**BAB 16** --- Malam itu Mbah Suro tidak minum teh. Bagas memperhatikan ini sejak awal dan kekuatan mentalnya langsung memproses: tidak ada cangkir, tidak ada asap, tidak ada bunyi seruput yang biasanya mengisi jeda percakapan. Ini pertanda sesuatu yang lebih serius dari biasanya. "Mbah tidak minum teh," kata Bagas. "Saya tahu." "Ini pertama kalinya." "Saya tahu itu juga." Dewi Sekar duduk di sudut dengan buku catatannya tertutup di pangkuannya. Ia tidak menulis. Ini pertanda kedua. Bagas menatap telapak tangan kirinya. Lubang hitam kecil Jalan Iblis itu masih diam, tidak berdenyut, tidak bergerak, tapi keberadaannya terasa seperti tamu yang datang tanpa diundang dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan pergi. "Jadi," kata Bagas, "Mbah mau cerita apa yang sebenarnya ada di tangan saya?" "Bukan hanya di tangan kamu." Mbah Suro menatap titik hitam di mata kiri Bagas. "Di mata kamu juga. Dan di dalam diri kamu secara keseluruhan." "Itu terdengar seperti pembukaan pidato yang pan
Read more