Beatrice perlahan melepaskan sisa pakaiannya yang sudah robek, membiarkan jatuh begitu saja ke lantai. Ia melangkah mendekati ranjang, lalu merebahkan tubuhnya di atas sprei satin yang dingin, menatap Wisnu dengan pandangan sayu yang mengundang. "Ayo, Sayang ... buat aku lupa sama semua hal buruk yang aku alami," bisiknya dengan suara mendayu, merentangkan kedua tangannya seolah menyerahkan seluruh dirinya. Wisnu tidak bisa lagi menahan diri. Ego pria paruh bayanya bergejolak melihat kepasrahan wanita di depannya. Ia melepaskan kimono tidurnya, lalu merangkak naik ke atas ranjang, langsung mengurung tubuh Beatrice di bawah dekapannya. Beatrice membuka lebar kedua pahanya, memperlihatkan goa miliknya yang merah membengkak dan basah. Tanpa membuang waktu, Wisnu menyatukan tubuh mereka, bergerak menuntut dengan ritme yang awalnya lambat, kemudian berubah menjadi cepat dan bertenaga. "Ah ... Paman ...," Beatrice melenguh, melingkarkan kakinya di pinggang pria itu untuk memberikan
続きを読む