Setelah semuanya selesai, Jaka akhirnya pulang dari sana. Dia kembali menumpang motor Kang Dudung. Hari sudah menjelang malam saat mereka akhirnya tiba kembali di depan kontrakan Jaka. “Makasih banyak, Kang,” kata Jaka sopan. “Iya sama-sama,” jawab Kang Dudung, ia tidak langsung pulang. Lelaki itu duduk di atas motor sambil menyalakan rokok. “Rokok, Ka?” tawarnya. “Boleh Kang, hehe.” Jaka mengambil sebatang lalu ikut merokok bersama di sana. “Kayaknya ada yang aneh di desa kita deh, Ka,” ujar Kang Dudung membuka obrolan. Jaka mengernyit. “Aneh kenapa, Kang?” “Sekitar empat malam yang lalu, pas saya lagi bantu ronda rutin keliling desa sama Tarjo, saya enggak sengaja liat beberapa orang aneh mencurigakan masuk desa.” Kening Jaka langsung mengkerut. “Orang aneh?” “Iya, gelagatnya aneh, mereka jalan kaki, masuk dari area sawah milik Pak Kades, bukan dari jalan utama,” kata Kang Dudung lagi menjelaskan. “Kami kira maling kan, jadi kami kejar. Tapi…” Kang Dudung meng
Read more