Bagas tidak langsung menjawab tuntutan orang itu. Ia menatapnya, lama, dengan ekspresi yang sangat serius, sampai orang itu mulai tidak nyaman dengan tatapannya. Lurah Kandang di sudut menahan nafas. "Kamu tahu tidak," kata Bagas akhirnya, "cara kamu berdiri itu. Punggung tegak, bahu rata, pedang di tangan kanan dengan pegangan yang pas." Orang itu mengerutkan dahi. "Itu bukan postur orang yang dilatih untuk membunuh." Bagas menatapnya dengan sangat tulus. "Itu postur orang yang dilatih untuk melindungi." Jeda. "Sayang sekali yang kamu lindungi bukan orang yang tepat malam ini." Orang itu tidak bergerak, tidak menyerang, hanya menatap Bagas dengan ekspresi yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya, sesuatu yang tersentuh tapi tidak mau mengakuinya. Tangannya di gagang pedang sedikit tidak sekencang tadi. Hanya sedetik. Tapi sedetik cukup. "Kibasan Malas." Bukan ke orangnya. Tumpukan jerami kering di sisi kiri gudang beterbangan sekaligus, bukan seperti an
Read more