"Ah ... Paman ahh ... terus ... hngh," desah Beatrice tertahan, matanya terpejam erat saat merasakan dominasi Wisnu yang tanpa ampun. Jemarinya mencengkeram tepi meja hitam kokoh itu semakin kuat, mencari tumpuan untuk tubuhnya yang mulai gemetar. Di balik ruangan kerja Wisnu yang terkunci, napas Beatrice semakin memburu, berkejaran dengan detak jantungnya yang berdentum liar. Cengkeraman tangan Wisnu di pinggulnya terasa begitu kokoh, mengunci pergerakannya di atas meja kerja yang dingin. Wisnu sengaja memperdalam tekanan miliknya ke dalam liang intim Beatrice yang sudah amat basah, membuat Beatrice mendesah keenakan lebih keras. "Kau menyukainya, bukan? Ini harga yang setara untuk posisi yang kau inginkan di perusahaan The Raden," bisik Wisnu dengan suara baritonnya yang berat. "Sialan ... milikmu benar-benar brutal, Ahh!" umpat Beatrice pelan di antara napasnya yang tersengal, pinggulnya bergerak mengikuti ritme yang ditentukan oleh Wisnu. "Kendalikan suaramu, Beatrice. A
Read more