FAZER LOGIN“Setelah itu, kemana Bunda dan … ayah pergi?” Bintang semakin penasaran dengan cerita Anne. “Ke stasiun, Bin. Bunda dan … Ayah ke stasiun. Dia membawa Bunda ke suatu tempat yang jauh dari jangkauan orang-orang yang mengejar kami,” jelas Anne. ““Orang-orang yang mengejar kami”?” tanya Bintang mengulang kata-kata Anne. “Berarti, Ayah tahu, siapa mereka?” Anne bergeming. Tatapannya mendadak kosong, menerawang jauh menembus kepulan kabut masa lalu yang kembali menyesakkan dada. Suasana di kebun bunga belakang mendadak terasa hening, hanya menyisakan desau angin sore yang menerpa wajah mereka berdua. Bintang berhenti sejenak untuk bertanya. Ia tidak ingin mendesak Anne. Sebagai seorang prajurit terlatih, ia tahu kapan harus menekan dan kapan harus memberi ruang. Bintang juga membiarkan ibu mertuanya untuk menstabilkan emosi yang sempat naik-turun akibat mengingat kembali memori menyakitkan saat bersama ayah mertuanya dulu. Setelah beberapa saat, Anne pun mengembuskan napas pan
“Dua puluh satu tahun yang lalu, saat mengetahui kalau Bunda mengandung, Arjuna Abrisam adalah orang yang paling bahagia saat itu. Siang dan malam dia jagain Bunda. Belikan makanan apapun yang Bunda pengen. Ajak Bunda jalan-jalan di sela-sela jam dinasnya. Bunda selalu merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia ini karena memiliki dia.”Anne tersenyum getir, seolah bayangan masa lalu yang indah itu sedang menari-nari di atas kelopak bunga Aster di depannya. Matanya mulai berkaca-kaca menahan rindu yang teramat sangat.Bintang mendengarkan dengan saksama. Setiap kata yang keluar dari bibir ibu mertuanya diserapnya baik-baik, menyusun kepingan-kepingan informasi tentang sosok perwira legendaris yang kini takdirnya bertautan erat dengan dirinya. “Sayangnya, kebahagiaan itu hanya sesaat Bunda rasakan. Tepat saat usia kandungan Bunda sembilan bulan, badai itu pun datang tanpa Bunda duga sama sekali. Tengah malam, Arjuna Abrisam, ayahnya Anya, dia pulang dengan berlumuran darah. Peru
Anya langsung bangkit dari posisinya, menatap suaminya dengan mata bulat yang membelalak panik.“Om, mana yang sakit? Perutnya kenapa? Apa efek obatnya, atau lukanya kegesek pas meluk aku tadi?!” cecar Anya beruntun, insting keperawatannya langsung keluar. Wajahnya yang semula sembab kini berubah pucat pasi. “Sini, biar aku cek dulu ya?” Bintang masih memegangi perutnya, tapi ringisan di wajah tegasnya perlahan memudar, berganti dengan senyum canggung yang dipaksakan.Detik berikutnya, terdengar suara keruyukan yang cukup jelas dari perutnya.Kruuukkk .…Kamar yang semula tegang itu mendadak hening. Anya mengerjapkan matanya beberapa kali, menatap perut Bintang lalu beralih menatap wajah suaminya yang kini mulai salah tingkah.“Om ...?” panggil Anya, nadanya berubah menyelidik.Bintang berdeham pelan, mencoba menyelamatkan harga dirinya sebagai seorang Mayor yang baru saja ketahuan merana karena urusan cacing perut. “Itu ... perut saya sepertinya ….?” ucap Bintang menggantung, su
Bintang yang menyadari perubahan raut wajah istrinya langsung membawa jemarinya untuk menyelipkan anak rambut Anya ke belakang telinga. Ia bisa merasakan embusan napas berat yang keluar dari celah bibir perempuan itu. “Kenapa? Kamu keberatan kalau harus tinggal di rumah bersama Mama dan Bunda?” tanya Bintang lembut, mencoba mengulik isi hati Anya. Anya menggeleng pelan. Ia menundukkan wajahnya, menatap jemari Bintang yang kini bertautan dengan jemarinya di atas kasur. “Nggak gitu, Om. Aku senang kok … bisa bareng Mama sama Bunda. Cuma ....” Anya menggantung kalimatnya sejenak, beralih menatap dada kiri Bintang dengan tatapan cemas. “Om kan baru aja keluar dari rumah sakit. Lukanya bahkan belum sembuh total. Masa udah harus langsung ikut Latihan. Apa nggak bisa didelegasikan ke perwira yang lain, Om?” Mendengar kekhawatiran yang tulus itu, Bintang menghela napas panjang. Ia membawa tubuh Anya kembali merapat, menyandarkan dagunya di puncak kepala istrinya. “Latgabma ini age
“Aaahh … akhirnya,” seru Bintang bahagia. Ia sudah berbaring di atas ranjang tempat tidurnya. Anya hanya melirik dan tersenyum sembari terus merapikan barang-barang bawaan mereka selama di rumah sakit. “Anya …,” panggil Bintang tiba-tiba. “Hm, iya, Om. Ada apa?” sahut Anya tanpa menoleh. “Saya kangen,” ucap Sang Mayor jujur. Gerakan tangan Anya spontan berhenti dan membeku sejenak. Ia lalu menoleh perlahan dan menatap Bintang dengan senyum jengahnya. Tanpa kata-kata Bintang pun menepuk kasur dua kali, kode agar Anya mendekat dan duduk di sampingnya. Mengerti, Anya pun langsung bangkit dan melangkah mendekati suaminya itu. “Kok kangen sih, Om. Aku kan selalu ada di dekat Om. Nggak pernah ninggalin Om Bintang.” Dengan gerakan tegas tapi tidak kasar, Bintang pun menarik Anya merapat ke tubuhnya hingga wajah mereka nyaris tak berjarak. “Saya kangen belaian istri saya, Anya. Selama di rumah sakit, saya tidak bisa menyentuhmu, peluk kamu … cium kamu,” jawab Bintang juj
Setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit, akhirnya Bintang diizinkan pulang. Kepulangan Sang Mayor disambut dengan pengamanan yang jauh lebih ketat dari biasanya. Meski Bintang bersikeras bahwa dirinya sudah pulih total dan bisa berjalan sendiri, Langit dan Kapten Bima tetap siaga mendampingi di sisi kanan dan kirinya sejak keluar dari pintu lobi rumah sakit Kasih Ibu.Anya berjalan di sebelah Bintang, membawa tas berisi sisa perlengkapan selama rawat inap. Sorot matanya tak lagi sekeruh beberapa hari lalu, namun gurat waspada kini jelas tercetak di wajah ayunya.Rahasia besar yang pecah malam itu mengubah kepercayaan Anya sepenuhnya. Setiap sudut koridor rumah sakit dan setiap pasang mata berseragam loreng kini terasa seperti ancaman yang mengerikan. “Kenapa harus dikawal sebanyak ini, Bim?” bisik Bintang pada Bima.“Ini sesuai proses, Mayor. Sudah, kamu ikuti saja,” jawab Bima dengan nada yang sama berisiknya. “Iya, tapi ini bisa memancing atensi semua orang. Kamu lihat tuh,
Pagi Senin, seperti biasa. Anya dan Bintang bangun pagi-pagi sekali. Mereka memulai aktivitas dengan tugas masing-masing. Anya menyiapkan sarapan, sementara sang Mayor menyiram tanaman dan menyembur pakaian. Setelah sholat subuh berjamaah—pukul tujuh pagi—mereka sudah bertemu di meja makan. Untuk
“Berdiri tegak di sana,” perintah Bintang kepada Anya. “Heuh?” Anya bingung mendengarnya. Bagaimana tidak, baru saja mereka tiba di pantai, tapi Bintang sudah menyuruhnya berdiri dengan sikap siap sempurna. “Mau ngapain sih Om? Mau foto aku?” tebaknya. Bukannya menjawab pertanyaan Anya, Bintang
Pukul tiga dini hari, mobil Bintang baru saja berhenti di depan unit asramanya. Ia langsung turun dan menekan tombol kunci. Kemudian berjalan ke arah pintu dan membukanya dengan kunci duplikat. Saat pintu sudah terbuka, pemandangan pertama yang ia lihat adalah Anya. Perempuan itu tampak tertidur d
Usai puas melampiaskan rasa cemburunya dengan cara yang anti mainstream, Bintang pun kembali melajukan mobilnya dan langsung menuju ke rumah sakit tentara. Tiba di sana, ia turun sementara Anya menunggu di mobil. Tak berselang lama, pria bertubuh tinggi dengan bobot proporsional itu sudah kembali







