Wisnu menatap kertas-kertas di atas meja dengan napas memburu. Kertas perceraian, laporan pengalihan aset, dan bukti-bukti kejahatan penggelapan dana perusahaan, terpampang nyata. Di sebelahnya, Sadewa dan Beatrice hanya bisa terpaku kaku. Sadewa yang tadi berlagak jagoan membela Beatrice di hadapan ayahnya, kini sadar bahwa takhta dan harta yang baru saja ia rebut ... bisa saja kembali direbut oleh Juna. Juna menyunggingkan senyum kemenangan dari atas kursi rodanya, menatap Wisnu, Sadewa, dan Beatrice yang kini terdesak tanpa jalan keluar. Lelucon macam apa ini?!" jerit Sadewa, suaranya melengking penuh kemurkaan. Wajahnya merah padam, urat-urat di lehernya menegang saat ia maju beberapa langkah, menunjuk tepat ke muka Juna. "Jangan mimpi kau bisa mengambil apa pun lagi dariku! Sampai kapan pun, rumah dan perusahaan ini milikku! Aku sendiri yang akan memastikan kali ini kau benar-benar membusuk di tanah!" "Kau mau vercerai denganku?! Jangan mimpi, Citra!" teriak Wisnu tak kala
続きを読む