut.“Kayaknya Kang Maman sama yang lainnya di serang, Ben,” kata Jaka pelan. “Tubuhnya luka-luka, banyak memar, kayaknya sempat terjadi perkelahian di sini.”Beno hanya diam, lidahnya kelu, tidak ada kata yang keluar dari mulutnya.Hujan turun kian deras, membuat suasana semakin mencekam.“Ka, gimana ini Ka?” tanya Beno yang akhirnya berani bersuara.“Ya mau g
Read more