Semua mata seketika tertuju pada Jaka. Atmosfer di selasar tebing yang semula diliputi kebingungan kini berubah menjadi tegang dan penuh kepastian. Di bawah naungan bayang-bayang Suki yang berdiri mengintimidasi, Jaka melangkah satu garis di depan Isara, memposisikan dirinya sebagai garda terdepan sang Ratu. Jaka menatap Saka, Mangkubumi, lalu beralih pada Isara yang berdiri anggun di sampingnya. Pendar keemasan dari tiga pusaka di tubuhnya berdenyut halus, memancarkan wibawa kepemimpinan yang tak terbantahkan. “Kita tidak akan membuang waktu,” ujar Jaka dengan suara dalam yang mantap. “Patih pengkhianat itu pasti merasa berada di atas angin sekarang. Dia mengira Isara sudah hancur dan rombongan kita kocar-kacir di pedalaman. Kita manfaatkan kesombongan mereka.” Mangkubumi melangkah maju, membetulkan letak selendangnya seraya bertanya, “Tuan Jaka, pasukan pengawal istana yang membelot jumlahnya ratusan, belum lagi prajurit Garok yang jumlahnya juga ratusan, bahkan hampir ribuan. Ba
اقرأ المزيد